e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4237 research outputs found
Sort by
ARAH KEBIJAKAN KESEHATAN MENTAL: TREN GLOBAL DAN NASIONAL SERTA TANTANGAN AKTUAL
Globally, during the last three decades, mental health has played significant role in regards to the discourse of global health policy. Since two decades ago, WHO has firmly defined health as a rounded state of condition where an individual reaches “…not merely absence of the illness, but also achieves physical, mental and social well-being.” WHO’s definition of health implies a significant impact on global health policy – all member of states should adhere their health policy to this definition. The Global Burden of Disease study carried out by WHO in 2012 that mapped out the burden of disease around the world revealed an appalling fact namely worsened mental health condition. Years lost due to disability (YLD) study mentioned that 6 out to 20 diseases that were most responsible in causing disability were mental illnesses. Therefore, this article aimed to describe the mental illness prevalence in global and national level by reviewing several mental illness epidemiological studies. Additionally, this article highlighted some of important challenges that should be considered by healthcare service providers and policymakers in tackling mental health issues, which are treatment gap and mental health stigma
Faktor Determinan Penyakit Jantung Koroner pada Kelompok Umur 25-65 tahun di Kota Bogor
Background: Coronary Heart Disease (CHD) is the highest prevalence of Non Communicable disease (NCD) in general population. It affects the morbidity, disability, and mortality rate. The factors that are related to CHD can be controlled and the occurrence of CHD can be prevented. Aim of this study is to identify the determinant factors that are related to CHD on residents in Central Bogor village, Indonesia. Method: The data for this study is based on the baseline data of 2011-2012 NCD cohort study of Central Bogor village in Bogor city of West Java province. Diagnosis of CHD are based on the symptoms of CHD by interview and ECG examination. There are respondents, male and female, aged 25-65 years. Multivariate analysis had been done to describe the factors that influenced CHD. Results: The prevalence of CHD is 20,9 ± 0,41 percent in aged 25-65 years of Central Bogor population. Risk factors that are related to CHD are: stroke, 3.5 times (95% CI 2.0-5.9); hypertension, 1.6 times (95% CI 1.3-1.9); followed by IFG, 1.5 times (95% CI 1.1-1.9); diabetes mellitus, 1.2 times (95% CI: 0.8-1.6); emotional disorders, 1.4 times (95% CI: 1.2-1.7); LDL, 1.3 times (95% CI: 1.0-1.6); obese based on BMI, 1.2 times (95% CI: 1.0-1.5); compared to population with no risk factors. The proportion of CHD in female 1.9 times more than males and there are increasing with age. Conclusion: hypertension and hyperglycemia are the determinant factors of developing CHD. It is recommended develop a CHD risk guidebook to raise public awareness about CHD risk factors.
GAMBARAN STATUS GIZI, STATUS IODIUM DAN FUNGSI TIROID PADA WANITA USIA SUBUR DI DAERAH ENDEMIK GAKI
Gangguan akibat kekurangan Iodium di Indonesia masih merupakan salah satu masalah gizi utama di samping 3 masalah gizi lain yaitu KEP, Kekurangan Zat Besi, Kekurangan Vitamin A. Akibat dari kekurangan iodium ini berdampak luas dan dapat menghambat pertumbuhan fsik dan perkembangan mental yang akan berimplikasi pada penurunan sumber daya manusia. Manifestasi klinis yang klasik dari Gangguan Akibat Kekurangan Iodium adalah goiter dan kretin. Saat ini di kabupaten Purworejo masih dijumpai lahir kretin baru, sehingga peneliti ingin melihat bagaimana gambaran fungsi tiroid maupun status iodium pada Wanita Usia Subur di daerah yang ditemukan kretin baru. Melihat gambaran fungsi tiroid, status iodium dan status gizi pada Wanita Usia Subur di daerah endemik gondok. Jenis penelitian adalah cross-sectional, dengan subyek Wanita Usia Subur sebanyak 97 orang, usia 15 – 45 tahun. Subyek diperoleh dengan cara menskreening semua Wanita Usia Subur yang ada di daerah tersebut kemudian diambil yang memiliki nilai TSH > 2,5 µIU/mL. Subyek diambil sampel darah untuk pemeriksaan TSH dan FreeT4 dan urin diambil untuk analisis kadar iodium dalam urin (UIE). Analisa TSH dan FreeT4 menggunakan metode ELISA dan UIE dianalisa dengan metode Spektrofotometer. Dilakukan juga pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk melihat status gizi. Usia responden paling banyak 31 – 40 tahun, dengan pendidikan sebanyak 75,3% kurang dari 9 tahun, dan 45,3 % bekerja sebagai petani. Status gizi 69 % normal, fungsi tiroid sebagian besar normal (91,7%), dan 6,2 % hipotiroid subklinik, serta 2,1% mengalami resistensi hormone tiroid. Status iodium menunjukkan nilai median UIE sebesar 76 µIU/L dengan kadar iodium urin 62,9% kurang dari 100 µIU/L yang berada dalm kategori defsiensi iodium ringan. Pada penelitian ini tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan fungsi tiroid maupun tidak ada hubungan yang bermakna antara status iodium berdasar nilai UIE dengan fungsi tiroid berdasar nilai TSH dan FreeT4. Sebagian besar fungsi tiroid pada WUS normal, dan berdasar status iodium daerah tersebut termasuk daerah endemik ringan
Faktor yang Berperan terhadap Anemia pada Pekerja Perempuan Usia Produktif di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar 2013
Anemia is still a problem for public health, especially in women. In 2010, the prevalence of anemia in the world was 32.9%. This article presents further analysis to determine the factors that contribute to anemia in female workers of productive age in Indonesia. Data source was Basic Health Research (Riskesdas) year 2013, with sample’s criteria: women, working, age of 15-64 years old, and not pregnant. The dependent variable was anemia based on Hemoglobin examination by Hemocue.The independent variables included individual characteristics, shelter, disease history, pregnancy and miscarriage, and nutritional status. Data were analyzed using complex sampling, 0.05 significance level, and 95% confidence interval. The number of samples that met the criteria was 8612 people. Factors contributed to anemia were age, number of pregnancy, and nutritional status (OR adjusted 1.53-1.83). Anemia increased 1.8 and 1.6 times at age of 55-64 years old and 45-54 years compared to age 15-24years. Anemia increased 1.47 times in those with children more than 5 compared with female had no children. Anemia increased 1.27 times in low nutritional status compared to normal. Factors contributing to the occurrence of anemia in female workers were age, number of children and nutritional status (OR adjusted 1.53-1.83). Improved nutritional status and increased knowledge of nutritious foods should be attempted to reduce the incidence of anemia. AbstrakAnemia masih merupakan masalah bagi kesehatan masyarakat terutama pada perempuan. Prevalensi anemia di dunia tahun 2010 dilaporkan 32,9%. Analisis lanjut ini bertujuan menentukan faktor yang berperan terhadap anemia pada pekerja perempuan usia produktif di Indonesia. Sumber data adalah Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, kriteria sampel: perempuan, status bekerja, umur 15-64 tahun, dan tidak hamil. Variabel terikat adalah anemia berdasarkan pemeriksaan hemoglobin dengan hemocue. Variabel bebas meliputi karakteristik individu, tempat tinggal, riwayat penyakit, kehamilan dan keguguran, dan indeks massa tubuh. Data dianalisis dengan kompleks sampel, tingkat kemaknaan 0,05 dan confidence interval 95%. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 8.612 orang. Anemia meningkat 1,8 dan 1,6 kali pada umur 55-64 tahun dan 45-54 tahun dibandingkan umur 15-24 tahun. Anemia meningkat 1,47 kali pada yang memiliki anak > 5 orang dibandingkan perempuan yang tidak punya anak. Anemia meningkat 1,27 kali pada status gizi kurang dibandingkan status gizi normal. Faktor berperan dalam terjadinya anemia pada pekerja perempuan adalah umur, jumlah anak, dan status gizi (OR adjusted 1,53-1,83). Perbaikan status gizi dan peningkatan pengetahuan tentang makanan bergizi perlu diupayakan untuk menurunkan kejadian anemia
FAKTOR LINGKUNGAN BIOTIK DALAM KEJADIAN LUAR BIASA LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN TANGERANG, BANTEN, INDONESIA
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp. Leptospirosis menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kasus leptospirosis di Kabupaten Tangerang tahun 2015 mengalami peningkatan kasus di mana kasus terbanyak salah satunya di wilayah Puskesmas Kronjo. Faktor lingkungan berpengaruh terhadap penyebaran penyakit leptospirosis salah satunya faktor biotik. Tujuan penelitian menganalisis hubungan faktor lingkungan biotik terhadap kejadian leptospirosis di Kabupaten Tangerang. Penelitian dilakukan secara cross sectional dengan pendekatan observasi lokasi, dan observasi secara kuisioner lingkungan biotik rumah penduduk. Data yang dikumpulkan meliputi adanya keberadaan hewan peliharaan di rumah, dan tanaman di sekitar rumah. Data keberhasilan penangkapan tikus dilakukan dengan penangkapan tikus di lokasi. Data dianalisis secara deskriftif dan analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukkan adanya tanaman (OR = 1,103; 95% CI= 0,987-1,234; p = 0,579) dan hewan peliharaan (OR = 0,567; 95% CI= 0,47-6,895; p = 0,653) bukan merupakan faktor resiko lingkungan biotik dalam kejadian luar biasa leptospirosis. Tingginya trap success di lokasi penelitian dapat merupakan resiko potensial untuk kejadian leptospirosi
Pelatihan Soft Skill Caring Meningkatkan Kualitas Pelayanan Keperawatan dan Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Kota Bandung
Kualitas perawat ditentukan oleh kompetensi hard dan soft skill. Caring sebagai bagian dari soft skill adalah esensi mendasar pada profesi perawat. Penilaian pasien mengenai soft skill caring perawat adalah indikator dari kualitas pelayanan keperawatan. Tujuan penelitian untuk mengembangkan model pelatihan soft skill caring dan mengidentifikasi model tersebut terhadap kualitas keperawatan dan kepuasan pasien. Desain pra-eksperimen dengan pretest-posttest tanpa kontrol dengan melibatkan 53 perawat dan 53 pasien pada dua rumah sakit swasta di Kota Bandung. Instrumen penelitian diadaptasi dari Caring Nurse Patient Interactions Scale (CNPI) dan kepuasan pasien diadaptasi dari patient satisfaction with nursing care. Intervensi terdiri dari (1) pemberian materi selama 3 hari, (2) post pelatihan 2, 4 dan 6 minggu. Analisis data dilakukan untuk melihat perubahan penilaian soft skill caring perawat serta kepuasan pasien sebelum dan sesudah intervensi-pelatihan menggunakan uji paired t-test. Analisis General Linier Model Repeated Measure (GLM-RM) dipergunakan untuk analisis follow-up 4 dan 6 minggu. Hasil penelitian menunjukkan model pelatihan soft skill caring terbukti efektif meningkatkan penilaian perawat dan kepuasan pasien, serta dapat dimanfaatkan bagi perawat di rumah sakit
Gambaran Out of Pocket pada Awal Era JKN di Indonesia
Pogram Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) salah satunya bertujuan memberikan perlindungan finansial khususnyabiayakatastropik terhadapsemuapeserta. PenerimamanfaatJKNberhakmendapatkanberbagai layanan sebagai bagian dari paket manfaat dasar tanpa mengeluarkan biaya pelayanan, dan diharapkan Out of Pocket (OOP) akan lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki asuransi kesehatan. Tujuan penulisan akan membandingkan total pengeluaran untuk kesehatan dari peserta jaminan kesehatan dengan yang tidak memiliki jaminan kesehatan pada awal era JKN. Dalam analisis ini, pengukuran pengeluaran perawatan kesehatan hanya mencakup biaya pengobatan langsung, seperti biaya konsultasi, pemakaian kamar di rumahsakit dan obat-obatan. Analisis dengan menggunakan data Susenas 2014 terdiri dari 274.673 individu dan 71.051 rumah tangga di 33 provinsi di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal era JKN ada sedikit perbedaan OOP pada penduduk miskin dibandingkan dengan penduduk dimana proteksi finansial terhadap penduduk miskin untuk pengeluaran kesehatan masih rendah.Kepemilikan jaminan kesehatan memberikan proteksi finansial akibat pengeluaran biayakesehatan,khususnyapengeluaranbiayakatastropik dibandingkandengan yangtidak memilikijaminan kesehatan. Kepesertaan penduduk miskin ditargetkan tahun 2019 sudah terpenuhi sehingga target pemerintah tentang Universal Health Coverage (UHC) perlindungan finansial pada penduduk miskin dan hampir miskin semakin tinggi atau OOPsemakin mendekati nol.Key words: OOP, Pembiayaan,Asuransi Kesehata