Institut Seni Indonesia Yogyakarta: Jurnal Online ISI Yogyakarta / Indonesia Institute of The Arts Yogyakarta
Not a member yet
    4540 research outputs found

    Estetika Tari Jajang Thek Pada Hari Tari Dunia Isi Surakarta Tahun 2025

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Estetika yang terdapat dalam Tari Jajang Thek. Tari Jajang Thek merupakan tari kreasi baru yang memiliki arti Jajang yaitu bambu dan Thek yaitu aksen suara dari kentongan bambu Ketika dipukul yang berbunyi thek thek thek. Tari Jajang Thek diciptakan oleh Dwi Nusa Aji Winarno S,Sn. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Langkah-langkah atau metode penelitian yang meliputi Observasi, Pengumpulan data, Dokumentasi, dan Wawancara. Bentuk dan Estetika tari Jajang Thek yang terdapat pada tarian tersebut dapat dilihat dari Gerak, Tata rias, Busana, Properti, Musik dan Pola lantai. Estetika tari Jajang Thek dapat dilihat dari pemahaman Estetika dan Dinamika Estetika yang dilihat dari bentuk tarian tersebut.Kata kunci: Tari Jajang Thek, Bentuk, Estetik

    Tradisi Alek Pisang Manih dalam Upacara Perkawinan di Nagari Panyakalan dalam Analisis Teori Fungsionalisme

    Get PDF
    AbstrakPenelitian ini menganalisis tradisi Alek Pisang Manih dalam upacara perkawinan masyarakat Nagari Panyakalan, yang unik dan disertai sanksi adat serta moral, menggunakan teori Fungsionalisme Bronislaw Malinowski untuk mengungkap fungsi budayanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tradisi ini mencakup unsur sistem pengetahuan, bahasa, peralatan, dan organisasi sosial dari adat salingka nagari, serta bagian dari rangkaian adat perkawinan yang dilestarikan hingga kini, mencerminkan nilai budaya dan harapan rumah tangga harmonis. Berdasarkan teori Fungsionalisme Malinowski, tradisi berfungsi menjaga struktur sosial matrilineal, menguatkan kekerabatan dan solidaritas, pisang tando sebagai sarana estetika, serta lembaga adat sebagai penjaga nilai dan tata tertib." Kata kunci: Tradisi Alek Pisang Manih, Fungsi, Struktur Sosial Matrilineal, Solidaritas Sosial. Abstract This research analyzes the Alek Pisang Manih tradition in the wedding ceremony of the Nagari Panyakalan community, which is unique and accompanied by customary and moral sanctions, using Bronislaw Malinowski's Functionalism theory to reveal its cultural functions. This research employs a descriptive qualitative approach with data collection through observation, interviews, and documentation. This tradition encompasses elements of knowledge systems, language, equipment, and social organization from the adat salingka nagari, as well as part of the wedding custom series that is preserved to this day, reflecting cultural values and hopes for a harmonious household. Based on Malinowski's Functionalism theory, the tradition functions to maintain the matrilineal social structure, strengthen kinship and social solidarity, pisang tando as aesthetics medium, and customary institutions as guardians of values and order. Keywords: Alek Pisang Manih Tradition, Function, Matrilineal Social Structure, Social Solidarity

    Ngayah Topeng Sidhakarya: Spirit Pengabdian melalui Bhakti dan Karma Marga

    Get PDF
    Ngayah adalah tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Bali sebagai kewajiban sosial dalam menerapkan ajaran bhakti dan karma marga.bhakti marga merupakan jalan penyerahan diri, patuh dan setia kepada Sang Pencipta (Tuhan). Karma marga melalukan jalan dengan perbuatan, bekerja tanpa pamrih. Topeng Sidhakartya merupakan salah satu genre seni pertunjukan topeng Bali yang disajikan sebagai bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan yadnya (korban suci). Tujuan penelitian ini ingin mengetahui bahwa para seniman Bali melaksanakan profesinya dengan jalan penyerahan diri dan berbuat atau berkarya sepenuhnya sebagai spirit pengabdian yang tulus ikhlas kepada Sang pencipta alam semesta dengan menyajikan Topeng Sidhakarya. Topeng Sidhakarya sesuai namanya, topeng ini yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan sebuah yadnya, dengan hadirnya topeng ini menadakan bahwa karya atau kerja menjadi sidha (selesai) dengan sempurna. Metode yang digunakan metode penelitian kualitatif yang pelaksanaannya lebih mengarah pada pengumpulan data melalui observasi secara langsung di lapangan. Hasil yang diharapkan bahwa profesi sebagai penari, khususnya Topeng Sidhakarya adalah untuk ngayah (mengabdi) berkaitan dengan persembahan yang tulus ikhlas (bhakti dan karma marga) kepada Sang Pencipta

    Pessimism in Charles Simic’s Selected Poems

    Get PDF
    Pessimism is an attitude of hopelessness toward existential meaning where it is having the tendency to see the bad side of things.  This study explores how pessimism is presented in Charles Simic’s Selected Poems and what is the significance of pessimism is in the selected poems. This study applies qualitative research using Michael Riffaterre’s semiotic of poetry to analyze pessimism in three of Charles Simic’s selected poems, “The Grass”, “The Prompter”, and “Evening Walk.” Through heuristic and hermeneutic readings, the research identifies ungrammaticalities and reconstructs hypograms to uncover deeper layers of meaning. The findings reveal that Simic’s poetry emphasizes pessimism by writing it using metaphor and simile in free verse.These semiotic structures articulate a worldview where beauty and despair coexist, and where human efforts to find meaning are often met with silence or futility. His minimalist style amplifies this pessimism, rendering it both intimate and universal. Keyword: Pessimism, Charles Simic, Poems, semiotic of poetr

    Musik Nusantara sebagai Praktik Budaya dalam Pendidikan Humanitas di Perguruan Tinggi

    Get PDF
    Musik Nusantara memuat nilai sosial, identitas budaya, dan pengalaman kolektif masyarakat Indonesia. Musik Nusantara digunakan sebagai media pembelajaran kontekstual dan reflektif di perguruan tinggi untuk memahami kebudayaan secara lebih nyata. Artikel ini mengkaji peran mata kuliah Musik Nusantara dan Kajian Budaya dalam pembelajaran Studi Humanitas, serta menganalisis bagaimana mahasiswa terutama yang tidak memiliki latar belakang musik memaknai Musik Nusantara sebagai praktik kebudayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus pada mata kuliah Musik Nusantara dan Kajian Budayanya di Program Studi Studi Humanitas Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Data diperoleh melalui observasi proses pembelajaran, analisis materi perkuliahan, serta refleksi tertulis mahasiswa mengenai pengalaman belajar mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mata kuliah ini berfungsi sebagai media pembelajaran lintas disiplin yang menghubungkan seni, budaya, sejarah, dan kehidupan sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi orisinal dengan menunjukkan bahwa Musik Nusantara dapat dipahami dan dimaknai secara kritis oleh mahasiswa non-musik sebagai praktik budaya yang hidup, bukan sekadar objek estetis atau keterampilan teknis. Temuan ini memperkaya kajian pendidikan humanitas dengan menempatkan musik sebagai sarana pembentukan kesadaran budaya reflektif, apresiatif terhadap keberagaman, dan pemahaman kontekstual terhadap dinamika masyarakat Indonesia.Kata kunci: Musik Nusantara, Pendidikan Humanitas, Praktik Budaya, Mahasiswa Non-Musik, Studi Kasus. AbstractMusik Nusantara as a Cultural Practice in Humanities Education in Higher Education.Musik Nusantara contains social values, cultural identity, and the collective experiences of Indonesian society. Musik Nusantara is used as a medium for contextual and reflective learning in higher education to understand culture more concretely. This article examines the role of the Musik Nusantara and Cultural Studies course in the learning of Humanities Studies, as well as analyzing how students, especially those without a musical background, interpret Musik Nusantara as a cultural practice. This research employs a descriptive qualitative approach with a case study design in the Musik Nusantara and Its Cultural Studies course within the Humanities Studies Program at Duta Wacana Christian University (UKDW). Data were obtained through observation of the learning process, analysis of course materials, and students' written reflections on their learning experiences. The results show that this course functions as an interdisciplinary learning medium connecting art, culture, history, and social life. This research makes an original contribution by demonstrating that Musik Nusantara can be understood and critically interpreted by non-music students as a living cultural practice, not merely as an aesthetic object or technical skill. These findings enrich the study of humanities education by positioning music as a means of fostering reflective cultural awareness, appreciation for diversity, and contextual understanding of the dynamics of Indonesian society.Keywords: Nusantara Music, Humanities Education, Cultural Practice, Non-Music Students, Case Study

    Interpretasi Legenda Dadong Guliang dalam Karya Tari Rwa Bhineda Karmaphala

    Get PDF
    AbstrakPenelitian penciptaan karya tari Rwa Bhineda Karmaphala ini terinspirasi dari legenda Dadong Guliang dari Bali, namun proses interpretasi serta penciptaannya belum terdokumentasi secara akademis. Penelitian penciptaan ini bertujuan untuk menganalisis proses adaptasi naratif folklor ke dalam karya koreografi dan pertunjukan, serta selanjutnya menciptakan satu karya tari kontemporer yang diinterpretasikan dari legenda Dadong Guliang. Penelitian penciptaan ini menggunakan pendekatan practice-based research dengan metode penciptaan melalui eksplorasi gerak, improvisasi, dan komposisi. Penelitian dilakukan secara kualitatif melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan tim kreatif, dan dokumentasi audio-visual. Karya tari Rwa Bhineda Karmaphala yang yang dihasilkan, terstruktur dalam empat adegan simbolis menggunakan tiga strategi interpretasi utama yaitu transposisi naratif, simbolisasi gerak, dan kontekstualisasi sosio-spiritual. Karya ini dinilai dapat mempertahankan basis filosofis legenda namun sekaligus dapat menghadirkan relevansi kontemporer terkait isu marginalisasi dan ketidakadilan gender. Penelitian penciptaan karya ini menunjukkan bahwa seni dapat berfungsi menjadi medium hermeneutis yang efektif dalam merevitalisasi warisan budaya. Karya ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan metodologi penciptaan berbasis riset dalam pendidikan seni. Kata kunci: penelitian penciptaan, interpretasi, legenda Dadong Guliang, tari kontemporer AbstractThe Interpretation of the Dadong Guliang Legend in the Dance Work Rwa Bhineda Karmaphala. This creation research of the dance work Rwa Bhineda Karmaphala is inspired by the Dadong Guliang legend from Bali; however, its interpretation and creation processes have not been academically documented. This creation research aims to analyze the adaptation process of folklore narrative into choreographic and performative works, and subsequently create a contemporary dance piece interpreted from the Dadong Guliang legend. This study employs a practice-based research approach through movement exploration, improvisation, and composition methods. The research was conducted qualitatively via participant observation, in-depth interviews with the creative team, and audio-visual documentation. The resulting dance work, Rwa Bhineda Karmaphala, is structured into four symbolic episodes using three main interpretation strategies: narrative transposition, movement symbolization, and socio-spiritual contextualization. This work is considered capable of maintaining the philosophical foundation of the legend while also presenting contemporary relevance regarding issues of marginalization and gender injustice. This creation research demonstrates that art can function as an effective hermeneutic medium for revitalizing cultural heritage. It is hoped that this work can contribute to the development of research-based creation methodologies in arts education. Keywords: creation research, interpretation, Dadong Guliang legend, contemporary danc

    Bentuk Pertunjukan Tari Ambu Sakanti Karya Sanggar Seni Perwitasari Kota Tegal

    Get PDF
    Tari Ambu Sakanti adalah sebuah tari kreasi tradisional yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat pesisir, khususnya para nelayan di wilayah Tegal. Tarian ini menggambarkan semangat, kerja keras, dan harapan nelayan dalam mencari nafkah di laut, yang diwujudkan melalui perpaduan gerak tari dinamis, iringan musik gamelan, vokal syair tradisional "Balo-Balo", serta properti kepis (alat tangkap ikan dari anyaman rotan). Tarian dibawakan secara berkelompok oleh penari putra dan putri dengan formasi yang fleksibel sesuai kebutuhan acara, menampilkan interaksi yang harmonis antara kekuatan laki-laki dan kelembutan perempuan. Kostum bernuansa biru laut, tata rias khas, dan tata lampu yang dramatis memperkuat nilai visual dan emosional pertunjukan. Penelitian mengenai Tari Ambu Sakanti dilakukan dengan metode kualitatif, menggunakan pendekatan etnografi untuk mengkaji aspek seni tari, simbolisme budaya, serta nilai sosial yang terkandung dalam pertunjukan. Data dikumpulkan melalui observasi langsung saat pementasan, wawancara dengan koreografer, penari, dan masyarakat setempat, serta dokumentasi video dan foto. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman mendalam tentang makna budaya dan dinamika pertunjukan yang tidak hanya bersifat artistik, tetapi juga sosial dan historis

    Simbolisme Kematian Dan Kesunyian Dalam Naskah Senja Dengan Dua Kelelawar Karya Kirdjo Muljo

    Get PDF
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji simbolisme kematian dan kesunyian dalam naskah Senja dengan Dua Kelelawar karya Kirdjo Muljo dengan menggunakan pendekatan semiotika dan hermeneutika eksistensial. Naskah ini menampilkan konflik batin tokoh-tokohnya; Ismiyati, Suwarto, dan Marsudi yang terjebak dalam ambiguitas moral dan psikologis di ruang senja, yakni batas antara kehidupan dan kematian. Simbol-simbol seperti senja, dua kelelawar, rel kereta api, dan kesunyian diinterpretasikan sebagai representasi kesadaran manusia terhadap kefanaan, rasa bersalah, dan keterasingan eksistensial. Analisis dilakukan melalui pembacaan secara intensif terhadap struktur dramatik, dialog, serta tanda-tanda visual dan atmosferik dalam teks, yang menunjukkan bahwa kematian dalam naskah ini tidak hanya berfungsi sebagai akhir biologis, tetapi juga sebagai metafora kematian spiritual dan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan. Kesunyian yang melingkupi naskah berperan sebagai medium refleksi diri yang menyingkap kegelisahan dan absurditas hidup manusia modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kirdjo Muljo menghadirkan teater sebagai ruang kontemplatif untuk menafsir ulang makna hidup, cinta, dan penderitaan dalam horizon kesadaran eksistensial.Kata kunci: simbolisme, kematian, kesunyian, eksistensialisme, Kirdjo Mulj

    Eksploitasi Tambang Pasir di Kabupaten Garut sebagai Inspirasi Penciptaan Naskah Drama Uga Wangsit Siliwangi

    No full text
    AbstrakPenelitian penciptaan ini bertujuan untuk menghasilkan naskah drama Uga Wangsit Siliwangi berdasarkan kritik terhadap kerusakan lingkungan serta konflik sosial akibat eksploitasi tambang pasir di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penulisan naskah ini juga hendak menghidupkan kembali legenda Prabu Siliwangi sebagai simbol pelestarian alam. Metode penciptaan menggunakan pendekatan berbasis praktik seni yang diangkat dari realitas sosial. Observasi lapangan dilakukan di wilayah Leles, Garut, dengan wawancara dengan narasumber terkait. Studi pustaka terhadap naskah Carita Parahyangan, serta perumusan treatment, penokohan, alur berbasis perkembangan watak, dan latar Leuweung Sancang dan Buwana Larang. Hasil karya adalah berupa naskah drama tiga babak yang mengaplikasikan pendekatan estetika surealisme satir politis. Naskah ini memadukan bahasa Sunda buhun dan keseharian, serta menyajikan elemen surealis (seperti tembok pasir) dan satir politik melalui dialog-dialog sindiran. Naskah yang dihasilkan menawarkan pendekatan penceritaan baru dalam teater ekologis melalui perpaduan unik antara surealisme satir politik, bahasa Sunda, dan narasi folklor yang diadaptasi secara kritis. Kata kunci: teater ekologis, Uga Wangsit Siliwangi, satir politik, surealisme, tambang pasir. AbstractSand Mining in Garut Regency as Inspiration for the Creation of the Drama Script Uga Wangsit Siliwangi. This creative research aims to produce a play script titled Uga Wangsit Siliwangi, based on a critique of environmental degradation and social conflicts resulting from sand mining exploitation in Garut Regency, West Java. The script also intends to revitalize the legend of Prabu Siliwangi as a symbol of nature conservation. The creation method employs an arts-based practice approach derived from social reality. Data collection included field observations in Leles, Garut, and interviews with relevant informants. Additionally, a literature study was conducted on the Carita Parahyangan manuscript, followed by the formulation of the treatment, characterization, character-driven plot, and settings in Leuweung Sancang and Buwana Larang. The final work is a three-act play script that applies a political-satiric surrealist aesthetic. The script blends archaic (buhun) and colloquial Sundanese, featuring surreal elements—such as walls of sand—and political satire through satirical dialogue. The resulting script offers a new storytelling approach in ecological theater through a unique synthesis of political satiric surrealism, Sundanese language, and critically adapted folklore narratives. Keywords: Ecological theater, Uga Wangsit Siliwangi, political satire, surrealism, sand mining

    Traditional Values and Tetekon: Creativity and Innovation in Padalangan of Sundanese Wayang Golek Purwa

    Get PDF
    Wayang golek purwa is one of the traditional art performances of the Sundanese community that has a standardized structure and tetekon in its performance. However, along with the times that affect the way of thinking of the performers of wayang golek purwa art, there are changes in function and structure that affect the tetekon of the previous wayang golek purwa performance. The purpose of this study is to examine the changes in the value of tetekon in the art of wayang golek purwa related to the development of creativity and innovation from the young generation of puppeteers. This research uses descriptive qualitative method through observation, audio-visual analysis of wayang golek performances, and literature study on wayang golek purwa puppetry. Based on these methods, it was found that there is a paradoxical phenomenon in wayang golek art: on the one hand, creativity plays an important role in maintaining the existence of wayang golek art, but on the other hand, it is often considered to violate tetekon or traditional rules. Tetekon needs to be interpreted not only as a standard rule, but as a principle that can provide space for creativity and innovation to maintain the relevance of wayang golek art

    3,296

    full texts

    4,540

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Institut Seni Indonesia Yogyakarta: Jurnal Online ISI Yogyakarta / Indonesia Institute of The Arts Yogyakarta is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇