Jurnal Ekologi, Masyarakat & Sains (EMS)
Not a member yet
111 research outputs found
Sort by
The Institutional Structural Model For Sustainable Maritime Tourism In The Seribu Islands National Parks: An Institutional Analysis
The Seribu Islands National Park, located north of Jakarta, is a primary marine tourism destination with its beautiful coral reefs as the main attraction. However, the increasing number of visitors is negatively impacting the coral reefs. To mitigate these effects, the role of stakeholders is crucial. Six institutions manage this area: the Seribu Islands National Park Authority (BTNKS), the local government, the tourism office, local communities, entrepreneurs, and NGOs. However, these six institutions do not collaborate harmoniously and often experience overlapping functions. This study aims to analyze the appropriate institutional framework for sustainable marine tourism management using interpretative structural modeling (ISM) with data from expert discussions. The results indicate that BTNKS, the Seribu Islands Regency Government, and the Tourism Office play significant roles. The main challenges that must be addressed urgently include weak inter-institutional coordination, ineffective law enforcement, and inadequate knowledge among tour guides. The necessary program involves building coordination and partnerships, as well as developing the capacity of tour guides
Evaluasi Kebijakan Moratorium Pertambangan di Indonesia: Systematic Literature Review
Moratorium pertambangan di Indonesia merupakan kebijakan penting yang diterapkan untuk menghentikan sementara penerbitan izin usaha pertambangan (IUP) di kawasan hutan primer dan lahan gambut. Evaluasi kebijakan ini bertujuan untuk memperbaiki tata kelola sumber daya alam, mengurangi kerusakan lingkungan, serta menekan laju deforestasi. Artikel ini mengkaji efektivitas kebijakan moratorium dengan menggunakan analisis literatur dan bibliometrik melalui perangkat Publish or Perish dan VOSviewer. Pembahasan mencakup evaluasi kebijakan di tingkat pusat dan daerah, serta dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi. Studi kasus di Kalimantan Timur, di mana lebih dari 1.000 IUP dicabut karena tidak memenuhi standar lingkungan, menunjukkan bahwa kebijakan moratorium berhasil mengurangi deforestasi. Namun, tantangan seperti lemahnya penegakan hukum, kolusi, dan ketidaksinkronan kebijakan pusat-daerah masih menjadi hambatan utama dalam pelaksanaannya. Kesimpulannya, kebijakan ini efektif dalam beberapa aspek, namun membutuhkan peningkatan dalam hal transparansi, pengawasan, dan kolaborasi multistakeholder. Rekomendasi untuk perbaikan kebijakan termasuk pengetatan regulasi, peningkatan pengawasan berbasis teknologi, dan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan
Eksplorasi Proses Budidaya Citrus reticulata di Kusuma Agrowisata, Kota Batu
Penelitian ini mengkaji proses budidaya Citrus reticulata di Kusuma Agrowisata, Kota Batu dengan fokus pada tantangan, potensi, dan prospek pengembangan. Melalui pendekatan observasional dan analisis deskriptif kualitatif, studi ini mengidentifikasi proses budidaya Citrus reticulata di dataran tinggi, termasuk adaptasi terhadap perubahan iklim, manajemen hama dan penyakit, serta optimalisasi praktik agronomis. Penelitian ini dilaksanakan di Kusuma Agrowisata, Kota Batu pada bulan Mei 2024. Temuan menunjukkan proses budidaya Citrus reticulata sangat kompleks dan diperlukan perawatan intensif mencakup pemilihan lokasi yang tepat, pengaturan jarak tanam, pemupukan seimbang, pengendalian hama dan penyakit terpadu, serta manajemen air yang efisien. Tantangan perubahan iklim, serangan hama dan penyakit serta kompetisi pasar. Integrasi teknologi pertanian presisi, pengembangan varietas unggul lokal, praktik budidaya ramah lingkungan dan diversifikasi menjadi kunci keberhasilan proses budidaya disertai dengan manajemen budidaya yang melibatkan petani, peneliti, dan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing industri jeruk di Kota Batu
Pengaruh Pupuk Limbah Cair Tahu dari Produsen yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Merah Keriting
Tofu industry waste consists of solid and liquid waste. Tofu liquid waste contains high organic materials such as C, H, O, N, P, and S, which are useful as nutrients for plants. This study was conducted to see the difference in the effectiveness of liquid organic fertilizer from tofu liquid waste, considering that the levels of elements in each production unit are not the same. In this study, the effectiveness test was carried out on curly red chili plants (Capsicum annum L.). The experiment was carried out with a simple randomized block design and the data obtained were analyzed by the F test with a level of 5% if there was a significant difference followed by a 5% BNT test. Based on the analysis of variance, it is known that the growth of curly red chili plants (Capsicum annum L.) including plant height, number of leaves, stem diameter, and leaf diameter is influenced by the provision of fertilizer and the type of waste as the basic material for fertilizer. While the wet weight and length of plant roots are not affected by the provision of fertilizer or the type of waste.Limbah industri tahu terdiri dari limbah padat dan cair. Limbah cair tahu mengandung bahan organik tinggi seperti C, H, O, N, P, dan S, yang bermanfaat sebagai unsur hara bagi tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan efektivitas pupuk organik cair dari limbah cair tahu, mengingat kadar unsur pada setiap unit produksi tidak sama. Dalam penelitian ini uji efektivitas dilakukan pada tanaman cabai merah keriting (Capsicum annum L.) karena tanaman ini mudah beradaptasi dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Percobaan dilakukan dengan rancangan acak kelompok sederhana dan data yang diperoleh dianalisis dengan uji F dengan taraf 5% jika ada perbedaan yang sifnifikan dilanjut dengan uji BNT 5%. Berdasarkan analisis ragam diketahui pertumbuhan tanaman cabai merah keriting (Capsicum annum L.) meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan diameter daun dipengaruhi oleh pemberian pupuk dan jenis limbah sebagai bahan dasar pupuk. Sedangkan berat basah dan panjang akar tanaman tidak dipengaruhi oleh pemberian pupuk maupun jenis limbah
Addressing Plastic Waste in Bali, Indonesia: Learning from Global NGO Initiatives and Government Policies
Global plastic production has exceeded 300 million tons annually since 2014, driven by their durability, versatility, and low cost. However, plastic pollution has become a major issue, particularly affecting freshwater and marine ecosystems. Bali, a popular tourist destination in Indonesia, suffers from severe plastic pollution due to high tourist numbers and inadequate waste management. This review highlights the urgent need to adopt successful NGO models and technologies while implementing comprehensive policies and enhancing public awareness. Addressing not only the consumption phase but also production and post-consumption phases is crucial. Accelerating recycling technology and facility development through the formal sector is essential. A circular economy approach, supported by key stakeholders, is vital for improving plastic waste management in Bali. Effective waste management is crucial for environmental preservation and the long-term sustainability of Bali\u27s tourism industry, which is key to its economic future
Filosofi Gross National Happiness: Suatu Gerakan Ekologi Holistik-Integral dan Akar-Akar Krisis Ekologi di Bhutan
Konsentrasi penelitian ini melihat partisipasi masyarakat Bhutan mewujudkan ekologi ekosistem holistik-integral dan mengali akar-akar krisis ekologi di Bhutan. Bhutan negara di dunia nol karbon karena masyarakat dan pemerintah bekerjasama menjaga lingkungan hidup. Menjaga keutuhan lingkungan hidup, Bhutan menerapkan gerakan filosofis Gross National Happiness. Tujuan gerakan filosofis tersebut untuk mencapai standar kebahagiaan hidup masyarakat Bhutan. Konsep kebahagiaan masyarakat Bhutan bukan pada harta semata melainkan mencakup keseimbangan hidup rohani, materi, pandangan sosial, kesejahteraan ekonomi, psikologis, kesehatan, politik, peduli terhadap lingkungan hidup, budaya, pemerintahan yang baik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berupa analisis kritis atas tulisan terdahulu. Temuan penelitian ini adalah pengaruh pola pikir antroposentrisme, pengaruh teknologi globalisasi, masyarakat urban, ledakan penduduk menjadi persoalan utama masalah lingkungan hijau Bhutan. Epistemologi green school, politik-hukum untuk pengembangan regulasi, kebijakan publik, pedoman perlindungan kesehatan alam dalam konstitusi negara dibutuhkan untuk melestarikan alam semesta. Negara Bhutan menjadi rujukan utama menjaga, melindungi, mewujudkan sumber daya hijau secara holistik-integral.
Pemetaan Penyakit Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Cipatat: Sebuah Pemodelan Spasial
Kejadian kasus tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Cipatat pada tahun 2023 yaitu sebnayak 108 kasus baru. Puskesmas Cipatat tidak melakukan pemetaan pada laporannya jadi tidak diketahui autokorelasi satu daerah dengan daerah lain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya autokorelasi persebaran penyakit menular tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Cipatat dengan pendekatan indeks moran. Jenis penelitian yang digunakan yaitu korelasi. Desain penelitian yang digunakan pada penelitan ini adalah kohort retrospektif dengan pendekatan spasial berbasis Indeks Moran. Teknik sampling yaitu 108 di ambil dari berkas rekam medis periode Januari sampai Desember tahun 2023, jumlah kasus TB tertinggi di desa Cipatat dengan 30 kasus, nilai periode prevalance rate tertinggi di desa Cipatat, distribusi kasus secara spasial dengan klasterisasi 4 level, desa dengan berada level tertinggi yaitu Cipatat dan Citatah, berdasarkan statistik spasial didapatkan bahwa terdapat karakteristik penyakit antar desa dengan nilai p-value 0,00 (pola sebaran klaster). Faktor tersebut masih terjadi karena faktor internal (masyarakat) dan eksternal (lingkungan), penelitian ini dapat di simpulkan bahwa terdapat autokorelasi prevalensi penyakit tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Cipatat tahun 202
Model Pengembangan Spirit Ekologi Integral di Biara Susteran Giri Sonta Ungaran dan Konstribusinya Terhadap Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)
Manusia menjadi salah satu penyebab utama adanya krisis lingkungan yang semakin memprihatinkan. Hal ini diperjelas oleh Paus Fransiskus dengan ensikliknya Laudato Si’ yang menunjukkan paradigma antroposentrisme yang menitikberatkan manusia sebagai pemicu utama dalam kerusakan lingkungan alam. Biara susteran Girisonta sebagai lembaga keagamaan umat Katolik ikutserta untuk bertanggungjawab dalam menghadapi krisis lingkungan. Para romo, suster, dan pihak lainnya berperan aktif dalam mewujudkan program kelestarian lingkungan, meliputi meminimalisir penggunaan plastik, pengelolaan limbah menjadi pupuk, pemanfaatan air bawah tanah, dan reboisasi. Program tersebut selaras dengan model ekologi integral yang dicetuskan oleh Paus Fransiskus dalam menghadapi krisis lingkungan yang berakar pada krisis spiritual manusia. Program tersebut terus dikembangkan sebagai bentuk konstribusi biara susteran Girisonta dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang ditargetkan pada tahun 2030 mendatang.
Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen K3 ISO 45001:2018 Pada Perusahaan Manufaktur Di PT. X
PT. X telah menunjukkan komitmen kuat terhadap penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) sesuai standar ISO 45001:2018, yang dibuktikan dengan sertifikasi pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian penerapan SMK3 di PT. X dengan persyaratan ISO 45001:2018 sebagai persiapan untuk sertifikasi ulang tahun 2026. Metode evaluasi yang digunakan adalah perbandingan antara kondisi aktual perusahaan berdasarkan wawancara, observasi lapangan dengan checklist audit ISO 45001:2018. Hasil evaluasi menunjukkan kesesuaian 100% untuk seluruh klausul ISO 45001:2018. Namun, terdapat temuan observasi pada klausul Kepemimpinan dan Partisipasi Pekerja, serta klausul Perencanaan, yang memerlukan perbaikan seperti peningkatan sosialisasi K3, pengembangan portal K3LH, penyempurnaan kompetensi dan peluang K3 dalam melibatkan partisipasi pekerja yang sesuai dengan latar pendidikan dan kompetensi pekerja, perbaikan IBARD, serta perbaikan birokrasi penyusunan dokumen. Kesimpulannya, PT. X telah berhasil menerapkan SMK3 sesuai standar ISO 45001:2018, sehingga perusahaan telah siap untuk sertifikasi selanjutnya