Ekosistem Gunung Lawu memiliki potensi diversitas biofarmaka yang tinggi
namun keberadaannya menghadapi ancaman degradasi. Pemberdayaan masyarakat
setempat merupakan kunci keberhasilan upaya biokonservasi. Penyusunan data-base
Valeriana javanica L penting untuk dilakukan melalui penelitian berkelanjutan.
Karakterisasi secara mendalam, baik ekologi, morfologi-molekuler Valeriana javanica L
perlu dilakukan untuk melacak nilai keunggulan serta dasar pembudidayaan dan
pemuliaannya. Selain itu untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya
biokonservasinya perlu dilakukan domestikasi guna peningkatan kualitas dan nilai
ekonominya. Pada penelitian awal diperoleh hasil : Habitat tumbuhan obat di lokasi
survai di ketinggian 1000 mdpl: intensitas cahaya berkisar 71.500-119.400 lux (104,68-
174,81 watt/m
2
) dengan 1 watt/m
2
sebesar 683 lux (Hage, 2009), suhu antara 28-33
o
C,
dan kelembaban udara 21-49%. Intensitas cahaya di ketinggian (2000 m dpl) adalah
11.300-52.000 lux atau 16,54 - 76,13 watt/m
2
, suhu udara (21-28
o
C) dan kelembaban
udara (42-68%). Di ketinggian 1000 m dpl ditemukan 15 spesies tumbuhan, jenis
tumbuhan dengan INP tertinggi valerian (Valerian javanica L.), tekelan (Eupatorium
riparium Reg ), dan purwoceng gunung (Artemisia lactiflora Wall), yang masing-masing
124,05; 27,47; dan 27,40%. Di ketinggian 2000 m dpl ditemukan 10 jenis tumbuhan.
Tiga jenis tumbuhan dengan Indek Nilai Penting (INP) tertinggi berturut-turut adalah
valerian (Valerian javanica L.), ketul (Bidens chinensis Wild.), dan tekelan (Eupatorium
riparium Reg.), masing memiliki INP sebesar 167,08; 34,6; dan 18,48%