Buletin Psikologi
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
Consumer Behaviour at the Generic Level: Theoretical Perspectives
Suppose you had unexpectedlyreceived some money, for instance a gift ora lottery prize. What would you like to dowith the money? Why the action you choseto do is of much importance to you? Whatwould you like to achieve by that action?This is a simple illustration of the genericlevel of consumer decision making,henceforth the generic level. It is importantto note that neither money nor unexpec-tedness defines the generic level. Althoughthere are plenty of examples of receiving awindfall, gifts and lottery prizes being twoof them, the generic level also concernssituations when expectations rule. Forexample, people may expect to receive abumper bonus, an extra profit, a taxreturn, gain excessive money from a pre-vious budget, or even to inherit somevaluable assets from their beloved parents.To a certain degree, people in suchsituations must ponder of the differentways to utilize the money. The definingfeatures of the generic level concern themental processes of decision making inwhich an individual is trying to allocate aconsumer resource into different cate-gories of activities (Van Veldhoven &Groenland, 1993)
Interaksi Dinamis Penderita Gangguan Psikotik dengan Keluarga
Gangguan psikotik merupakan masa-lah utama dalam kesehatan mental.Prevalensi gangguan ini adalah sekitarsatu persen (Kaplan & Sadock, 1998; Esan,Ojagbemi, Gureje, 2012 ). Hal ini berartiada sekitar 250 juta penduduk Indonesiamenderita gangguan psikotik. Bagi keluar-ga, masalah gangguan psikotik ini menim-bulkan berbagai macam beban, mulai daribeban finansial yang luar biasa, bebanpsikologis (distress), sampai persoalan stig-ma sosial. Beratnya masalah yang dialamikeluarga semakin bertambah karenapenderita psikotik memerlukan perawatandalam jangka waktu lama
Teori Implisit dalam Proses Belajar, Relasi antar Pribadi dan antar Kelompok
Artikel ini memaparkan tentang teori implisit yang perkembangannya dipelopori oleh Carol S. Dweck dan kolega-koleganya. Teori implisit merupakan teori orang awam yang terdiri atas teori entitas dan inkremental. Teori entitas adalah pandangan yang dimiliki orang awam bahwa sifat bersifat permanen, sedangkan teori inkremental adalah pandangan orang awam bahwa sifat bersifat dinamis dan dapat dikembangkan. Pemaparan teori implisit didasarkan pada hasil-hasil penelitian pada berbagai isu belajar dan relasi-relasi sosial, meliputi penelitian-penelitian tentang peran teori implisit pada performansi dan proses-proses belajar yang mendasarinya, pada relasi antar pribadi dan relasi antar kelompok. Selain itu juga dipaparkan hasil penelitian tentang intervensi untuk mengubah teori implisit yang mendukung perubahan diri dan sosial yang konstruktif. Paparan tentang teori implisit diharapkan memberikan pemahaman tentang peran perbedaan individu dalam proses interaksi sosial
Trauma Experience, Identity, and Narratives
Peristiwa kekerasan dan mengerikan seperti konflik berdarah dan pembunuhan merupakan suaturealitas yang meninggalkan dampak permanen pada korban. Individu yang mengalami traumaakan terus menerus bergumul dengan makna kejadian yang telah dialami bahkan sesudah peristiwatrauma itu sendiri berlalu. Elemen kritikal bagi individu yang mengalami trauma adalah asesmensubyektif mengenai bagaimana mereka merasa terancam dan tak berdaya. Studi tentang traumasosial-psikologi menghadapkan kita pada kondisi mengenai kodrat manusia baik dari sisi terbaikmaupun terburuk.Makalah ini dimulai dengan bahasan mengenai apa yang menjadikan traumadan bagaimana trauma berpengaruh atas hidup individu yang mengalaminya. Sebagai fenomenyang berkaitan erat dengan stres, maka akan bermanfaat bila dampak trauma dipertimbangkan dariaspek diri (self), yang mana konsep self ini sendiri merupakan seperangkat faktor yang kompleks.Trauma akan menggoyangkan dan bahkan mengubah komponen struktural dan fungsional dariself. Dihadapkan dengan pengalaman trauma, individu harus memobilisasikan segenap sumber-sumber yang ada dalam diri maupun dalam lingkungannya sebagai jalan koping dengan situasihidupnya. Pembahasan tentang koping akan mencakup konseptualisasi yang lebih luas daripadaapa yang telah diusulkan oleh Lazarus. Perspektif yang lebih luas ini lebih bermanfaat bagi kitakhususnya bila kita mempelajari naratif sebagai upaya oleh individu untuk memahami danmemaknai apa yang telah menimpa diri mereka. Setiap orang memiliki motif untuk menemukanmakna, nilai-nilai (values) dan tujuan hidup, khususnya setelah mereka mengalami peristiwa yangmengancam kehidupan mereka, semua aspek ini muncul dalam naratif
Program Manajemen Stres Kerja di Perusahaan: sebuah Petunjuk untuk Menerapkannya
Job stress is an iceberg phenomen. A great number of unreported cases and there is no aplicativeprogram in Indonesia cause increase of job stress risk and its negative impact to productivity andcompany image. More complex job demand without appropriate work capacity and inharmonicrelationship in the work place could be the main sources of job stress. This paper is focused on jobstress management program guidance that applicable at company and physiologic stress responseand also in depth theoretical point of job stress management within psycho-physiology aspect. Theaim of this written paper is to increase awareness and understanding of the application of stressmanagement programs among occupational physician, industrial community and industrialpractices. Stress management programs in company not only post about the improvement ofworking conditions also focuses on an individual orientation. On aspects of working conditions, theimprovement should be referring to standard of occupational health and safety (OHS) -management program, while aspect of individual coping skills can be done with the training ofproblem focus technique. Several studies have shown that the program creates respond to the limbicsystem of brain which is integrated with the function of cortex frontals. In addition, it could createrespond to changes body’s homeostasis due to changes in the response of the limbic system to theHPA (hypothalamic - pituitary - adrenal) axis and SAM (symphato - Adreno - medullary) - axis.The effectiveness of the program can be measured by the subjective and objective parameters
Cultural and Linguistic Validation of Foreign Psychometric Instrument -an example of adapting the Suinn-Lew Asian Self-Identity Acculturation (SL-ASIA) Scale, from English to Indonesian Language-
This article is to share best practices of the author in validating foreign research instruments into Indonesian Language. The words of Cultural and Linguistic Validation may not be something new anymore, but the scientific work on the proper cultural and linguistic validation offoreign instruments into Indonesian Lan- guage, in Indonesia, especially psychomet- ric instruments, is probably rarely done.Report of that is very limited, if there is any. Nevertheless, any comments and critics to this article are most welcomed