Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta kecenderungan
akan kelangkaan minyak tanah menjadikan pemanfaatan sumber energi
alternatif mulai diperhitungkan. Salah satu sumber energi alternatif yang besar
peluangnya untuk dikembangkan pemanfaatannya di Indonesia adalah energi
biogas. Gas ini berasal dari berbagai macam limbah organik seperti sampah
biomassa, kotoran manusia dan kotoran hewan yang dapat dimanfaatkan
menjadi energi melalui proses anaerobic digestion. Pembuatan biogas dari
kotoran hewan, khususnya sapi ini berpotensi sebagai energi alternatif yang
ramah lingkungan, karena selain dapat memanfaatkan limbah ternak, sisa dari
pembuatan biogas yang berupa slurry dapat dimanfaatkan sebagai pupuk
organik yang kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman.
Tabel I.1 Data Populasi Ternak di Eks Karesidenan Surakarta
Wilayah Jumlah ternak sapi (ekor)
Boyolali 159.115
Wonogiri 130.818
Sukoharjo 59.535
Surakarta 67.869
Sragen 77.027
Jumlah 494.364
( Dinas Peternakan Jawa Tengah, 2008 )
Tabel I.1 menunjukkan bahwa sumber bahan baku untuk pembuatan
biogas sangat banyak. Untuk satu ekor sapi rata-rata dapat menghasilkan 20 kg
kotoran per hari yang setara dengan 1-1,2 m
3
. Kotoran sapi paling banyak
dipilih sebab selain mudah didapat juga karena mengandung bakteri penghasil
gas metana yang berguna dalam proses fermentasi. (Sufyandi, A., 2001)
Selama ini pemanfaatan kotoran sapi masih belum optimal. Biasanya
hanya digunakan sebagai pupuk kandang atau bahkan hanya ditimbun sehingga
dapat menimbulkan masalah lingkungan. Padahal kotoran sapi dapat dijadikan
bahan baku untuk menghasilkan energi terbarukan (renewable) dalam bentuk
biogas. Permasalahannya adalah masyarakat belum mampu memanfaatkan
limbah kotoran sapi sebagai penghasil energi alternatif pengganti kayu dan
BBM, karena kegiatan sehari-hari mereka sangat tergantung pada BBM dan
kayu, baik untuk memasak maupun penerangan. Hal ini sangat berdampak
terhadap pendapatan dari masyarakat desa (peternak) itu sendiri.
Dengan demikian pembuatan biodigester merupakan salah satu solusi
untuk mengatasi kesulitan masyarakat akibat kenaikan harga BBM, teknologi
ini bisa segera diaplikasikan, terutama untuk kalangan peternak sapi. Alat ini
dapat menghasilkan biogas dengan mencampurkan kotoran sapi dan air
kemudian disimpan dalam tempat tertutup (anaerob). Kotoran ternak ini akan
diubah dulu menjadi gas oleh bakteri metanogen yang selanjutnya akan
menghasilkan gas dengan kandungan gas metana yang cukup tinggi. Dalam
rumah tangga biogas ini dapat dimanfaatkansebagai bahan bakar untuk
memasak dengan menggunakan kompor gas biasa yang telah dimodifikasi atau
dengan membuat kompor biogas sendiri. Selain itu biogas ini dapat digunakan
sebagai bahan bakar penerangan.
Dalam rangka memenuhi keperluan energi rumah tangga, teknologi
biogas ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menghadapi
kelangkaan minyak dan mahalnya harga bahan bakar di masyarakat