Latar Belakang: Bell’s palsy merupakan kelumpuhan wajah fase akut yang
penyebabnya tidak diketahui, diduga karena proses inflamasi non supuratif saraf
fasialis yang terjadi di foramen stylomastoideus. Permasalahan yang timbul pada
bell’s palsy dimulai dengan adanya nyeri didaerah processus mastoideus yang
kemudian terjadi kelumpuhan pada salah satu sisi wajah yang menyebabkan
kemampuan fungsional salah satu sisi wajah menurun.
Tujuan Penelitian: untuk mengetahui pengaruh penambahan manipulasi saraf
fasialis pada terapi latihan terhadap peningkatan kemampuan fungsional Bell’s
Palsy.
Metode Penelitian: quasi experimental dan menggunakan pendekatan metode
penelitian single-case research serta desain yang digunakan adalah A-B-A
Design. Responden yang diteliti berjumlah 2 orang, yang sesuai dengan kriteria
inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian dengan eksperimen dianalisa dengan Single-
Case Research, data dianalisa menggunakan statistik deskriptif menggunakan
grafik garis sebagai suatu gambaran dari pelaksanaan dan hasil eksperimen.
Hasil penelitian: single-case research serta menggunakan A-B-A Design, fase
Baseline 1 selama 7 hari awal, fase Treatment selama 14 hari, dan fase Baseline 2
selama 7 hari akhir/ follow up. menunjukkan ada perbedaan yang bermakna,
dimana pasien yang diberi Penambahan Manipulasi Saraf Fasialis pada Terapi
Latihan mengalami peningkatan yang signifikan dengan nilai Ugo Fisch Scale
akhir 100 poin, (Derajat I) Normal, sedangkan pasien yang hanya diberi Terapi
Latihan mengalami sedikit peningkatan dengan nilai Ugo Fisch Scale akhir 54
poin (Derajat III) Kelumpuhan sedang.
Kesimpulan: Penambahan manipulasi saraf fasialis pada terapi latihan terbukti
dapat meningkatkan kemampuan fungsional pada Bell’s Palsy dari pada hanya
diberi terapi latihan