UKinstitute (Journals)
Not a member yet
908 research outputs found
Sort by
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja SMA
Perilaku seksual remaja adalah segala tingkah laku seksual yang didorong oleh hasrat seksual lawan jenisnya, yang dilakukan oleh remaja sebelum mereka menikah.. Tujuan umum penelitian yaitu diketahuinya faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja. Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Populasi adalah siswa SMA wilayah kerja Puskesmas Panjang sebanyak 1.710 orang dengan sampel sebanyak 140 orang. Analisis bivariate menggunakan Chi Square dan multivariat dengan menggunakan Regresi logistik. Hasil analisis univariat didapatkan 47,9 persen memiliki perilaku seksual kurang baik, 87,9 persen terpapar sumber informasi, 52,1 persen sosial ekonomi rendah, 87,1 persen lingkungan sosial buruk dan 66,4 persen berstatus pacaran. Hasil bivariat menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara sumber informasi (p value = 0,003), status pacaran (p value = 0,000) dan tidak ada pengaruh yang signifikan antara sosial ekonomi (p value = 0,592), lingkungan sosial (p value = 0,485) terhadap perilaku seksual remaja SMA wilayah kerja Puskesmas Panjang. Variabel yang paling dominan terhadap perilaku seksual remaja SMA wilayah kerja Puskesmas Panjang adalah sumber informasi dengan nilai OR 19,004 (CI=2.369–152.466). Saran bagi Puskesmas adalah melakukan inovasi dalam memberikan pendidikan, pengetahuan, pemahaman dan pembinaan mengenai kesehatan reproduksi kepada remaja serta dapat mensosialisasikan bahaya paparan pornografi. Abstract: Adolescent sexual behavior is any sexual behavior that is driven by sexual desires of the opposite sex, which are carried out by adolescents before they get married. The general objective of this research is to know what factors are associated with adolescent sexual behavior. The research design used in this study was observational analytic with a cross-sectional research design. The population was 1,710 high school students working in the Puskesmas Panjang area with a sample of 140 people. Bivariate analysis using Chi Square and multivariate using logistic regression. Univariate analysis results found that 47.9 percent had bad sexual behavior, 87.9 percent were exposed to information sources, 52.1 percent were low socioeconomic, 87.1 percent were poor social environment and 66.4 percent were dating. Bivariate results show that there is a significant influence between sources of information (p value = 0.003), dating status (p value = 0,000) and there is no significant effect between socioeconomic (p value = 0.592), social environment (p value = 0.485) to the sexual behavior of high school teenagers in the work area of the Puskesmas Panjang. The most dominant variable on the sexual behavior of high school teenagers in the work area of the Puskesmas Panjang is the source of information with an OR value of 19,004 (CI = 2,369 - 152,466). Suggestions for Puskesmas are to innovate in providing education, knowledge, understanding and coaching about reproductive health to adolescents and to be able to socialize the dangers of exposure to pornography
Implemetasi Pendidikan Karakter Melalui Media Dongeng Berbasis Visual Pada Anak Usia 4-6 Tahun
Pendidikan Karakter merupakan suatu cara untuk menghasilkan seseorang atau siswa yang mempunyai kecerdasan akademik dan moral. Sampai saat ini pendidikan karakter masih sangat diperlukan karena untuk mengatasi rendahnya nilai moral yang selalu mengalami peningkatan. Lembaga pendidikan yang berbasis formal maupun informal harus saling bersinergi untuk membiasakan pendidikan karakter pada anak. Penerepan pendidikan karakter sebaiknya dilakukan sejak dini karena merupakan langkah yang tepat, masa ini disebut masa keemasan untuk meletakan nilai dasar karakter yang berguna untuk masa depannya. Dibutuhkan sebuah media untuk megaplikasikan pendidika karakter pada anak usia 4-6 tahun. Dongeng merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang relevan dan menyenangkan karena anak masih suka berimajinasi dalam menilai pendidikan moral. Penanaman pendidikan karakter bisa ditanamkan kepada anak amelalui cerita atau dongeng dengan mempelajari karakter atau sifat yang ada pada dongeng tersebut. Pendongeng bisa menggunakan media visual serta bahasa yang disampaikan tentunya telah dipilih atau diciptakan untuk dapat tampilan dalam bentuk menarik sederhana, jelas, ekonomis, dan inovatif untuk menghindari kesalahan persepsi oleh anak terhadap materi atau pesan yang ingin disampaikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif (qualitative research) dengan menggunakan pendekatan studi kasus penelitian menggunakan teknik “snowball sampling terhadap pendidik, anak, kepala lembaga,orang tua. Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk menanamkan pendidikan karakter pada siswa usia pra sekolah melalui dongeng berbasis visul, dengan cara memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada terhadap pendidik, anak, kepala lembaga,orang tua
Pelatihan berperilaku asertif untuk meningkatkan keterampilan prevensi tindakan bullying di SMP Islam Alma’mur Jakarta pusat
Ketidakberanian mengungkapkan secara verbal kepada perilaku bullying menjadi salah satu mengapa bullying ini terjadi berulang. Korban belum atau takut bersikap tegas karena kekhawatiran dan ketakutan bahwa kalau melawan malah akan berakibat fatal. Pelaku bullying adalah teman-teman sekelas, terkadang juga ada yang berasal dari kakak kelas dan juga teman-teman dari kelas yang lain. Dari informasi yang diperoleh salah satu siswa yang sering melakukan tindakan bullying adalah siswa yang tinggal kelas. Pelaku seringkali diintimidasi oleh siswa-siswa lainnya sehingga mereka tidak berani untuk melawan jika diejek oleh pelaku. Tujuan penelitian ini adalah untuk melatih perilaku asertif guna menimbulkan perilaku asertif dalam menghadapi bullying. Metode pre-experimental design yang digunakan adalah desain kelompok tunggal One group pre test-post tes design. Sample yang digunakan dalam pelatihan ini adalah sample kecil ( n ) yaitu 22 orang siswa Sekolah SMP. Modul pelatihan berisi tentang teknik berperilaku asertif untuk meningkatkan perilaku asertif terhadap tindakan bullying. Evaluasi pelatihan menggunakan tipe – tipe evaluasi berdasarkan Pemahaman/reaksi, Pengatahuan dan keterampilan serta perubahan perilaku. Hasil analisis data terhadap pernyataan responden secara rata-rata pada sebaran data sebelum pelatihan terlihat bahwa untuk responden yang memberikan penilaian sangat sering dengan rata-rata 11, untuk responden yang memberikan penilaian sering dengan rata-rata 6 dan yang memberikan penilaian jarang dengan rata-rata 4 adapun responden yang memberikan penilaian sangat jarang dengan rata-rata 1. Bila melihat hasil secara keseluruhan rata-rata pada sebaran data sebelum pelatihan terlihat nilai tertinggi dengan rata-rata sebesar 11 nilai rata-rata tersebut berada pada kategori sangat sering, sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif sangat baik. Sekolah dapat memberikan bekal ketrampilan sosial dan kesiapan mental bagi siswa melalui kegiatan training atau pelatihan secara berkala dan bekerjasama dengan lembaga profesional sehingga dapat memberi manfaat bagi kesiapan psikologis siswa
Psikoedukasi kesehatan dalam melakukan perawatan payudara pada ibu nifas.
Berdasarkan hasil data laporan tahunan di Provinsi Lampung tahun 2015 sebanyak 15,3 persen ibu tidak melakukan perawatan payudara, hal ini dikarenakan ibu tidak mendapatkan informasi tentang cara perawatan payudara yang benar, angka ini cukup memprihatinkan karena kesadaran masyarakat melakukan perawatan payudara masih relatif rendah, termasuk kurangnya pengetahuan ibu nifas tentang cara melakukan perawatan payudara (Dinkes Provinsi Lampung, 2017). Tujuan Penelitian ini Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan ibu nifas tentang perawatan payudara di Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung tahun 2019. Jenis penilitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik. Penelitian ini mengguanakan desain penelitian one-group pretest,-one group posttest Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan di Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung tahun 2018 yaitu sebanyak 50. Sampel yang digunakan adalah total sampel. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode accidental sampling. Distribusi frekuensi pengetahuan ibu sebelum dilakukan penyuluhan perawatan payudara sebagian besar pengetahuan dalam kategori kurang yaitu sebanyak 22 ibu (44 persen), sebanyak 16 ibu (32 persen) berpengetahuan cukup dan sebanyak 12 ibu (12 persen) berpengetahuan baik. Distribusi frekuensi pengetahuan ibu setelah dilakukan penyuluhan perawatan payudara sebagian besar pengetahuan ibu dalam kategori baik yaitu sebanyak 27 ibu (54 persen), sebanyak 15 ibu (30 persen) berpengetahuan cukup dan sebanyak 8 ibu (16 persen) berpengetahuan kurangAbstract: Based on the results of the annual report data in Lampung Province in 2015 as many as 15.3 percent of mothers did not perform breast care, this is because mothers did not get information about how to properly care for breasts, this figure is quite concerning because public awareness of breast care is still relatively high. low, including the lack of knowledge of postpartum mothers about how to perform breast care (Dinkes Lampung Province, 2017). The purpose of this study was to determine the effect of health education on the level of knowledge of postpartum mothers about breast care at the Kota Karang Bandar Lampung Community Health Center in 2019. Research This type of research is a quantitative study with an analytical research design. This study used a one-group pretest research design, one-group posttest design. The population in this study were all mothers who gave birth at the Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung in 2018, as many as 50. The sample used was the total sample. The sampling technique used in this study is to use accidental sampling method. Distribution of the frequency of knowledge of mothers before breast care counseling was in the poor category, namely 22 mothers (44 percent), 16 mothers (32 percent) had sufficient knowledge and 12 mothers (12 percent) had good knowledge. The distribution of the frequency of maternal knowledge after breast care counseling was mostly in the good category, namely 27 mothers (54 percent), 15 mothers (30 percent) had sufficient knowledge and 8 mothers (16 percent) had less knowledge
Keikutsertaan Care Giver Dalam Menerapkan Terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) Pada Anak Autis
Masih rendahnya peran serta orang tua yang memiliki anak dengan autis dapat disebabkan motivasi orang tua untuk mencapai kesembuhan anak dan tingkat kesadaran akan peran aktif orang tua. Untuk mencapai kesembuhan yang diiringi dengan kesadaran akan pentingnya peran aktif akan mendorong orang tua meningkatkatkan pengetahuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keikutsertaan care giver dalam menerapkan terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) pada anak autis di Pusat Terapi LPSDM Graha Jiwa Indonesia Kabupaten Pringsewu tahun 2014. Metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digunakan untuk menggali partisipasi orang tua terhadap terapi perubahan perilaku anak autis dengan menerapkan terapi ABA. Pengambilan sampel berdasarkan pada tingkat pemenuhan terhadap informasi yang ingin dicapai dalam penelitian yaitu berjumlah 4 responden. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dilengkapi dengan catatan lapangan kemudian dibuat transkip wawancara dan dilakukan analisis data yang dimulai dari mendengarkan rekaman hasil wawancara sampai membuat kesimpulan atas data kualitatif yang diperoleh. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa sebagian responden tidak begitu tahu tentang metode ABA yang diberikan terapis dan sebagaian responden sangat memperhatikan kebutuhan anaknya melebihi anak yang lainnya karena baginya anak autis memang menuntut pemenuhan kebutuhan yang ekstra atau spesial dibanding anak normal. Oleh karena itu keluarga dengan anak autis harus tetap memberikan proses terapi yang memadai seperti pemilihan tempat terapi yang baik dengan terapis yang berkompeten di bidangnya seperti memberikan terapi-terapi ringan di rumah
Penerapan Person-Centered Untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Rendah Pada Mahasiswi STKIP
Self Confidance yang tinggi merupakan salah satu faktor penting untuk meraih prestasi bagi mahasiswa, dengan meraih prestasi yang tinggi mahasiswa akan merasa bangga dan bahagia. Berbeda dengan mahasiswa yang memiliki self confidance yang rendah, mereka tidak akan mencoba untuk berhasil dalam apapun karena mereka berpikir akan gagal jika mereka melakukannya. Mahasiswa menilai dirinya mudah pesimis, malas dalam mengerjakan tugas yang diberikan dosen, mengumpulkan tugas tidak tepat waktu dan tidak bisa menargetkan lulus kuliah. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kepercayaan diri rendah pada mahasiswa dan mengetahui hasil person centered untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa. Metodologi yang digunakan adalah dengan pendekatan single case experiment Pada penelitian ini desain yang digunakan adalah A-B-A design, yaitu desain penelitian yang terdiri dari dua fase baseline sehingga memungkinkan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara variabel terikat dan variabel bebas. Pengukuran perilaku menggunakan metode pencatatan berupa interval recording dengan interval waktu 30 menit. Bahwa program intervensi ini, yang terdiri dari person centered cukup efektif dalam mengatasi kepercayaan diri rendah mahasiswa. Dengan perolehan hasil yang menunjukan adanya perubahan mean persentase percaya diri yang rendah S pada tahap baseline (A1), intervensi, dan baseline (A2). Pada tahap baseline (A1), mean persentase percaya diri rendah berkisar antara 78,7 persen sampai dengan 79,8 persen. Kemudian dilakukan intervensi psikologis dalam dalam bentuk person centered. Pada tahap intervensi, mean perilaku berkisar antara 85 persen sampai dengan 10 persen artinya mengalami penurunan. Kemudian setelah intervensi dihentikan, peneliti melakukan pengulangan baseline (A2) dan diperoleh mean persentase percaya diri rendah berada pada kisaran 21,95 persen hingga 4,05 persen dan mengalami penurunan setelah di intervensi. Dari intervensi yang dilakukan terhadap S dengan person centered terlihat bahwa terdapat perubahan yang lebih baik, yaitu berkurangnya kepercayaan diri yang rendah
Manajemen Waktu dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Keperawatan
Prokrastinasi akademik dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya manajemen waktu, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi dan kesadaran yang rendah, ketakutan dan kecemasan terkait dengan kegagalan seseorang, dan kurang yakin terhadap kemampuan. Faktor yang sangat mempengaruhi prokrastinasi akademik adalah manajemen waktu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara manajemen waktu dengan prokrastinsi akademik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif. Rancangan yang diganakan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret tahun 2019 di Unversitas Aisyah Pringsewu Lampung. Populasi adalah 73 mahasiswa semester IV dan VI, sampel yang diambil dengan tekhnik total sampling. Alat ukur berupa kuesioner yang dianalisa secara univariat dan bivariat dengan uji gamma. Hasil penelitian diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,001 (kurang dari 0,005) artinya ada hubungan anatara manajemen waktu dengan prokrastinasi akademik. Responden dengan manajemen waktu rendah terdapat 50,7persesn (37 responden) dengan prokrstinasi akademik rendah 1,36 persen (1 responden), prokrastinasi akademik sedang 10,95 persen (8 responden) dan prokrastinasi tinggi 38,35 persen (28 responden). Berdasarkan hasil tersebut bahwa manajemen waktu sangat berpengaruh terhadap prokrastinasi akademik. Jadi semakin tinggi manajemen waktu maka semakin rendah prokrastinasi akademik dan semakin rendah manajemen waktu maka semakin tinggi prokrastinasi akademik. Abstract. academic procrastination is influenced by various factors including time management, inability to concentrate and low awareness, fear and anxiety associated with someone’s failure, and not confident. The factors that influence academic procrastination is time management. The objective is research to determine the correlation between time management with academic procrastination. The type of the research is quantitative research. The research design used cross sectional. This research was conducted on March 2019 in Aisyah University of Pringsewu Lampung. The population is 73 students semester IV and VI, the sample taken with total sampling technique. The measurement is in the form of questionnaiers by analyzing univariate and bivariate with gamma analysis. The results of the research p-value 0,001 (more than 0,005) which mean there is a correlation between time management with academic procrastination. Responden with low time management 50,7 percent (37 responden) with low academic procrastination 1,36 percent (1 respondent), moderate academic procrastination 10,9 percent (8 respondent), and high academic procrastination 38,35 percent (28 respondent). Based on these results, time management is very influental on the academic procrastination. So, the higher time management, the academic procrastination is low and the lower time management, the academic procrastination is high
Tingkat pengetahuan remaja tentang personal hygiene
Menurut Word Health Organitation (WHO), masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa, di mana pada masa itu terjadi pertumbuhan yang pesat termasuk fungsi reproduksi sehingga mempengaruhi terjadinya perubahan-perubahan perkembangan fisik, mental, maupun peran sosial (Kumalasari Intan, 2012). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang perawatan Personal Higient di SMA Muhamadiyah Tahun 2019. Metodologi Penelitian Desain penelitian ini adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi SMA Muhammadiyah kelas X yang berjumlah 271 orang. Dan sampel pada penelitian ini berjumlah 73 orang. Penelitian ini menggunakan teknik sampling Probablity sampling (Random Sampling). Hasil Penelitian Gambaran pengetahuan remaja putri tentang perawatan organ kewanitaan di SMA Muhammadiyah dalam kategori baik sebanyak 13 responden (17,8 persen). Gambaran pengetahuan remaja putri tentang perawatan organ kewanitaan di SMA Muhammadiyah dalam kategori cukup sebanyak 36 responden (49,3 persen). Gambaran pengetahuan remaja putri tentang perawatan Personal Higient di SMA Muhammadiyah dalam kategori kurang sebanyak 24 (32,9 persen). Kesimpulan Gambaran pengetahuan remaja putri tentang perawatan Personal Higient di SMA Muhammadiyah dalam kategori kurang sebanyak 24 (32,9 persen). Saran Diharapkan tenaga kesehatan lebih memperhatikan dalam pelayanan kesehatan dan meningkatkan pendidikan kesehatan atau konseling pada remaja putri tentang perawatan organ kewanitaanAbstract: According to Word Health Organitation (WHO), adolescence is a transition period from childhood to adulthood, during which period there is rapid growth including reproductive function so that it affects the changes in physical development, mental, and social roles (Kumalasari Intan , 2012). The purpose of this study was to determine the description of adolescent girls' knowledge about Personal Hygienic care in Muhamadiyah High School in 2019. Research Methodology The design of this study was descriptive. The population in this study were 271 class Muhammadiyah high school students. And the sample in this study amounted to 73 people. This study uses a sampling technique Probablity sampling (Random Sampling). Research Resultsv depictions of knowledge of young women about the care of female organs in SMA Muhammadiyah in the good category of 13 respondents (17.8 percent). Description of adolescent girls' knowledge about caring for female organs at Muhammadiyah High School in the sufficient category was 36 respondents (49.3 percent). The depiction of adolescent girls' knowledge about Personal Higient care in Muhammadiyah High School in the category of lacking as many as 24 (32.9 percent). Conclusion The description of the knowledge of young women about personal hygiene care in Muhammadiyah high schools in the category of lacking as many as 24 (32.9 percent). Suggestions It is expected that health workers pay more attention in health services and improve health education or counseling to young women about caring for female organ