Outbreak wereng coklat kembali terjadi pada musim tanam 2009 dan berlanjut
hingga saat ini (2011). Akibat serangan wereng coklat, tanaman padi menjadi puso.
Diperkirakan lebih dari 70% arael pertanaman padi di daerah „Segitiga Emas”, yakni
Klaten, Boyolali, dan Sukoharjo gagal panen. Faktor utama penyebab ledakan
populasi adalah tidak berfungsinya musuh alami. Musuh alami wereng coklat
mengalami kematian akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana. Sebenarnya
kematian musuh alami dapat ditekan apabila, musuh alami mempunyai tempat
berlindung dari paparan pestisida dengan cara meningkatkan keragaman habitat dalam
lahan pertanian.
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk melihat pengaruh manipulasi
habitat dalam menjaga keberadaan musuh alami dan kestabilan ekosistem lahan
pertanaman padi. Penelitian dilakukan di dua lokasi yakni lahan padi di daerah Ceper
Kabupaten Klaten dan di Karanganom, Klaten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
populasi wereng coklat selama penelitian relative rendah sehingga tidak menunjukan
gejala kerusakan. Populasi musuh alami cukup tinggi di kedua lokasi percobaan.
Indeks keragaman spesies hasil percobaan di Ceper menunjukkan nilai relative tinggi.
Hasil sementara percobaan kedua (di Karanganom) menunjukkan bahwa lahan
dengan manipulasi habitat memiliki populasi musuh alami dan serangga lain lebih
tinggi daripada lahan tanpa manipulasi habitat