Judul Disertasi ini: “Nilai-Nilai Sufistik Syāir-Syāir Hamzah Fansuri (Analisis
Tematik Kitab Asrārul „Ārifῑn), oleh: Mardinal Tarigan. NIM: 94311030240. Program
Studi: Agama dan Filsafat Islām Universitas Islām Negeri Sumatera Utara di Medan.
Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis nilai-nilai sufistik Syāir-
Syāir Hamzah Fansuri dalam Kitab Asrārul „Ārifῑn. Manusia hendaklah mencari
Tuhan supaya mengenal Allāh swt., ṣifat dan asmā‟-Nya. Melaksanakan syari‟at,
tariqat, haqiqat dan makrifat.
Masalah utama penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai sufistik Syāir-
Syāir Hamzah Fansuri dalam Kitab Asrārul „Ārifῑn, yang dirinci ke dalam sub-sub
masalah: apa sebab-sebab penciptaan, bagaimana menjelaskan munculnya yang
banyak (aneka) dari Yang Satu serta apa hubungan ontologis antara Tuhan,
manusia dan „ālam.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai sufistik syāirsyāir
Hamzah Fansuri dalam Kitab Asrārul „Ārifῑn, dengan sub tujuan untuk
mengetahui penjelasan sebab-sebab penciptaan, bagaimana menjelaskan
munculnya yang banyak (aneka) dari Yang Satu serta untuk mengetahui apa
hubungan ontologis antara Tuhan, manusia dan „ālam.
Objek penelitian ini pemikiran tokoh taṣawuf yang hidup pada masa lalu,
secara metodologis menggunakan pendekatan sejarah (historical approarch).
Metode yang digunakan dalam mengumpulkan dan mencari data melalui
penelitian perpustakaan (Library Research) dengan mengumpulkan karya
Hamzah Fansuri sebagai data primer maupun karya tokoh tentang Hamzah
Fansuri sebagai sumber data skunder. Dalam menganalisis data, digunakan
analisis isi (contens analysis), yaitu untuk menganalisis makna yang terkandung
dalam syāir-syāir dan pemikiran Hamzah Fansuri. Dari kandungan isi syāir-syāir
dan gagasan Hamzah Fansuri dilakukan klasifikasi yang disusun secara logis
dengan menggunakan analisi tematik (tematic analysis), yaitu menganalisis isi
kandungan dari tema sentral nilai-nilai sufistik Syāir-Syāir Hamzah Fansuri dalam
kitab Kitab Asrārul „Ārifῑn.
Konsepsi Hamzah Fansuri tentang Waḥdatul Wujūd (wujūdiyah) untuk
menyatakan bahwa keesaan Tuhan (tauḥῑd) tidak bertentangan dengan gagasan
tentang penampakan pengetahuan-Nya di „ālam fenomena („ālam al-khalq).
Tuhan sebagai Żāt mutlak satu-satunya di dalam keesaan-Nya memang tanpa
sekutu dan bandingan, dan karenanya Tuhan adalah transenden (tanzῑh). Tetapi
karena Dia menampakkan wajah-Nya serta ayat-ayat-Nya di seluruh „alam
semesta dan di dalam diri manusia, maka Dia memiliki kehadiran spiritual di
„ālam kejadian. Kalau tidak demikian maka Dia bukan yang ẓāhir dan yang bāṭin.
Karena manifestasi pengetahuannya berbagai-bagai dan memiliki penampakan ẓāhir dan bāṭin, maka di samping transenden dia juga immanen (tashbῑh).Proses penciptaan tidaklah berarti sesuatu diciptakan dari tidak ada
(creatio ex-nihilo), melainkan berasal dari sesuatu yang „ada‟, yang merupakan
suatu wujūd potensial, yang menjadi inti dari segala yang ada, yang disebut ala‟
yān al-tsābitat