Ketersediaan energi saat ini pada umumnya didominasi oleh bahan bakar
fosil seperti minyak bumi, batubara dan gas. Namun demikian cadangan energi
tersebut terbatas. Oleh karena itu dari itu dibutuhkan energi alternatif, antara lain
bioetanol. Bioetanol dapat digunakan sebagai bahan bakar berkadar 99,5-100%.
Bioetanol dapat diperoleh dengan proses fermentasi. Hasil fermentasi alkohol
hanya menghasilkan etanol dengan kadar 10-16%. Untuk mengantisipasi hal
tersebut maka dibutuhkan cara fermentasi yang lebih efektif lagi salah satu dengan
immobilisasi.Teknik immobilisasi merupakan teknik yang digunakan untuk
menghentikan pergerakan suatu sel guna meningkatkan kinerja dari sel
tersebut.Teknik immobilisasi biasa digunakan pada sel saccharomyces cerevisiae
untuk memproduksi etanol.Medium yang digunakan biasanya adalah kalsium
alginat.Biji salak digunakan untuk menggantikan media kalsium alginat. Biji salak
mempunyai karakteristik keras, berkadar air tinggi dan tidak mudah busuk
sehingga cocok untuk menggantikan kalsium alginat.
Proses immobilisasi dilakukan dengan menginokulasikan sel
Saccharomyces cerevisiae pada biji salak. Biji salak tersebut sudah direndam
dalam larutan media 100 gram/L glukosa dengan nutrient 0,12 gram MgSO4. 7H2O,
1,3 gram NH4Cl, 0,06 gram CaCl2. 2H2O dan 2,5 gram yeast ekstrak yang dilarutkan
dalam 1000 ml aquadest. Biji salak diaduk selama 3 hari agar sel Saccharomyces
cerevisiae dapat tumbuh. Fermentasi alkohol dilakukan dengan 2 cara yaitu menggunakan
sel amobil dan sel bebas. Fermentasi dibagi menjadi 5 variasi kadar glukosa yaitu 10
gram/l, 20 gram/L, 30 gram/L, 50 gram/L dan 70 gram/L. nutrient yang dibutuhkan yaitu
0,12 gram MgSO4. 7H2O, 1,3 gram NH4Cl, 0,06 gram CaCl2. 2H2O dan 2,5 gram yeast
ekstrak yang dilarutkan dalam 1000 ml aquadest. Sampel analisis glukosa diambil setiap
6 jam sekali mulai dari 0 jam (sebelum fermentasi) sampai 48 jam. Sedangkan untuk
analisis kadar etanol, sampel diambil pada waktu 48 jam.
Pengujian hasil fermentasi dilakukan dengan Gas Chromatography (GC)
untuk menentukan banyaknya etanol dan Spektrofotometri untuk analisis glukosa.
Analisis kadar etanol dilakukan pada sampel 30 gram/L, 50 gram/L dan 70
gram/L pada fermentasi alkohol menggunakan sel bebas (A) dan fermentasi
alkohol menggunakan sel amobil (B). Hasil uji etanol menunjukkan bahwa
fermentasi alkohol menggunakan sel amobil (B) memiliki kadar etanol lebih
tinggi dibandingkan dengan fermentasi alkohol menggunakan sel bebas. Sampel
hasil fermentasi alkohol menggunakan sel amobil yang memiliki kadar etanol
paling tinggi adalah 50 gram/L dengan kadar etanol sebesar 1,29%. Pengujian
glukosa berguna untuk mengetahui banyaknya glukosa yang dikonsumsi oleh sel
Saccharomyces cerevisiae . Analisis glukosa dilakukan tiap 6 jam sekali. Hasil uji
glukosa menunjukkan penurunan glukosa yang tidak teratur