Jurnal Pengembangan Kota
Not a member yet
169 research outputs found
Sort by
ANALISIS PERBANDINGAN GREEN URBANISM DI KOTA JAKARTA DAN SURABAYA
Pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan terus meningkat dan meninmbulkan beragam permasalahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana Kota Jakarta dan Surabaya dalam menerapkan prinsip Green Urbanism. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang berfokus pada analisis perbandingan penerapan Green Urbanism di Kota Jakarta dan Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan dalam melakukan analisis data dibantu dengan perangkat lunak Nvivo 12 Plus. Hasil penelitian yaitu, Kota Jakarta lebih dominan menerapkan prinsip Urban planning and transport dengan angka 32,89% dan Water and Biodiversity sebesar 25%. Sedangkan Kota Surabaya menekankan pada prinsip urban planning and transport dengan angka 48,15% dan socio-cultural features yang memiliki angka 29,63%
POTENSI PENGEMBANGAN KAWASAN BERBASIS TOD PADA KAWASAN STASIUN PASAR SENEN
TOD merupakan perencanan kawasan berkelanjutan yang mengintegrasikan antara kebutuhan transportasi dengan efisiensi lahan perkotaan. Kawasan Senen merupakan salah satu kawasan strategis di Jakarta karena merupakan pusat kegiatan sekunder dan juga Pusat Pelayanan Kota. Melalui RDTR DKI Jakarta 2022 dan Perpres No 60 tahun 2020 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Jabodetabekpunjur, Stasiun Pasar Senen ditetapkan sebagai TOD Kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur potensi eksisting Kawasan Stasiun Pasar Senen sebagai kawasan TOD kota. Pengukuran dilakukan dengan menghitung TOD Indeks yang berasal dari indikator–indikator utama dalam perancangan kawasan TOD. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kawasan Stasiun Pasar Senen belum optimal sebagai TOD Kota. Nilai TOD indeks Kawasan Stasiun Pasar Senen adalah 0.63 yang tergolong cukup tinggi melebihi 0.5 namun masih jauh dari nilai optimal TOD. Kondisi saat ini masih jauh dari prinsip-prinsip TOD, khususnya pada kepadatan kawasan serta infrastruktur pejalan kaki. Pengembangan TOD Kawasan Stasiun Pasar Senen perlu memaksimalkan fungsi lahan campuran dan penyediaan infrastruktur pejalan kaki
PENERAPAN KONSEP TEKNOLOGI BAHAN BAKAR JUMPUTAN PADAT (BBJP) SEBAGAI UPAYA MENGURANGI KEBUTUHAN LAHAN TEMPAT PEMROSESAN AKHIR SAMPAH CILOWONG, SERANG, BANTEN
Timbulan sampah yang tidak sebanding dengan ketersediaan lahan TPA telah menjadi masalah utama pengelolaan sampah di perkotaan. Hal tersebut juga terjadi di Kota dan Kabupaten Serang Provinsi Banten. TPA yang melayani Sampah dari kedua daerah tersebut yaitu TPA Cilowong saat ini sudah melebihi kapasitas. Di sisi lain sampah dari dua daerah tersebut berpotensi untuk dibuat Bahan Bakar Jemputan Padat (BBJP) atau bahan bakar jumputan padat (BBJP). Penelitian ini bertujuan untuk membahas upaya mengurangi kebutuhan lahan TPA dengan mengolah sampah yang masuk ke TPA menjadi BBJP. Metodologi yang digunakan adalah menggunakan metoda kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui potensi kalor sampah yang masuk ke TPA Cilowong dalam keadaan kering yaitu 5.626,67 kCal/Kg layak untuk dijadikan BBJP. Dengan jumlah sampah setiap hari sebanyak 454 ton/hari maka dapat dihasilkan BBJP sebanyak 136–181 ton setiap harinya. Selain itu, di Kota dan Kabupaten Serang terdapat potensi pemanfaatan BBJP pada lima PLTU dan dua pabrik semen yang saat ini menggunakan batu bara. Dengan mengolah sampah yang masuk ke TPA Cilowong menjadi BBJP maka dapat mengurangi kebutuhan lahan TPA untuk 10 tahun ke depan seluas 67 Ha. Artikel ini memiliki kontribusi bagi bidang ilmu teknik lingkungan dan perencanaan wilayah terutama perencanaan infrastruktur pengelolaan sampah
KAJIAN KARAKTERISTIK KAWASAN TUNJUNGAN SEBAGAI HERITAGE KOTA SURABAYA
Surabaya merupakan salah satu kota tertua di Indonesia. Perkembangan arsitektur turut serta bertumbuh selaju dengan pertumbuhan ekonomi, sosial, dan bisnis di Kota Surabaya. Upaya revitalisasi maupun pemanfaatan kembali bangunan pada kawasan Tunjungan digencarkan beberapa tahun terakhir. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik, langgam arsitektur, kesesuaian antara karakteristik heritage kota pada kawasan Tunjungan, serta elemen perancangan kota yang diterapkan saat ini untuk mendukung citra kota sebagai kawasan heritage dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif berdasarkan temuan sejarah. Diawali dengan menganalisa sejarah di Surabaya dari artikel, jurnal, buku, dan arsip gambar, dilanjutkan dengan melakukan observasi lapangan yakni dengan mengunjungi bangunan–bangunan heritage yang berdiri di sepanjang Jalan Tunjungan untuk mengidentifikasi langgam arsitektur yang digunakan pada bangunan heritage. Ditemukan karakteristik kawasan heritage yakni terkait fungsi, ciri, serta latar belakang sejarah bangunan. Disamping itu, karakteristik langgam arsitektur pada bangunan yang berdiri di sepanjang kawasan Tunjungan terdiri dari berbagai macam gaya dengan periodesasi yang berbeda. Penelitian ini berguna sebagai acuan perencanaan menghidupkan semangat heritage sebagai tujuan wisata Kota Surabaya pada kawasan Tunjungan dan dapat membantu perencana maupun konsultan yang melaksanakan kegiatan revitalisasi maupun konservasi bangunan
DETERMINATION OF URBAN SPRAWL PHENOMENON IN PEKALONGAN CITY AND ITS SURROUNDING
Urbanization defines as a spatial and socio-economic transformation process from rural to urban areas. While urban sprawl is the process of propagation of the appearance of urban physical characteristics from the inner city toward the urban fringe area. Pekalongan City has grown from a small town to a medium-sized city with a population of 300,000 people. This study aims to identify the phenomenon of urban sprawl in Pekalongan City and its surroundings (Pekalongan and Batang Regency) and identify the urban environment quality based on the condition of the public services availability in these urban areas. The data used in this study were the 2019 Village Potential (PODES) from the Central Agency on Statistics (BPS) and a digital base map from the Geospatial Information Agency (BIG). The urban-rural classification scoring from the BPS was used to identify urban areas as the method in this study. The results showed that 111 out of 285 villages in Pekalongan Regency and 63 out of 248 villages in Batang Regency could already be classified as urban areas and formed an urban agglomeration with Pekalongan City. This study also showed that the environmental quality in urban areas with urban sprawl phenomenon has met the standards and criteria for urban public services compared to other areas
POTENSI WILAYAH PERKOTAAN POLISENTRIS PADA SURAKARTA RAYA DITINJAU DARI PERSPEKTIF PUSAT AKTIVITAS
Urbanisasi yang pesat di negara-negara berkembang sering kali menciptakan ketimpangan wilayah sehingga muncul urgensi perencanaan Wilayah Perkotaan Polisentris. Surakarta Raya, sebagai contoh wilayah di Indonesia yang mengalami urbanisasi cepat, menghasilkan pusat-pusat aktivitas baru yang disebabkan oleh urbanisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana potensi struktur ruang Surakarta Raya dengan pendekatan Wilayah Perkotaan Polisentris dari perspektif pembentukan pusat aktivitas melalui variabel pola penggunaan lahan, harga lahan, kepadatan penduduk, dan fasilitas umum. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui analisis klaster k-means yang dispasialkan. Hasil analisis menunjukkan adanya potensi perkembangan pada beberapa pusat aktivitas perkotaan di Surakarta Raya yang dapat membentuk struktur ruang polisentris. Terkait dengan fenomena tersebut, diperlukan perencanaan tata ruang wilayah yang mengatur konsentrasi pusat aktivitas sehingga dapat mencegah ketimpangan wilayah di Surakarta Raya. Penelitian selanjutnya dapat memperluas fokus pada proses spesialisasi ekonomi dan mobilitas antar wilayah dalam konteks Wilayah Perkotaan Polisentris
ANALISIS SPASIAL KERAPATAN VEGETASI KOTA AMBON BERBASIS NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI)
Perencanaan dan pengelolaan kota merupakan hal yang kompleks sebagai dampak dari proses urbanisasi yang mempengaruhi tutupan lahan dan terkait erat dengan aktivitas manusia yang secara efektif mencerminkan atribut sosial ekonomi. Identifikasi yang akurat pada pola tutupan lahan perkotaan sangat penting untuk optimasi rasional terhadap struktur perkotaan dan memainkan peran kunci dalam terhadap berbagai perubahan yang memengaruhi ekosistem dan keanekaragaman hayati. Tujuan penelitian yang akan dicapai yaitu untuk menganalisis kerapatan vegetasi Kota Ambon berbasis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), dengan penggunaan data spasial penginderaan jauh citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS Path 109 Row 63. Hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan citra penginderaan jauh Landsat 8 OLI/TIRS perekaman 24 Maret 2022 Kota Ambon diklasifikasikan menjadi 5 kelas kerapatan vegetasi. Tingkat kerapatan tidak terinterpretasi (awan) memiliki luas 302,68 Ha (0.9%), Tingkat kerapatan tidak rapat memiliki luas 716,33 Ha (2.7%), Tingkat kerapatan cukup rapat memiliki luas 1367 Ha (4.2%), Tingkat kerapatan rapat memiliki luasan 3.154,70 Ha (9.7%), Tingkat kerapatan sangat rapat memiliki luasan 27.026,43 Ha (83%)
PERKEMBANGAN FUNGSI PERKOTAAN KAWASAN KOTABARU, KOTA YOGYAKARTA DITINJAU PADA PERIODE 1925 DAN 2021
Perkembangan kawasan dipengaruhi oleh perkembangan aktivitas manusia dan kebijakan di kawasan tersebut. Hal ini menyebabkan perkembangan fungsi kawasan. Kawasan Kotabaru merupakan kawasan lama di Kota Yogyakarta yang keberadaannya sudah ada sejak dahulu dan telah mengalami perkembangan sampai saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perkembangan fungsi Kawasan Kotabaru. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deduktif-kuantitatif-kualitatif. Unit amatan dalam penelitian ini yaitu peta lama tahun 1925 dan citra google earth tahun 2021. Adapun unit analisis dalam penelitian ini yaitu fungsi Kawasan Kotabaru. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menemukan besaran fungsi bangunan. Adapun pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan dan menyimpulkan hasil dominasi fungsi di kawasan ini, serta analisis lebih lanjut dikaikan dengan Rencana Detil Tata Ruang pada kawasan ini. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa terjadi perkembangan fungsi kawasan di Kawasan Kotabaru, dari fungsi permukiman di tahun 1925 berubah menjadi fungsi pendidikan di tahun 2021. Perubahan fungsi perkotaan juga merupakan upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat, di tengah terbatasnya lahan di kota menyebabkan alih fungsi bangunan lama atau bersejarah menjadi hal yang tak terhindarkan. Oleh karena itu agar bangunan-bangunan lama yang dibangun pada awal Kawasan Kotabaru tidak hilang ataupun hancur, perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian
FINDING THE CRAMPED SPACE IN A CITY: THE ACCESSIBILITY ASSESSMENT OF PONTIANAK CITY BASED ON THE GRIDDED POPULATION DENSITY
Recently, the data on population distribution only illustrates a number of density of a city or a district. Thus, it can not show the exact area of the crowded population. The population density in a city can cause a mismatch between the available space and the carrying capacity of its environment. The discrepancy can make it challenging to allocate resources or assistance in a disaster. In this regard, it is necessary to conduct research on the population's spatial distribution and the potential for movement between spatial segments. It is important to locate the cramped space where the space has high density but low accessibility in the city. This study aimed to determine the distribution of the population in the grid of 0.5 km and its assessment on accessibility in Pontianak City. The methodology used in this research is the population mapping method and space syntax. This research performs a quadrant mapping and correlation analysis to assess city accessibility. The result of the population distribution of Pontianak City shows the density concentrated in the city's center and dispersed from the river to inland. The quadrant maps show that Pontianak City has good accessibility. The quadrant map can be used as a recommendation for city development. With the quadrant division, the government can first concentrate its resources on repairing or developing the grid unit with low accessibility. With a coefficient correlation of 40.5 % and 50.9 %, this research found a positive and moderate correlation between density distribution and accessibility
KESETARAAN GENDER DAN KETERKAITANNYA DENGAN MODAL SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT DI INDONESIA: STUDI KASUS KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU, JAWA TIMUR
Kesetaraan gender masuk dalam pilar nomor 5 dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, sebagai salah satu pendekatan komprehensif untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat di suatu wilayah. Tujuan utama penelitian ini untuk menyelidiki keterkaitan antara nilai kesetaraan gender dengan ikatan sosial dalam masyarakat, guna menyusun rekomendasi kebijakan publik dalam pengentasan kemiskinan. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan metode analisis yaitu mengukur kesetaraan gender (Gender Inequality Index) dan mengukur dua indeks modal sosial (rate of participation dan kepadatan), dimana sampel penelitian dibedakan menjadi sampel rumah tangga miskin dan tidak miskin yang terbagi secara proporsional pada total 330 responden. Temuan hasil analisis menunjukan bahwa rumah tangga miskin memiliki indeks ketimpangan gender yang lebih tinggi daripada rumah tangga tidak miskin, dan rumah tangga miskin memiliki ikatan sosial yang lebih rendah dibandingkan rumah tangga tidak miskin. Hal Ini menyiratkan bahwa masyarakat dengan kesetaraan gender yang baik, dan ikatan sosial yang kuat melalui afiliasi anggota masyarakat dengan lembaga eksisting dapat memberikan peluang lebih besar untuk terwujudkan kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi. Kesimpulannya, penguatan ikatan sosial di antara anggota masyarakat dapat memperluas perspektif masyarakat tentang betapa pentingnya kesetaraan gender sebagai bagian dari tindakan mereka untuk mengatasi kemiskinan