Jurnal Ekologi, Masyarakat & Sains (EMS)
Not a member yet
    51 research outputs found

    Keterlibatan Perempuan Kamboja dan Indonesia dalam Pembangunan Lingkungan Komoditas Hutan pada Program UN-REDD+

    No full text
    The UN-REDD+ program has the goal of reducing forest emissions and increasing natural carbon stocks by taking into account the issue of gender equality. Gender issues in forest management are a concern both in Cambodia and Indonesia. The results of a review of previous writings show that women's involvement in the REDD+ program has not been carried out optimally. There is no significant difference between the low participation of women in Cambodia and Indonesia. The low involvement of women is shown by the domination of men in forest management institutions, where women are only partially involved or not even involved. Their low participation is due to the low level of women's knowledge, limited access to knowledge and opportunities in meetings and decision-making as well as a hierarchical societal culture and deeply rooted traditional norms regarding the different roles of women and men where the public role must be for men and women in domestic activities. This is a concern as well as a threat to the achievements that will be realized in forest management in the REDD+ program such as efficiency and effectiveness as well as justice.Program UN-REDD+ memiliki tujuan pengurangan emisi hutan serta peningkatan cadangan karbon alami dengan memperhatikan isu  kesetaraan gender. Permasalahan kesetimpangan antara laki-laki dan perempuan dalam pengelolaan hutan menjadi kekhawatiran baik di Kamboja maupun di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana keterlibatan perempuan serta faktor apa saja yang mempengaruhi keterlibatan tersebut. Setelah dilakukan review dari tulisan-tulisan terdahulu didapatkan hasil bahwa partisipasi perempuan di Kamboja maupun di Indonesia tidak memiliki perbedaan yang signifikan, yaitu perempuan hanya terlibat sebagian dalam program REDD+. Belum aktifnya ketelibatan perempuan digambarkan oleh dominasi kaum laki-laki dalam kelembagaan pengelolaan hutan, di mana perempuan hanya terlibat sebagian atau bahkan tidak terlibat. Rendahnya partisipasi mereka dikarenakan tingkat pengetahuan perempuan yang rendah, terbatasnya akses untuk mendapatkan pengetahuan dan kesempatan dalam pertemuan dan pengambilan keputusan serta budaya masyarakat yang hirarkis dan norma tradisional yang mengakar tentang perbedaan peran perempuan dan laki-laki dimana peran publik harus kepada laki-laki dan perempuan dalam kegiatan domestik. Hal ini dapat menjadi perhatian bersama bahwa keadilan bagi kaum perempuan khusunya dalam pembangungan lingkungan komoditas hutan masih perlu untuk ditingkatkan

    Kajian Determinisme Lingkungan terhadap Budaya Pangan di Indonesia

    No full text
    Indonesian people's food has socio-cultural aspects that manifest in food culture. Through a literature review it is known that there is an influence of the natural environment (environmental determinism) on the food culture of the Indonesian people, including food ingredients, food processing, food consumption, to the triad of food. In West Indonesia, Central Indonesia, and East Indonesia, there is the triad of food or a tendency for the same trinity of food ingredients, namely 1) fish which represents meat, 2) coconut which appears in coconut milk oil emulsion, and 3) chili which is presented in chili shape. The tropical and hot equatorial natural environment encourages the use of these three ingredients, both to support the preservation of food and to support the body's resistance.Makanan dapat dilihat tidak hanya sebagai suatu kebutuhan biologis semata, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi budaya manusia. Paradigma dalam memandang makanan sebagai kebudayaan termaktub dalam suatu konsep bernama budaya pangan. Layaknya berbagai macam jenis kebudayaan lain, dinamika budaya pangan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor lingkungan alam. Melalui metode studi pustaka dengan menggunakan perspektif determinisme lingkungan, tulisan ini berusaha mencari tahu bagaimana faktor lingkungan alam mempengaruhi budaya pangan di Indonesia. Dari hasil studi didapati bahwa lingkungan alam Indonesia yang beriklim tropis, bercorak maritim, dan berada di jalur Cincin Api Pasifik membawa pengaruh dalam budaya pangan masyarakat Indonesia berupa trinitas bahan makanan yang digunakan yaitu ikan, cabai, dan kelapa, cara pengolahan makanan yang umumnya mengandalkan rempah, serta praktik konsumsi makanan yang dilakukan dalam rangka adaptasi dengan kondisi lingkungan

    Simbiosis Ekologi Manusia dan Penyelidikan Filosofis: Menelusuri Keseimbangan Berkelanjutan dalam Interaksi Manusia-Lingkungan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengartikulasikan karakter ekologi manusia yang pada dasarnya bersifat filosofis. Ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode verstehen, interpretasi dan hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan karakter ekologi dipahami sebagai kepedulian untuk membantu individu yang terlibat dalam interaksi manusia-lingkungan yang problematis, mengidentifikasi cara-cara untuk mengubah interaksi tersebut supaya tercapai keseimbangan berkelanjutan antara klaim moral dan kebutuhan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karakter ekologi manusia menjelaskan apa yang dimaksud sebagai perpaduan multidisipliner, interdisipliner, transdisipliner, dan bahkan adisipliner dari ilmu-ilmu biologi dan sosial. Melalui pemahaman ini, manusia dapat memberikan panduan secara tindakan terhadap gagasan hidup yang baik tanpa menjadi aktor yang memihak bentuk kehidupan tertentu. Sehingga terjadi harmoni antara pemanfaatan dan pemeliharaan sumberdaya alam dalam menjaga lingkungan hidup

    Sistem Pengolahan dan Pemanfaatan Air Limbah Domestik (Studi Kasus Pada PT. X)

    No full text
    Abstract: PT. X is a nut and bolt industry in Surabaya. PT. X treats their domestic wastewater in the Biofilter WWTP and uses it as water for sprinkling open spaces and green open spaces. This is interesting to learn because it can become material for study in domestic wastewater management systems in the industrial sector. The research method uses a qualitative data analysis approach with primary and secondary data sources. Data was collected through observation, interviews and documentation. The results obtained are the existing conditions of water management, starting from the use of clean water to produce waste water, processing, utilization, and efficiency of waste water utilization. The processing produces recycled water which meets quality standards, so that it can be used as watering open spaces and green open spaces. The efficiency of domestic wastewater utilization reaches 99%, with the benefits obtained, namely being able to reduce the cost of purchasing clean water for irrigation and reduce the volume and load of pollutants in water bodies. Keywords: Biofilter, Domestic Wastewater, WateringPT. X merupakan salah satu industri mur dan baut yang ada di Surabaya. PT. X mengolah air limbah domestiknya di IPAL Biofilter dan memanfaatkannya sebagai air penyiraman ruang terbuka dan ruang terbuka hijau. Hal ini menarik untuk diteliti karena dapat menjadi bahan kajian dalam sistem pengelolaan air limbah domestik dalam sektor industri. Metode penelitian menggunakan pendekatan analisis data kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil yang diperoleh yaitu kondisi eksisting pengelolaan air, mulai dari penggunaan air bersih hingga menghasilkan air limbah, pengolahan, pemanfaatan, dan efisiensi pemanfaatan air limbah. Proses pengolahan menghasilkan air daur ulang (recycle) yang telah memenuhi baku mutu, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai penyiraman ruang terbuka dan ruang terbuka hijau. Efisiensi pemanfaatan air limbah domestik mencapai 99 %, dengan manfaat yang didapatkan yaitu mampu menekan biaya pembelian air bersih untuk penyiraman dan mengurangi volume serta beban pencemar pada badan air

    Dampak Ekologi, Ekonomi dan Sosial Pembangunan Pelabuhan Kaliadem Muara Angke

    No full text
    Ecological-based development is a sustainable development that does not only have an impact on the economy but also pays attention to the environmental conditions of natural resources, the reclamation of the Muara Angke port has an impact on the livelihoods of fishermen around the coast. This study aims to find out how the port of Muara Angke has an impact on the economy of coastal communities not only on the economy but also on environmental aspects. This study uses literature study sourced from documents, journals and articles. The results of this study found that the construction of the Muara Angke port has not fully paid attention to the ecological aspects of this because of environmental conditions such as floods, puddles, and slum settlements in the coastal area of ??Muara Angke.Pembangunan pelabuhan muara angke dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, namun dalam pembangunan perlu diperhatikan juga bagaimana aspek sosial, ekonomi dan ekologinya sehingga pembangunan tersebut dapat berkelanjutan di mana pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang tanpa menghabiskan sumber daya terutama sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dikemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak dari pembangunan pelabuhan muara angke terhadap masyarakat sekitar dari aspek ekonomi, ekologi dan sosial terutama pada masyarakat nelayan. Penelitian ini menggunakan studi literatur melalui jurnal, artikel, maupun dokumen pendukung lainnya yang bersumber dari website dan buku. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa dampak yang terjadi akibat dari reklamasi maupaun revitalisasi bagi masyarakat pelabuhan sudah cukup serius di mana adanya pencemaran air, berkurangnya lahan nelayan dalam penangkapan ikan dan kurangnya pelibatan masyarakat dalam kegiatan di pelabuhan

    Dampak Industri Tahu Rumahan Terhadap Ekonomi, Sosial,  dan Lingkungan: Studi Kasus di Desa Bakung Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar

    No full text
    The tofu home industry operation can discharge environmentally harmful wastewater. The question of this study is to know what are the economic, social and environmental impacts of the tofu home industry. The purpose of this study is to determine the impact of a tofu home industry on the economy, society and the environment. The research is qualitative research using a descriptive method. The information was obtained through observations and interviews with home-based tofu business owners, residents, and various workers. The results showed that the company help the surrounding community to meet their needs by the availability of works. In addition, awareness of the importance of healthy and rich protein foods such as tofu has changed the way of life of local. However, the tofu home industry has a disturbing impact on society and the river water ecosystem, where sometimes it still dumps waste water into the river, which can cause a fishy smell and make the river turn white.Industri tahu rumahan dalam melakukan usahanya dapat menghasilkan limbah cair yang membahayakan kondisi lingkungan. Dalam penelitian ini, yang menjadi pertanyaan adalah  bagaimana dampak ekonomi, sosial dan lingkungan yang ditimbulkan dari adanya industri tahu rumahan. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui dampak dari home industri dari segi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Metode penelitiannya yakni penelitian kualitatif, dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan pemilik industri tahu rumahan, warga dan beberapa karyawan. Hasil penelitian menyatakan bahwa masyarakat sekitar menjadi terbantu dalam hal ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dengan adanya lapangan pekerjaan. Selain itu, adanya perubahan gaya hidup masyarakat sekitar industri tahu rumahan dalam hal sosial dimana mereka mempunyai kesadaran terkait pentingnya mengkonsumsi makanan sehat yang berprotein seperti tahu. Namun, industri tahu rumahan memiliki dampak yang menggangu masyarakat dan ekosistem air sungai, di mana terkadang masih membuang air limbah ke sungai, yang dapat menimbulkan bau amis dan warna sungai menjadi putih.

    Pengetahuan Mahasiswa Untirta terhadap Ecobrick sebagai Salah Satu Cara Pemanfaatan Sampah Plastik

    No full text
    This study aims to determine the knowledge of Biology Education students at Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) related to plastic waste, the use of plastic waste, recycling, and students’ knowledge of ecobrick. The research wasconducted qualitatively with descriptive methode. The mehode uses data analysis techniques in the form of primary survey conducted with questionnaries and secondary survey with relevant literature studies. The target of research is the active students of Biology Education at Untirta. As many as 98% of respondents are agree that ecobrick can be a solution for handling unresolved plastic waste. Ecobrick is a way to use plastic waste easily, cheaply, and with economic value. The existence of waste utilization is expected to provide awareness for Biology Education students at Untirta in an effort to protect the environment and together overcome the waste problems.Sampah plastik merupakan penyumbang terbesar kedua sampah yang ada di Indonesia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengelola sampah plastik ialah dengan pengelolaan Ecobrick. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) terkait sampah plastik, pemanfaatan sampah plastik, daur ulang, dan pengetahuan mahasiswa mengenai ecobrick. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan metode deskriptif. Metode ini menggunakan teknik analisis data berupa survei primer yang dilakukan dengan kuisioner dan survei sekunder dengan studi pustaka yang relevan. Sasaran penelitian ini merupakan mahasiswa aktif Pendidikan Biologi Untirta. Sebanyak 98% responden setuju bahwa ecobrick dapat menjadi salah satu solusi penanganan sampah plastik yang belum terselesaikan. Ecobrick menjadi cara pemanfaatan sampah plastik dengan mudah, murah, dan bernilai ekonomis. Adanya pemanfaatan sampah diharapkan dapat memberikan kesadaran bagi mahasiswa Pendidikan Biologi Untirta dalam upaya menjaga lingkungan dan bersama-sama mengatasi berbagai permasalahan sampah

    A Study on Bacteriological Measurement of Clean Water in Raja Ampat

    No full text
    The availability of clean water is a right that must be obtained by all humans. Unfortunately, some water sources in Indonesia are polluted by total coliform and Escherichia coli and threaten health. This study aims to measure total coliform and Escherichia coli in the Weisai sub-district, Raja Ampat Regency, West Papua province as an effort to monitor environmental quality. This research is an observational study with a quantitative approach. Primary data in this study is the measurement of total coliform and Escherichia coli. The samples used were clean water in the borehole well of Bambang Sutejo village (T1); the dug well of Nyonya Fransina village (T2); and the dug well of Om Miter village (T3). Sample testing was conducted by the Environmental Health and Disease Control Technical Center (BTKLPP), Ambon City, and taken on November 28, 2022. The test results obtained, total coliform parameters of 1,600 MPN/100 mL and Escherichia coli 2.2 at T1. Meanwhile, the T3 concentration of total coliform and Escherichia coli exceeded 1,600 MPN/100 mL. T1 and T3 have values that exceed quality standards. This is due to livestock waste that does not have a wastewater disposal channel and the absence of communal domestic wastewater disposal channelsKetersediaan air bersih merupakan hak yang wajib didapatkan oleh seluruh manusia. Namun sayangnya, beberapa sumber air di Indonesia tercemar oleh total coliform and Escherichia coli yang mengancam kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran total coliform and Escherichia coli di kecamatan Weisai, Kabupaten Raja Ampat, provinsi Papua Barat sebagai usaha pemantauan kualitas lingkungan. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pendekatan kuantitatif. Data primer dalam penelitian ini adalah pengukuran Total coliform and Escherichia coli. Sampel yang digunakan adalah air bersih di sumur bor kelurahan Bambang Sutejo (T1); sumur gali kelurahan Nyonya Fransina (T2); dan sumur gali kelurahan Om Miter (T3). Pengujian sampel dilakukan oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP), Kota Ambon dan diambil pada 28 November 2022. Hasil pengujian didapatkan, parameter total coliform sebesar 1.600 MPN/100 mL dan Escherichia coli 2.2 di lokasi T1. Sementara itu T3 konsentrasi total coliform and Escherichia coli melebihi 1.600 MPN/100 mL. Lokasi T1 dan T3 memiliki nilai yang melebihi baku mutu. Hal tersebut disebabkan karena limbah peternakan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah dan tidak adanya saluran pembuangan air limbah domestik secara komuna

    Analysis and Management of Senayan PLTD Noise Pollution

    No full text
    PLTD activities must pay attention to environmental conditions on the important impacts that occur, specifically regarding the impact of noise that occurs from the operation of the machine. This study's intention is to quantify the degree to which the Senayan 101 MW PLTD's operation has an adverse effect on the neighborhood's noise levels. Constant Noise Type having a broad frequency range. It is advised to install a barrier made of concrete blocks 200 x 200 x 400 with a thickness of 300 mm as high as 6000 mm and a distance of 3000 mm in areas where the noise level is above 70 dB.A. This will help to reduce noise pollution by 20.05 dB.A, bringing the initial noise level down to 68.65 dB. A.Kegiatan PLTD harus memperhatikan kondisi lingkungan terhadap dampak penting yang terjadi, khususnya mengenai dampak kebisingan yang terjadi dari pengoperasian mesin. Tujuan studi ini adalah untuk mengukur sejauh mana pengoperasian PLTD Senayan 101 MW berdampak buruk pada tingkat kebisingan lingkungan. Jenis Kebisingan Konstan memiliki rentang frekuensi yang luas. Disarankan untuk memasang penghalang yang terbuat dari balok beton 200 x 200 x 400 dengan ketebalan 300 mm setinggi 6000 mm dan jarak 3000 mm di daerah yang tingkat kebisingannya di atas 70 dB.A. Ini akan membantu mengurangi polusi suara sebesar 20,05 dB.A, menurunkan tingkat kebisingan awal menjadi 68,65 dB

    An Ethnobotanical Study to Species Used as Upakara Materials in Ngerebong Ceremony in Kesiman Village, Denpasar City

    No full text
    The ngerebong ceremony held in Pakraman Kesiman Village, Denpasar City, has been carried out for generations by the local community. Nevertheless, studies have not determined what living things were used in the ritual. This study aims to identify species used as upakara ingredients in the Ngerebong ritual with an ethnobotanical study approach. The mixed-methods research design was used for two months. Data analysis is carried out descriptively. The findings showed that 39 species of plants, consisting of 25 families, were used as material for making banten. The parts used consist of stems, leaves, flowers, fruits, roots, and tubers. The components used include water, wine (berem), white thread, salt, anchovies, whiting, duck eggs, chicken eggs, pennies, incense, eel, babi guling, rupiah bills, chicken satay, and gauze. The complexity of materials used in the ngerebong ceremony makes it necessary to conserve and preserve biological resources in order to maintain their existence.Upacara ngerebong yang dilaksanakan di Desa Pakraman Kesiman, Kota Denpasar telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat setempat. Namun, belum terdapat penelitian yang berupaya mengidentifikasi sumber daya hayati yang digunakan dalam ritual tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies yang digunakan sebagai bahan upakara dalam upacara Ngerebong dengan pendekatan studi etnobotani. Desain penelitian mixed-method digunakan selama dua bulan. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Temuan menunjukkan terdapat 39 spesies tumbuhan yang digunakan sebagai bahan upakara membuat banten yang terdiri dari 25 keluarga. Bagian yang digunakan terdiri dari batang, daun, bunga, buah, akar, dan umbi – umbian. Komponen yang digunakan meliputi Air, arak/berem, benang putih, garam, ikan teri, kapur sirih, telur bebek, telur ayam, uang kepeng, dupa, belut, babi guling, uang rupiah, sate ayam, dan kain kasa. Kompleksnya bahan yang digunakan dalam upacara ngerebong menjadikan konservasi dan pelestarian sumber daya hayati perlu dilakukan untuk menjaga ketersediaan sumber daya hayati. &nbsp

    0

    full texts

    51

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ekologi, Masyarakat & Sains (EMS) is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇