INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling
Not a member yet
    358 research outputs found

    Persepsi Remaja terhadap Keberfungsian Keluarga Ditinjau dari Keluarga Utuh dan Bercerai di Tangerang Selatan

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi keberfungsian keluarga di kalangan remaja dari keluarga utuh dan keluarga bercerai di Tangerang Selatan. Sebanyak 217 remaja berusia 15-18 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini, dengan 158 remaja berasal dari keluarga utuh dan 59 remaja berasal dari keluarga bercerai. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, dan instrumen Family Assessment Device (FAD) digunakan untuk pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada keberfungsian keluarga yang dirasakan antara remaja dari keluarga utuh dan remaja dari keluarga bercerai di Tangerang Selatan, dengan tingkat signifikansi p = 0,022 < 0,05. Oleh karena itu, temuan ini menunjukkan bahwa struktur keluarga, baik pada keluarga utuh maupun yang bercerai, dapat mempengaruhi persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti pentingnya memahami bagaimana struktur keluarga berdampak pada pandangan remaja terhadap keberfungsian keluarga mereka

    Positive Body Image and Identity Formation among Senior Secondary School Adolescents in Ibadan South-East Local Government Area, Oyo State

    Get PDF
    Adolescence is a critical developmental stage characterised by rapid physical, psychological, and social changes. For Nigerian adolescents, this period is further complicated by the interplay of cultural expectations, peer influence, and globalised media, which often impose conflicting ideals of appearance and identity. This study investigated the relationship between positive body image and identity formation among senior secondary school adolescents in Ibadan South-East Local Government Area, Oyo State. A correlational research design was employed, with a sample of 200 students drawn randomly from four public schools. Data were collected using the Positive Body Image among Adolescents Scale (PBIAS) and the Functions of Identity Scale (FIS). Descriptive statistics summarised adolescents’ responses, while Pearson’s Product-Moment Correlation tested the hypothesis at the 0.05 significance level. Findings revealed a generally high level of positive body image, with the strongest endorsements for self-acceptance and body respect, although coping with media-driven body ideals was weaker. Identity formation was reported at a very high level, with adolescents showing strong self-acceptance, value alignment, and parental influence, though many expressed uncertainty about future direction and life goals. The correlation results showed a significant moderate-to-strong positive relationship between positive body image and identity formation (r = .597, p < .01), leading to the rejection of the null hypothesis. The study concludes that positive body image enhances adolescents’ ability to build coherent identities, while cultural and media influences interact to shape outcomes.&nbsp

    EFEKTIVITAS BIMBINGAN KELOMPOK MENGGUNAKAN TEKNIK STORYTELLING UNTUK MENINGKATKAN EMPATI PADA  SISWA SD NEGERI 2 PRINGGAJURANG

    Get PDF
    This study aims to examine the effectiveness of group guidance services using storytelling techniques in enhancing the empathy of sixth grade elementary school students in East Lombok. The research employed a quantitative approach with a quasi-experimental design using pre-test and post-test measurements on ten randomly selected participants. The instrument used was an empathy scale covering four dimensions, while the intervention was carried out through story reading and paired retelling activities. Data were analyzed using comparative tests to determine changes in empathy levels after the intervention. The results indicate a significant increase in empathy with an average score improvement of twelve point three. The greatest increase occurred in the perspective taking dimension, followed by empathic concern, imagination, and personal distress. These findings demonstrate that storytelling is an effective guidance strategy for developing students’ ability to understand the feelings of others.Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas layanan bimbingan kelompok berbasis teknik storytelling dalam meningkatkan empati siswa kelas enam sekolah dasar di Lombok Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu melalui pengukuran sebelum dan sesudah intervensi pada sepuluh siswa yang dipilih secara acak. Instrumen yang digunakan berupa skala empati yang mencakup empat dimensi, sementara intervensi dilaksanakan melalui pembacaan cerita dan kegiatan menceritakan kembali secara berpasangan. Data dianalisis menggunakan uji beda untuk mengetahui perubahan tingkat empati setelah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan empati yang signifikan dengan rata-rata kenaikan skor sebesar dua belas koma tiga poin. Peningkatan terbesar terjadi pada aspek pengambilan perspektif, disusul perhatian empatik, imajinasi, dan tekanan personal. Temuan ini menunjukkan bahwa storytelling efektif sebagai strategi bimbingan untuk mengembangkan kemampuan memahami perasaan orang lain pada siswa sekolah dasar

    KONSELING KARIR DI ERA REMOTE WORK: TANTANGAN DAN STRATEGI ADAPTASI KONSELOR DALAM MEMFASILITASI PENGEMBANGAN KARIR

    Get PDF
    The transformation of the workplace toward remote work has fundamentally altered the career landscape and the need for career counseling services. These changes have significant implications for career counseling practice. This article examines the challenges faced by career counselors in the era of remote work and the adaptation strategies that can be implemented to facilitate clients' career development effectively. A literature review approach indicates that the challenges revolve around clients' social isolation, blurred work-life boundaries, unstructured career management, and the need for technological competency. Proposed adaptation strategies include developing counselors' digital competencies, integrating technology into counseling services, a holistic approach to career well-being, collaboration with digital stakeholders, and the use of approaches that highlight career flexibility and resilience. The study findings suggest that career counselors need to undertake a paradigm shift from traditional models to a more flexible and responsive approach to the dynamics of remote work to remain relevant and effective in facilitating career development in the digital era.Transformasi dunia kerja menuju remote work telah mengubah lanskap karir dan kebutuhan layanan konseling karir secara fundamental. Perubahan ini membawa implikasi signifikan terhadap praktik konseling karir. Artikel ini mengkaji tantangan yang dihadapi konselor karir dalam era remote work serta strategi adaptasi yang dapat diimplementasikan untuk memfasilitasi pengembangan karir klien secara efektif. Melalui pendekatan kajian literatur menunjukkan bahwa tantangan berkisar pada isolasi sosial klien, kaburnya batas kerja-hidup (work-life boundary), manajemen karir yang tidak terstruktur, dan perlunya kompetensi teknologi. Strategi adaptasi yang diusulkan meliputi pengembangan kompetensi digital konselor, integrasi teknologi dalam layanan konseling, pendekatan holistik terhadap kesejahteraan karir, kolaborasi dengan stakeholder digital, dan penggunaan pendekatan yang menyoroti fleksibilitas dan resiliensi karir. Hasil kajian menunjukkan bahwa konselor karir perlu melakukan transformasi paradigma dari model tradisional menuju pendekatan yang lebih fleksibel dan responsif terhadap dinamika remote work untuk tetap relevan dan efektif dalam memfasilitasi pengembangan karir di era digital

    FENOMENA MODERN FATHERHOOD DAN IMPLIKASINYA TERHADAP MASALAH FATHERLESS DI INDONESIA: KAJIAN LITERATUR DALAM PERSPEKTIF KONSELING KELUARGA

    Get PDF
    Global social and economic changes have contributed to the transformation of fatherhood roles in many developed countries, giving rise to the Modern Fatherhood phenomenon characterized by fathers’ active involvement in childcare and emotional bonding. This model contrasts sharply with the condition of fatherlessness in Indonesia, where children frequently experience the absence of fathers physically or emotionally due to patriarchal norms, rigid gender roles, and limited work–family support. This study employs an analytical–comparative literature review to examine Modern Fatherhood as a representation of contemporary father involvement and compare it with Indonesia’s fatherless reality. The findings indicate that father engagement plays a crucial role in children’s emotional security, social development, and overall well-being. However, Indonesian fathers often face structural and cultural barriers that restrict active participation in childcare. Therefore, family counseling practices in Indonesia must adopt a father-inclusive approach that strengthens both economic and emotional caregiving roles. Such an approach can support healthier family dynamics and reduce the long-term risks associated with fatherlessness.Perubahan sosial dan ekonomi global telah mendorong transformasi peran ayah di berbagai negara maju, melahirkan konsep Modern Fatherhood yang menekankan keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan dan hubungan emosional dengan anak. Fenomena ini sangat berbeda dengan kondisi fatherless di Indonesia, di mana banyak anak mengalami ketidakhadiran ayah secara fisik maupun emosional akibat nilai patriarki, pembagian peran gender yang kaku, serta kebijakan kerja yang kurang mendukung keseimbangan keluarga. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur analitis–komparatif untuk menelaah Modern Fatherhood sebagai representasi peran ayah masa kini dan membandingkannya dengan realitas fatherless di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan emosi, sosial, dan kesejahteraan psikologis anak. Namun, partisipasi ayah di Indonesia masih terhambat oleh faktor budaya dan struktural. Oleh karena itu, praktik konseling keluarga perlu mengembangkan pendekatan father-inclusive yang tidak hanya menekankan fungsi ekonomi ayah, tetapi juga menguatkan peran emosional dan pengasuhan sebagai bagian integral dari sistem keluarga

    Bimbingan dan Konseling untuk Perilaku Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa

    Get PDF
    Prokrastinasi akademik merupakan tantangan signifikan dalam proses pembelajaran mahasiswa, yang dapat berdampak negatif pada aktivitas akademik dan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami tingkat prokrastinasi akademik yang dialami oleh mahasiswa Program Bimbingan dan Konseling. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi aspek-aspek perilaku prokrastinasi yang mungkin muncul pada mahasiswa, serta untuk mengatasi dan menangani prokrastinasi akademik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif melalui survei deskriptif, melibatkan 209 mahasiswa dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, angkatan 2020, 2021, dan 2022. Pengukuran tingkat prokrastinasi akademik mencakup aspek gangguan perhatian, keyakinan psikologis terhadap kemampuan, inisiatif personal, keterampilan mengatur waktu, faktor sosial prokrastinasi, dan kemalasan. Skala yang digunakan untuk mengukur kecenderungan prokrastinasi akademik adalah penskalaan model Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, tingkat kecenderungan prokrastinasi akademik mahasiswa Bimbingan dan Konseling di Universitas Pendidikan Indonesia, yang diwakili oleh 209 mahasiswa, berada pada kategori sedang. Mayoritas mahasiswa, sebanyak 90% atau 188 orang, memiliki tingkat kecenderungan prokrastinasi akademik pada kategori sedang. Sedangkan, 2% atau 5 mahasiswa menunjukkan perilaku prokrastinasi akademik yang signifikan pada tingkat kecenderungan tinggi, dan 8% atau 16 mahasiswa menunjukkan perilaku prokrastinasi akademik yang minimal pada tingkat kecenderungan rendah

    Analisis Perilaku Membolos dan Penanganannya (Studi Kasus Peserta Didik): Studi Kasus Peserta Didik di SMAN 9 Enrekang

    No full text
    This study aims to analyze truancy behavior among students at SMAN 9 Enrekang and examine the management efforts implemented by the school to reduce and prevent such behavior. This type of research uses qualitative with a case study approach. Data collection techniques are by means of observation, interviews, and documentation. The results of the study show 1). Leaving the school premises before the end of the lesson without the teacher's knowledge and without a clear reason, truancy behavior is carried out solely because of a lack of motivation to learn, characterized by drowsiness and boredom while studying. 2). Absent from school without explanation, it was found that the trigger for this behavior was waking up late causing delays in entering school so that students no longer wanted to go to school even though they still went to school even though they did not attend class. (3) The impact of truancy in terms of academics can cause failure to move up a class due to low grades, in terms of social aspects, namely pushing the subject into more negative friendships such as committing additional violations, namely smoking in hangouts while truant and playing online games (4) Efforts to handle truancy behavior by providing counseling using the Cognitive Behavior Therapy approach, cognitive reconstruction techniques.Analisis Perilaku Membolos dan Penangannya (Study Kasus Peserta Didik SMA Negeri 9 Enrekang”). Pokok Masalah penelitian ini adalah (1) Bagainman gambaran perilaku membolos?, (2) Faktor apa saja yang menyebebkan perilaku membolos?, (3) Bagaiamana dampak perilaku membolos?, (4) Bagaimana upaya penanganan perilaku membolos?. Jenis penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumetasi. Hasil penelitian menunjukkan 1). Meninggalkan lokasi sekolah sebelum mata pelajarann usai tanpa sepengatuan guru dan tampa alasan yang jelas, perilaku membolos dilakukan semata-mata karena kurangnya motivasi belajar ditandai dengan rasa mengantuk dan rasa bosan saat belajar. 2). Tidak hadir di sekolah tanpa keterangan ditemukan bahwa pemicu perilaku ini adalah bangun terlambat menybebkan keterlambatan masuk sekolah sehingga siswa sudah tidak ingin masuk sekolah meskipun tetap beraanngkat sekolah meskipun tidak masuk belajar. (3) Dampak membolos dari segi akademik dapat menyebbebkan tidak naik keelas akibat nilai yang rendah, segi sosial yakni mendorong subjek kedalam pertemanan yang lebih negatif seperti melakukan pelanggaran tambahaan yakni merokok di tempat tongkrongan saat mebolos dan bermain game online (4) Upaya penanganan perilaku membolos dengan memberikan konseling menggunakan pendekatan Cognitive Behavior therapy tehnik rekonstruksi cognitive

    Strategi Coping Stress terhadap Perilaku Self Injury (Studi Fenomenologi pada siswa MAN 4 Bojonegoro)

    Get PDF
    Adapaun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah (1) mengetahui faktor-faktor self-injury pada siswa MAN 4 Bojonegoro (2) Mengetahui upaya yang dilakukan untuk mengurangi sebuah perilaku self-injury dengan strategi coping stress pada siswa MAN 4 Bojonegoro. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian fenomenologi terhadap siswa pelaku self-injury pada siswa MAN 4 Bojonegoro. Narasumber dalam penelitian ini adalah siswa yang memiliki perilaku self-injury dan memiliki upaya coping stress pada siswa MAN 4 Bojonegoro.. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data pada penelitian ini adalah sumber primer siswa berumur 16 Tahun bernama SN dan informan pendukung melibatkan orang terdekat dari narasumber, bernama NAM. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Faktor yang menjadikan narasumber melakukan perilaku self-injury adalah permasalahan percintaan, Faktor kedua berupa disharmonisasi keluarga SN. Disharmonisasi keluarga. (2) Upaya coping stress yang dilakukan adalah bercerita dengan seseorang. SN bercerita dengan NAM karena NAM menjadi tempat ternyaman bagi SN. Koping yang kedua dengan melampiaskan kepada boneka. SN sering memeluk dan memukul boneka untuk mengurangi stres yang dialami SN

    Pengembangan Perilaku Prososial Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama Labschool Jakarta melalui Program Labschool Student Social Care (Labs Care)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan peran program Labschool Student Social Care (Labs Care) dalam mengembangkan perilaku prososial peserta didik di SMP Labschool Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dokumentasi, wawancara, dan observasi dengan purposive sampling sebagai teknik pengambilan sampelnya, dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perkembangan perilaku yang peserta didik rasakan atas pengalaman menjalani beberapa kegiatan selama program Labs Care. Temuan lain pada program ini adalah pada implementasinya, peneliti masih mendapati hal yang kurang tepat pada program Labs Care. Perilaku prososial yang muncul pada program ini meliputi berbagi, bekerja sama, menyumbang, menolong, jujur, dan berderma. Sedangkan level penalaran moral peserta didik berada pada tingkat self-reflective empathic orientation. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh guru BK untuk menyusun layanan bimbingan dan konseling seperti layanan orientasi dan layanan informasi serta melakukan upaya-upaya lainnya untuk mengelola program Labs Care dan membantu mengembangkan perilaku prososial peserta didik

    Srategi Expressive Supressive untuk Menghadapi Toxic Relationship pada Salah Satu PTN di Jakarta

    Get PDF
    Penelitian ini mengeksplorasi strategi regulasi emosi pada mahasiswa Program Studi S1 Bimbingan dan Konseling di Salah Satu Universitas di Jakarta yang mengalami toxic relationship. Penggalian data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada informan utama. Triangulasi data dilakukan melalui sumber data. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus di mana penggalian data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada partisipan utama. Sedangkan triangulasi data dilakukan dengan informasi data yang didapatkan dari partisipan pendukung. Partisipan penelitian berjumlah 2 (dua) orang yaitu ACV dan F. Partisipan pertama, ACV, menghadapi beragam bentuk toxic relationship, mencakup pemaksaan, penolakan, penghinaan, kekerasan fisik, dan seksual, dengan dampak signifikan pada aspek psikologis, fisik, ekonomi, dan sosial. Partisipan kedua, F, mengalami penolakan dan penghinaan dengan dampak pada aspek psikologis, fisik, dan sosial. Keduanya cenderung menggunakan expressive suppression, tetapi juga terlihat menerapkan cognitive reappraisal. Temuan ini memberikan pemahaman lebih mendalam tentang pengalaman dan strategi regulasi emosi mahasiswa dalam menghadapi situasi toxic relationship. Kecenderungan penggunaan expressive suppression oleh kedua partisipan dalam mengatasi emosi negatif akibat toxic relationship dapat memberikan kenyamanan sementara, tetapi mungkin juga menyebabkan stres psikologis jangka panjang dan memperburuk dampak negatif keterlibatan mereka dalam toxic relationship. Implikasi penelitian mencakup pengembangan program dukungan emosional, pelatihan strategi regulasi emosi, dan pengembangan pribadi untuk mahasiswa Bimbingan dan Konseling yang mengalami toxic relationship. Implikasi ini dapat membantu meningkatkan kemampuan regulasi emosi cognitive reappraisal karena dapat membantu individu untuk mengelola emosinya dengan cara yang lebih adaptif yang melibatkan perubahan pola pikir terhadap situasi yang sulit bagi mahasiswa yang mengalami toxic relationship

    331

    full texts

    358

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇