Penyembuhan luka merupakan proses pergantian jaringan yang rusak atau mati oleh jaringan yang baru. Proses ini terdiri
dari tiga fase yang saling tumpang tindih yaitu fase inflamasi, fase proliferasi dan fase maturasi atau remodeling. Biji bunga matahari
mengandung β-sitosterol, flavonoid dan linoleic acid yang mampu memacu proses penyembuhan luka dan sudah dipakai pada
pengobatan tradisional. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh aplikasi topikal minyak biji bunga matahari (Helianthus
Annuus) terhadap proses awal penyembuhan luka.
Penelitian ini menggunakan tiga ekor tikus putih jantan strain Spraque Dawley umur 3 bulan dengan berat badan 200-300
gram dibuat luka eksisi punch biopsy pada kulit punggung 0,5 cm kanan dan kiri dari kolumna vertebralis dan 2,5 cm dari telinga. Luka
eksisi dibagi menjadi dua kelompok, kelompok kontrol yaitu satu luka eksisi pada punggung sebelah kiri selanjutnya tanpa diberi obatobatan dan kelompok perlakuan yaitu satu luka eksisi pada punggung sebelah kanan yang ditetesi minyak biji bunga matahari.Tikus
dibagi menjadi 3 kelompok terdiri dari 1 ekor tikus sesuai periode dekapitasi yaitu hari ke-3, 7 dan 12 setelah perlukaan. Jaringan luka
dibuat preparat histologis untuk mengetahui fase inflamasi pada penyembuhan luka dengan menghitung jumlah sel leukosit PMN.
Hasil penelitian menunjukkan jumlah leukosit PMN hari ke 3 pada kelompok kontrol sejumlah 200 dan pada kelompok minyak
biji bunga matahari sejumlah 153 leukosit PMN, dan terus menurun pada hari ke 7 dan 12. Hasil penelitian membuktikan adanya
perbedaan yang bermakna jumlah leukosit PMN pada setiap periode dekapitasi dan kelompok. Kesimpulan dari penelitian adalah
aplikasi topikal ekstrak minyak biji bunga matahari dapat mempercepat fase inflamasi sehingga penyembuhan luka lebih cepat terjadi.
Kata kunci: penyembuhan luka, Helianthus Annuus, leukosit PM