Di era global seperti saat ini perusahaan diharuskan untuk meningkatkan
efisiensi serta efektivitas proses produksinya agar dapat meningkatkan daya
saingnya, persaingan di dunia global saat ini tidak hanya menuntut perusahaan
untuk memproduksi barang sebanyak-banyaknya namun bagaimana produsen
barang tersebut tepat dalam metode perhitungan harga produksinya. Apabila
perhitungan harga pokok produksi kurang tepat dalam perhitungannya, maka yang
akan terjadi adalah harga barang produksi terlalu mahal sehingga produk tidak
diminati konsumen, sebaliknya apabila harga terlalu rendah memang akan
menarik minat konsumen untuk membeli produk hasil produksi perusahaan
namun hal ini menyebabkan hasil penjualan tidak dapat menutup biaya produksi
apabila keadaan ini terus berlanjut maka dapat menyebabkan kebangkrutan
perusahaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perhitungan harga
pkok produksi dengan sistem tradisional dan activity based costing yang
dilakukan pada UKM kerajinan kulit Manding yang memproduksi tas dan dompet
Hasil penelitian keseluruhan adalah harga pokok produksi dengan sistem
activity based costing pada tas dan dompet di 2 UKM Manding lebih besar
daripada sistem tradisional. Perbedaan yang terjadi antara harga pokok sistem
tradisional dan activity based costing disebabkan karena pembebanan overhead
pada activity based costing disesuaikan dengan aktivitas-aktivitas yang dilakukan
dalam pembuatan dompet. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendekatan sistem
activity based costing untuk menentukan harga pokok produksi pada UKM
kerajinan kulit Manding tidak efisien