Direktorat Jenderal Kebudayaan: BPNB D.I. Yogyakarta
Abstract
Masyarakat Jawa Timur memiliki banyak tradisi yang masih hidup (the living
traditions) dan dimanfaatkan serta dibanggakan oleh para pendukungnya. Tradisi-tradisi
tersebut, antara lain, berupa berbagai bentuk kesenian yang memiliki banyak pewaris,
baik pewaris aktif (active bearers) atau pelaku seni maupun pewaris pasif (passive
bearers) atau penikmat seni. Bentuk kesenian yang masih hidup tersebut secara garis
besar dapat dibagi dua, yakni kesenian agraris, antara lain, tayub, sandur, seblang,
gandrung, dan reog, serta kesenian nonagraris seperti ludruk, wayang orang, kentrung,
topeng, ketoprak, jinggoan, janger, dan lain-lainnya.
Salah satu bentuk kesenian agraris yang sampai sekarang masih hidup dan
memiliki pewaris aktif dan pasif yang cukup banyak di Jawa Timur, bukan hanya di
wilayah kebudayaan Jawa Ponoragan, adalah reog Ponorogo. Sedangkan untuk kesenian
nonagrarisnya adalah sebuah teater rakyat yang disebut ludruk. Kedua bentuk seni
pertunjukan ini memiliki pewaris aktif dan juga pewaris pasif yang tersebar di berbagai
tempat. Namun demikian, sejalan dengan bertumbuhnya produk-produk kebudayaan
global, terutama pop arts, posisi kedua bentuk kesenian tersebut makin lama makin
terjepit. Reog Ponorogo, misalnya, di samping merupakan bentuk kesenian yang unik
juga bentuk kesenian yang terkait dengan ilmu kanuragan atau kekuatan fisik. Mereka
yang tidak memiliki tubuh yang sehat dan kuat tidak akan mampu menyangga barongan
dan dhadhak merak yang cukup berat. Ludruk bisa bertahan karena lakon-lakon yang
dipentaskan sangat aktual dan akrab dengan budaya setempat, berupa legenda, dongeng,
kisah sejarah dan kehidupan sehari-hari yang menggunakan bahasa yang sangat
komunikatif, disertai lawakan yang sangat menghibur