Korupsi menjadi sebuah bentuk penyimpangan yang tidak hanya
berlangsung pada ranah kekuasaan untuk mencari keuntungan materi, namun juga
dalam bentuk penyimpangan kepercayaan yang ada pada setiap orang. Gejala
sosial dalam masyarakat seperti inilah yang ditangkap oleh media sebagai wacana
yang dirasa perlu disosialisasikan. Film merupakan salah satu media massa yang
dapat menjadi agen perubahan, yaitu menanamkan mental dan semangat anti
korupsi terhadap generasi muda.
Secara umum, penelitian ini untuk mengetahui bagaimana Film “Kita
Versus Korupsi” merepresentasikan wacana korupsi. Secara khusus, penelitian ini
untuk mengetahui wacana bentuk korupsi, pelaku korupsi dan pendidikan anti
korupsi baik secara internal maupun eksternal.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis
wacana. Teknik pengumpulan data melalui pemilihan beberapa scene yang
menggambarkan bentuk korupsi, pelaku korupsi dan pendidikan anti korupsi
dalam Film “Kita Versus Korupsi”. Setelah itu penulis menganalisis dengan
menggunakan model analisis wacana Halliday dengan menekankan pada pelibat,
medan, dan mode wacana. Penulis melakukan pengamatan terhadap topik yang
muncul dari dialog, visualisasi gambar dan tokoh dalam film pada setiap scene.
Kesimpulan yang dapat diambil dari empat rangkaian cerita dalam Film
“Kita Versus Korupsi” adalah film tersebut menggambarkan praktik-praktik
korupsi yang terjadi di kalangan masyarakat ini sudah membudaya dan menjadi
tradisi, seperti menggunakan jasa calo ataupun memberikan “uang damai kepada
polisi dan menganggap perbuatan itu seperti tindakan yang lumrah dan biasa
terjadi di masyarakat. Korupsi tidak hanya menjadi milik pejabat pemerintah,
tetapi juga sektor swasta, perseorangan bahkan lembaga pendidikan. Pemaknaan
korupsi sendiri tidak harus kepada perilaku pejabat dengan melanggar hukum dan
norma yang merugikan negara hingga miliaran rupiah. Korupsi juga di
asosiasikan kepada perilaku seseorang yang merugikan orang lain meskipun
keuntungan yang dia dapat relatif kecil, misal hanya ribuan rupiah saja.
Selain mengangkat wacana bentuk dan pelaku korupsi yang sering
dijumpai dalam realitas kehidupan masyarakat seperti penyuapan,
penggelembungan dana ataupun penyalahgunaan jabatan, Film “Kita Versus
Korupsi” juga menyajikan pendidikan anti korupsi. Keempat rangkaian film itu
memiliki persamaan yakni pencegahan korupsi harus dimulai dari dalam diri
sendiri dengan mengamalkan nilai-nilai dan prinsip anti korupsi