Universitas Diponegoro: Undip E-Journal System (UEJS) Portal
Not a member yet
16830 research outputs found
Sort by
Pengaruh Mikroplastik Polyethylene Terephthalate (PET) Terhadap Profil Eritrosit Tikus Betina Galur Wistar
Plastik merupakan salah satu bahan yang dapat terdegradasi menjadi mikroplastik dan berpotensi mengganggu sistem hematologi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan mikroplastik menyebabkan penurunan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan hematokrit. Penelitian mengenai efek toksik mikroplastik PET pada mamalia masih terbatas, sehingga penelitian ini perlu dilakukan untuk menganalisis pengaruh paparan mikroplastik PET terhadap jumlah eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit tikus putih betina galur Wistar. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap menggunakan 20 ekor tikus putih betina Wistar yang dibagi dalam 4 kelompok perlakuan dengan 5 ulangan: P0 (kontrol), P1 (0,005 mg/2 mL/hari), P2 (0,05 mg/2 mL/hari), dan P3 (0,25 mg/2 mL/hari) secara oral selama 24 hari. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan nyata (P>0,05) antar kelompok perlakuan terhadap parameter hematologi. Nilai rata-rata parameter hematologi masih berada dalam kisaran normal. Paparan mikroplastik PET dengan dosis dan lama pemberian tersebut tidak berpotensi mengganggu proses hematopoiesis, sehingga jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan hematokrit tikus putih betina galur Wistar tetap normal. Kebaruan penelitian ini terletak pada penentuan dosis mikroplastik serta pengaruhnya terhadap sistem hematologi. Penelitian ini bermanfaat sebagai sumber informasi mengenai efek toksisitas mikroplastik pada parameter hematologi mamalia. Plastic is a material that can degrade into microplastics and potentially disrupt the hematological system. Several studies have reported that microplastic exposure leads to a decrease in erythrocyte count, hemoglobin, and hematocrit levels. Research on the toxic effects of PET microplastics in mammals remains limited, making it necessary to analyze the impact of PET microplastic exposure on erythrocyte count, hemoglobin, and hematocrit of female Wistar rats. This study was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with 20 female Wistar rats divided into 4 treatment groups with 5 replications: P0 (control), P1 (0.005 mg/2 mL/day), P2 (0.05 mg/2 mL/day), and P3 (0.25 mg/2 mL/day) administered orally for 24 days. The results showed no significant difference (P>0.05) between treatment and control groups in hematological parameters. The average values of hematological parameters remained within the normal range. PET microplastic exposure at the tested doses and duration did not interfere with the hematopoiesis process, indicating that erythrocyte count, hemoglobin concentration, and hematocrit levels of female Wistar rats were maintained within normal limits. The novelty of this study lies in the extrapolation of microplastic dosages and their effects on the hematological system. This research provides useful insights into the toxicological impact of microplastics on mammalian hematology
Analisis Gambaran Sel Glomerulus Rattus norvegicus Melalui Proses Pencucian Setelah Fiksasi dengan NBF 10%, Bouin, dan Etanol 50% Selama Satu Minggu
Fiksasi merupakan proses kimia yang menjadi tahap penting dalam pembuatan preparat jaringan hewan. Larutan fiksatif yang umum digunakan yaitu NBF 10%, bouin, dan etanol 50%. Organ yang digunakan pada penelitian ini adalah ren yang merupakan jaringan lunak. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran glomerulus melalui proses pencucian setelah difiksasi dengan menggunakan NBF 10%, bouin, dan etanol 50% selama satu minggu. Ren difiksasi dengan NBF 10%, bouin, dan etanol 50% selama satu minggu. Hasil menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) pada ruang kapsula bowman, ukuran sel glomerulus dan ukuran inti sel glomerulus. Tampak kerusakan yang signifikan terhadap keutuhan glomerulus, bentuk sel glomerulus, bentuk inti sel glomerulus, warna sel glomerulus, dan warna inti sel glomerulus. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tahap pencucian setelah fiksasi dapat meminimalisir kerusakan preparat yang difiksasi selama satu minggu dengan NBF 10%. Fixation is a chemical process that is an important stage in the preparation of animal tissue preparations. Commonly used fixative solutions are 10% NBF, bouin, and 50% ethanol. The organ used in this study was the kidney, which is a soft tissue. This study aims to analyze the glomerular image through the washing process after being fixed using 10% NBF, bouin, and 50% ethanol for one week. The kidney was fixed with 10% NBF, bouin, and 50% ethanol for one week. The results showed significant differences (P<0.05) in bowman's capsule space, the size of the glomerular cells and the size of the glomerular cell nucleus.There was significant damage to the integrity of the glomerulus, the shape of the glomerular cells, the shape of the glomerular cell nucleus, the color of the glomerular cells, and the color of the glomerular cell nucleus. In this study, it can be concluded that the washing stage after fixation can minimize damage to preparations fixed for one week with 10% NBF
“Kabur Aja Dulu”: Kekecewaan Generasi Muda Indonesia Terhadap Tekanan Situasi Dalam Negeri dan Upaya Transformasi Diri Sebagai Gerakan Perubahan
Tulisan ini berfokus pada fenomena tagar #KaburAjaDulu yang cukup viral di kalangan masyarakat Indonesia terkhusus pada kalangan generasi muda. Tagar #KaburAjaDulu sudah menjadi isu hangat sejak awal 2025 dan muncul sebagai keresahan dan kekhawatiran akan keadaan Indonesia yang sampai saat ini sedang tidak baik-baik saja entah karena kesenjangan sosial yang masih belum terselesaikan, kebijakan-kebijakan kontroversial berbungkus kepentingan yang ditetapkan oleh pemerintah yang cenderung bersikap anti-kritik, dan masalah-masalah lainnya yang memengaruhi perkembangan hidup dan kesejahteraan generasi muda. Tulisan ini juga menggunakan metode pendekatan kualitatif: studi atas fenomena trend #KaburAjaDulu yang kemudian dilihat lagi melalui studi literatur mengenai gagasan-gagasan filsafat tentang manusia dan psikologis usia generasi muda. Melalui tulisan ini, hal yang dapat penulis temukan adalah bahwa jika generasi muda adalah tonggak pembangunan negara, maka sudah seharusnya negara menjamin kesejahteraan hidup mereka dan mendukung pengembangan potensialitas mereka sehingga mereka dapat berkembang secara ideal dalam rentang usia mudanya. Namun, keadaan yang penuh kecarut-marutan ini mendorong mereka untuk kabur ke luar negeri karena beranggapan bahwa mereka akan lebih berkembang dan hidupnya terjamin ketika berada dan bekerja di luar negeri. Maka, tentunya untuk mengupayakan suatu perubahan diperlukan adanya transformasi diri terutama transformasi kesadaran dan mentalitas manusia sebagaimana kodratnya sebagai manusia. Dengan kesadaran dan mentalitas yang tertransformasi ini akan menjadi bekal untuk menuju ke transformasi situasi dan keadaan yang ada di luar diri manusia
Komposit Asphalt Polymer Wearing Coarse (AC-WC) dengan Buton Granular Asphalt (BGA) 15/20 pada Penetrasi 60/70 Menggunakan Fly Ash untuk Perkerasan Jalan Pesisir
Indonesia memiliki cadangan aspal alam yang cukup banyak di pulau Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Aspal ini dikenal dengan Asbuton. Asbuton dapat dijadikan suatu bahan tambah yang dapat mengurangi kebutuhan aspal minyak suatu campuran dan sekaligus dapat meningkatkan performa campuran aspal. Penelitian ini bertujuan mengetahui seberapa besar nilai karakteristik Marshall pada pencampuran aspal alam dan buatan dengan perbandingan penggunaan Buton Granular Asphalt dengan fly ash dan portland cement. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan percobaan untuk mendapatkan hasil, pemanfaatan BGA sebagai pencampuran dengan variasi kadar granular 10%, 20%, 30%, 40% dan 50% terhadap total campuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan granular dengan semen portland memiliki hasil terbaik dibanding dengan campuran fly ash. Semakin banyak granular yang digunakan, menyebabkan nilai stabilitas semakin meningkat. Pada kadar BGA 10% nilai stabilitas yang didapatkan sebesar 1.593,63 kg, pada saat kadar Buton Granular Asphalt ditambahkan sampai pada kadar 50%, nilai stabilitas meningkat menjadi 2.614,59 kg. Nilai stabilitas mengalami peningkatan seiring pertambahan kadar BGA. Dengan peningkatan rata-rata sebesar 2.047,83 kg. Kelelehan flow campuran mengalami peningkatan seiring pertambahan kadar Buton Granular Asphalt. Pada saat campuran menggunakan variasi BGA sebesar 10%, memiliki nilai flow sebesar 3,17 setelah divariasikan dengan kadar Buton Granular Asphalt sampai pada 50%, nilai flow meningkat menjadi 3,60 dengan rata-rata peningkatan sebesar 3,36. Kata kunci: campuran beton aspal, Buton Granular Asphalt, karakteristik Marshall, semen portlan
Rekonstruksi Sejarah Geologi Berdasarkan Analisis Stratigrafi Daerah Penyandingan dan Sekitarnya, Kecamatan Sosoh Buay Rayap, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan
Penelitian ini bertujuan merekonstruksi sejarah geologi Penyandingan dan Sekitarnya, Kecamatan Sosoh Buay Rayap, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan pada Cekungan Sumatera Selatan, berdasarkan analisis stratigrafi yang mencakup observasi lapangan, petrografi, dan mikropaleontologi. Hasil penelitian menunjukkan stratigrafi 5 formasi dari tua ke muda dengan siklus transgresi - regresi. Fase transgresi Miosen Awal – Tengah ditandai oleh pengendapan Formasi Baturaja (lingkungan Shallow Marine, sub fasies Outer Back Reef Lagoon) yang beda fasies menjari dengan Formasi Gumai (lingkungan Delta Front). Fase regresi Miosen Akhir – Pliosen dicirikan oleh kemunculan Formasi Air Benakat (lingkungan Upper Delta Plain) dan Formasi Muara Enim (lingkungan Upper Delta Plain - Fluvial) yang mengandung batubara. Kemudian mengalami deformasi akibat kompresi tektonik Pliosen – Plistosen yang menghasilkan lipatan dan sesar naik dengan orientasi Barat Laut – Tenggara. Terakhir, Formasi Kasai yang diendapkan secara tidak selaras (lingkungan Fluvial sub fasies Floodplain), akibat vulkanisme dan erosi formasi lebih tua.
Penekanan Arsitektur Neo-Vernakular dalam Perancangan Hotel Resort berbasis Alam di Bandung
Perancangan hotel resort berbasis alam dengan penekanan pada arsitektur neo-vernakular di Bandung bertujuan untuk mengintegrasikan elemen arsitektur tradisional dengan pendekatan modern yang berkelanjutan. Penelitian ini melibatkan analisis data, survei lokasi, studi literatur, dan studi preseden untuk menciptakan desain yang responsif terhadap lingkungan. Fokus utama adalah penggunaan material lokal, tata ruang yang adaptif, dan penerapan sistem bangunan pasif. Desain ini diharapkan menciptakan pengalaman ruang yang mendalam sekaligus mendukung kelestarian budaya dan daya tarik wisata Bandung
Analisis Kerusakan Jalan Menggunakan Metode Pavement Condition Index (PCI) dan Surface Distress Index (SDI) Jalan Imam Bonjol-Tangerang
Roads are one of the most important land transportation infrastructures that social and economic activities. Road damage reduces the level of service, increases transportation costs, and poses accident risks. This study aims to analyze the road condition, traffic volume, and maintenance strategy on Imam Bonjol Street, Tangerang, using the Pavement Condition Index (PCI), Surface Distress Index (SDI), and PKJI 2023 guidelines. The results show that the average PCI value is 58,07 (Poor category), with 75% of road segments in Poor condition, 20% Fair, and 5% Very Poor. The SDI values range from 0-55, indicating good to moderate condition. Traffic volume analysis reveals the dominance of passenger cars and motorcycles with peak flows in the morning and evening. Recommended maintenance strategies include structural rehabilitation for severely damaged segments, overlay for moderate damage, and routine maintenance for still-serviceable sections. These findings are expected to provide a basis for prioritizing road maintenance effectively and efficiently
Pedoman Khusus Pemanfaatan Switching Untuk Pembebasan Tegangan dan Pemberian Tegangan Penghantar 150 kV Tanjung Kasam-Tanjung Uban 2 dan Gardu Induk Ngenang
Switching manuver adalah proses membuka dan menutup komponen-komponen pada Sistem Tenaga Listrik (STL) seperti Pemutus (PMT) dan Pemisah (PMS) sebelum dan sesudah pekerjaan instalasi kelistrikan, baik instalasi transmisi, pembangkitan dan distribusi yang bertujuan untuk memastikan keselamatan dan kelancaran pekerjaan instalasi. Gardu Induk (GI) Ngenang adalah GI yang berada pada sistem Bintan, di mana gardu induk tersebut memiliki desain khusus yang tidak memiliki Bay Penghantar 150 kV atau sering disebut Gardu Induk Cantol. Gardu Induk Ngenang terletak pada Line 2 Bay Penghantar Tanjung Kasam-Tanjung Uban dengan memanfaatkan line penghantar tersebut sebagai busbar 150 kV. Dengan kondisi tersebut maka ketika pemeliharaan Bay Penghantar Tanjung Kasam-Tanjung Uban 2 tentunya akan berdampak padam pada Gardu Induk Ngenang. Permasalahan timbul ketika ada pekerjaan perbaikan pondasi Lightning Arrester (LA) pada penghantar tersebut, di mana butuh pemadaman line penghantar selama 8 jam dengan durasi pekerjaan 6 hari. Hal ini tentunya sangat memberatkan dikarenakan Gardu Induk Ngenang harus padam 8 jam selama 6 hari. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk merancang prosedur khusus Switching Pembebasan Tegangan dan Pemberian Tegangan Penghantar 150 kV Tanjung Kasam-Tanjung Uban 2 dan Gardu Induk Ngenang agar dapat meminimalisir dampak padam yang ada di Gardu Induk Ngenang. Dengan adanya Prosedur Khusus Switching tersebut berdampak pada perbaikan kinerja System Average Interruption Duration Index (SAIDI) sebesar 89% dan System Average Interruption Frequency Index (SAIFI) sebesar 50% serta Energy Not Serve (ENS) sebesar 89%. Kata kunci: manuver, switching, gardu induk, K3, fokus pelangga
Pendekatan Isochrone terhadap Aksesibilitas Kawasan Transit-Oriented Development (TOD) pada Pembangunan Stasiun Tenjo Baru, Kabupaten Bogor
Kompleksitas transportasi di Jabodetabek mendorong pengembangan kawasan berbasis Transit-Oriented Development (TOD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat aksesibilitas pejalan kaki di kawasan pengembangan TOD Stasiun Tenjo Baru, Kabupaten Bogor, dengan menggunakan pendekatan isochrone berbasis waktu tempuh. Metode yang digunakan adalah analisis spasial menggunakan teknik Isochrone Convex Hull melalui pemrograman Python dengan library OSMnx, GeoPandas dan NetworkX, berdasarkan data jaringan jalan dari OpenStreetMap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas pejalan kaki di sekitar Stasiun Tenjo Baru belum optimal sesuai prinsip TOD. Area yang dapat dijangkau dalam waktu 10 menit berjalan kaki masih sangat terbatas, hanya mencakup sebagian kecil Podomoro City. Distribusi penggunaan lahan masih didominasi fungsi residensial (2.331 unit dalam radius 30 menit), sementara fasilitas nonresidensial seperti komersial, retail dan publik masih minim. Jaringan jalan menunjukkan karakteristik tidak homogen dengan bottleneck dan dead-end roads di luar kawasan perumahan, serta ketiadaan konektivitas ke arah utara stasiun. Analisis ini mengungkap kesenjangan antara kondisi eksisting dengan rencana pengembangan TOD, di mana capture rate stasiun berisiko rendah akibat keterbatasan aksesibilitas. Disimpulkan bahwa pengembangan TOD di Stasiun Tenjo Baru masih dalam tahap awal dengan tantangan utama pada asimetri aksesibilitas dan dominasi fungsi residensial, sehingga diperlukan intervensi perencanaan berbasis bukti spasial untuk mencapai prinsip TOD yang optimal. Kata kunci: aksesibilitas, isochrone, Transit-Oriented Development, Stasiun Tenjo Baru, walkability, perencanaan transprotas