DAS Keduang mengalami kondisi kritis yang ditunjukkan dengan sering terjadinya
banjir karena adanya tutupan lahan berupa tanaman keras di DAS Keduang hanya
tersisa kurang dari 10% selebihnya menjadi ladang sehinga menyebabkan
berkurangnya resapan air (Alwin Darmawan, 2009). Kejadian banjir yang melanda
wilayah DAS Keduang mengakibatkan kerusakan, salah satunya terjadi pada
Jembatan Keduang. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendapatkan hasil kalibrasi
koefisien C pada debit dan volume terhitung, (2) Mendapatkan hasil perbandingan
debit dan volume yang dihasilkan dari pengukuran dan simulasi perubahan tata guna
lahan, (3) Mendapatkan tata guna lahan yang tepat guna mengurangi debit banjir
DAS Keduang.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Tahapan penelitian yang
dilaksanakan dengan pengumpulan data peta topografi, peta tata guna lahan terakhir,
Automatic Water Level Recorder (AWLR), Automatic Rainfall Recorder (ARR).
Selanjutnya dilakukan analisis data dengan mencari pasangan data AWLR (terukur)
dan ARR pada waktu yang sama. Hasil debit terukur dari data AWLR menggunakan
rumus rating curve dan untuk menghitung debit digunakan metode time area.
Kalibrasi koefisien (C) terukur dan terhitung mempunyai tingkat kesalahan yang
ditetapkan sebesar 10-20%. Selanjutnya dilakukan simulasi dengan tiga alternatif tata
guna lahan. Pemilihan tata guna lahan dari ketiga alternatif dibandingkan dengan
hasil terukur. Nilai debit puncak dan volume air terendah dapat dipilih sebagai tata
guna lahan yang tepat guna mengurangi debit banjir DAS Keduang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien aliran (C) pada tiap-tiap
isochrone yaitu pada isochrone 1, C = 0,60, isochrone 2, C = 0,53, isochrone 3, C =
0,66, isochrone 4, C = 0,51, isochrone 5 = 0,42, isochrone 6 = 0,40. Penurunan hasil
simulasi terhadap debit dan volume terukur pada kejadian 14-15 Februari 2011 adalah
simulasi 1: volume aliran 5,35% dan debit puncak 10,20%. Simulasi 2: volume aliran
12,14% dan debit puncak 14,73%. Simulasi 3: volume aliran 13,99% dan debit
puncak 15,98%. Simulasi 3 dianggap lebih tepat digunakan guna mengurangi banjir
di DAS Keduang karena mempunyai persentase penurunan terendah.
Kata kunci : DAS Keduang, Banjir, Simulasi Tata Guna Laha