Indis merupakan istilah yang tidak begitu akrab dalam kosa kata historiografi
Indonesia dan memori sosial kolektif orang Indonesia, paling tidak sampai awal tahun 1990-an.
Jikapun ada, istilah ini lebih banyak ditampilkan dalam format aslinya dalam bahasa Belanda
untuk merujuk pada beberapa realitas masa lalu Indonesia seperti Indische Partij, Indische
Vereeniging, Indische Katholike Partij atau Indische Sosial-Demokratische Vereeniging. Secara
sosial, indo adalah terminologi yang lebih sering digunakan baik oleh masyarakat umum maupun
dalam tulisan ilmiah untuk merujuk pada realitas sejarah yang berkaitan dengan kelompok sosial
campuran Asia-Eropa, khususnya campuran antara penduduk lokal dengan orang Belanda.
Dikalangan sejarawan akademis Indonesia, istilah Indis baru lebih dikenal setelah kata itu
digunakan secara tegas oleh Djoko Soekiman dalam disertasi doktornya tentang kebudayaan
Indis (Joost Cote’, Loes Westerbeek, 2004: V-VI).
Indis berasal dari kata Indische, secara harfiah berarti Hindia. Indischgast atau
Indischman, dalam bahasa Belanda berarti orang Belanda yang dulu tinggal lama di Indonesia.
“Hij is Indisch”, berarti dia mempunyai darah Indonesia
(http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/81-005/IESTYLE.pdf diakses pada 29/09/2010).
Sedangkan kebudayaan Indis merupakan hasil akulturasi antara kebudayaan Belanda dan
kebudayaan Jawa sejak abad XVIII sampai medio abad XX. Sejarah terbentuknya budaya Indis
bermula dari kedatangan bangsa Belanda di Indonesia pada abad XVI. Semula, bangsa Belanda
yang hadir di Indonesia bertujuan untuk berdagang. Namun kemudian memonopoli lewat VOC
dan akhirnya menjadi penguasa yang berdaulat sampai datangnya Jepang pada tahun 1942.
Kehadiran bangsa Belanda selama tiga abad lebih di Indonesia tentu memberi pengaruh pada
segala macam aspek kehidupan, salah satunya adalah budaya.
Kehadiran bangsa Belanda yang membawa serta budayanya di Indonesia telah
mempertemukan kebudayaan Belanda dengan kebudayaan pribumi. Dua kebudayaan yang jauh
berbeda itu makin lama makin akrab. Kebudayaan Belanda dan kebudayaan Jawa yang masingmasing
didukung oleh etnik berbeda dan mempunyai struktur sosial yang berbeda pula
bercampur makin mendalam dan erat. Akibatnya, kebudayaan Jawa diperkaya dengan kebudayaan Barat. Lambat laun pengaruh tersebut semakin besar dan mempengaruhi berbagai
bidang dan unsur kebudayaan. Demikian luas pengaruh kebudayaan Belanda sehingga ketujuh
unsur budaya utama yang dimiliki suku Jawa sepenuhnya terpengaruhi. Percampuran gaya Eropa
dan Jawa yang meliputi tujuh unsur universal budaya yang didukung oleh segolongan
masyarakat Indonesia ini yang disebut kebudayaan Indis (Djoko Soekiman, 2000: 21).
Pada masa awal, kebudayaan dan gaya hidup Indis cenderung banyak bercirikan
budaya Belanda. Ini terjadi karena para pendatang bangsa Belanda pada awal kedatangannya ke
Indonesia membawa kebudayaan murni dari negeri Belanda. Para penguasa kolonial yang datang
pada masa awal kekuasaan kompeni terdiri atas orang-orang militer, pedagang dan pejabat
kompeni. Mereka datang tanpa membawa isteri dan anak-anak mereka. Sehingga memungkinkan
terjadinya perkawinan campur dengan penduduk pribumi (Djoko Soekiman, 2000: 35). Bahkan
di kalangan militer, tentara diperkenankan mempunyai “gundik” pribumi yang anak-anaknya
mendapat sebutan khas “anak kolong” (Denys Lombard, 2008: 80). Perkawinan campuran ini,
bagi orang Belanda dianggap telah merendahkan martabat negaranya. Karena itu kawin campur
diatur dalam Beslit Kerajaan tanggal 29 Desember 1896 No 23, S 1898/158 (Regeling op de
Gemengde Huwalijken) yang sering dikenal dengan istilah GHR.
Hasil keturunan perkawinan campuran antara orang-orang Belanda dengan bangsa
pribumi seringkali tidak diakui dalam masyarakat. Hal ini karena anak-anak hasil percampuran
tersebut dalam masyarakat Belanda dianggap telah merendahkan martabat bangsa Belanda.
Sedangkan bagi masyarakat Jawa, anak-anak tersebut merupakan penghianatan terhadap bangsa
pribumi. Sehingga hasil keturunan kawin campur tersebut karena tidak diakui baik sebagai orang
Belanda maupun Jawa, maka kemudian membentuk kelas sosial sendiri dengan gaya hidupnya
yang khas. Perkawinan antar mereka melahirkan masyarakat Indo. Bagi keturunan Indo dan para
priyayi baru, masih tetap menganggap perlu adanya budaya masa lampau yang dibanggakan.
Mereka menganggap perlunya menggunakan budaya Barat demi karir jabatan dan prestisenya
dalam hidup masyarakat kolonial. Menurut Hariyono dalam Judith Schlehe dan Pande Made
Kutanegara (2006: 74) perkawinan campuran hanya dapat terjadi dikalangan orang-orang yang
semangat dan pikirannya tidak terikat oleh sentimen nilai-nilai kesukuan atau sifat etnosentrisme.
Maka tidak mengherankan jika pengaruh Belanda yang sangat besar lambat laun makin
berkurang terutama setelah anak keturunannya dari hasil perkawinan dengan bangsa Jawa
semakin banyak.
Kebudayaan Indis seolah-olah menjadi wujud dari kehidupan tingkat tinggi yang
menunjukkan sifat-sifat agung, sikap aristokratik, arogan, punya hak-hak istimewa, dari
peradaban campuran Indonesia dengan penggunaan beberapa material, teknologi dan modelmodel
elite dari masyarakat Eropa. Bukan laki-laki Eropa atau wanita Indonesia sendiri yang
menciptakan kebudayaan aristokrasi ini. Tapi proses kehidupan sedikit demi sedikit yang lama
kelamaan membentuk suatu image elite yang berasal dari kehidupan rumah tangga tersebut. Jadi
sebenarnya kebudayaan Indis berasal dari orang-orang Eropa petualang yang dulunya kurang
berada dan orang-orang Indonesia yang relatif punya sedikit pendidikan. Namun mereka ini
mempunyai gagasan untuk menyaingi, atau sebisanya meniru, supaya tampak sebagai
masyarakat elite atau golongan orang kaya kelas atas (http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/81-
005/IESTYLE.pdf diakses pada 29/09/2010).
Kebudayaan Indis terus mengalami berbagai perubahan dalam perkembangannya dan
selalu menyesuaikan dengan keadaan. Kebudayaan Indis secara terus menerus menerima
sumbangan dari kebudayaan Indonesia dan Eropa sepanjang waktu. Percampuran kebudayan ini
bisa dilihat misalnya pada pemakaian perabot seperti kursi Eropa, meja dan tempat tidur dengan
bantal, termasuk perlengkapan baru yang disebut guling (dutch wife), yang tidak ada dalam
perlengkapan tempat tidur Eropa, jadi khusus Indis. Kaum lelaki juga melakukan adu jago, main
kartu tapi juga billiard. Wanita Indis memakai sarung, hanya mereka menambahkan overblouse
putih. Laki-laki Indis memakai celana piyama (yang dibuat dari batik) dan baju putih shantung
yang relaks di rumah. (http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/81-005/IESTYLE.pdf diakses pada
29/09/2010).
Pada abad ke 19, pendukung kebudayaan Indis lebih banyak memakai pakaian gaya
Eropa, tetapi dirumah mereka masih memakai sarung dan piyama. Selama beberapa abad
sumbangan baru terus bertambah untuk membentuk kebudayaan Indis, terutama pengaruh dari
barang-barang impor mewah dari Barat yang main banyak didatangkan, perbaikan pengajaran
dan kesempatan bagi keluarga Indis kaya untuk mengirim anak-anaknya kependidikan
universitas di Belanda. Bahasa yang mereka pergunakan sehari-hari antara anggota keluarga dan
hubungan sosial lainnya adalah Indisch Dutch, yang merupakan bentuk bahasa Belanda yang
tercampur dengan kata-kata Indonesia, terutama kata-kata yang berhubungan dengan kebudayaan
dan lingkungan Indonesia (http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/81-005/IESTYLE.pdf diakses
pada 29/09/2010).
Kebudayaan Indis sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa terjalin dalam berbagai
aspek. Salah satu wujud kebudayaan Indis adalah bentuk bangunan atau arsitektur rumah yang
merupakan wujud ketiga dari kebudayaan yang berupa benda-benda hasil karya manusia.
Menarik untuk dipahami bahwa kebudayaan Indis berpangkal pada dua akar kebudayaan, yaitu
Belanda dan Jawa yang sangat jauh berbeda. Pada suku Jawa, tidak dikenal ruang khusus bagi
keluarga dengan pembedaan umur, jenis kelamin, generasi, famili, bahkan di antara anggota dan
bukan anggota penghuni rumah. Fungsi ruang juga tidak dipisahkan atau dibedakan dengan jelas.
Contoh lain yang sangat menarik adalah keselarasan sistem simbolik pada umumnya, khususnya
gaya penghuninya. Betapa canggungnya orang pribumi Jawa yang hidup secara tradisional di
kampung, kemudian pindah untuk bertempat tinggal di dalam rumah gedung di dalam blok atau
kompleks dengan suasana rumah bergaya Barat yang modern. Kelengkapan rumah tangga yang
serba asing, pembagian ruang-ruang di dalam rumah dengan fungsi yang khusus di dalam rumah
dengan fungsi agar privasi terjamin. Semua itu menjadikan makin canggungnya orang pribumi
untuk tinggal di dalam rumah yang asing itu (http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/81-
005/IESTYLE.pdf diakses pada 29/09/2010).
Jelas, tempat tinggal orang Belanda tidak dihubungkan dengan kosmos dan tidak
mempunyai konotasi ritual seperti pandangan dan kepercayaan Jawa. Memang, orang Eropa
mengenal peletakan batu pertama dan pemancangan bendera di atas kemuncak bangunan
rumahnya yang sedang dibangun dengan diikuti pesta minum bir, tetapi hal semacam ini adalah
peninggalan budaya lama mereka. Kegiatan itu adalah gema saja dari adat lama, yang sudah
kabur pengertiannya. Pada orang Jawa menaikkan molo sebuah rumah tinggal dengan selamatan,
melekan (tidur malam), meletakkan secarik kain tolak bala, sajen, dan memilih hari baik,
memiliki arti simbolik tertentu. Bagi orang Jawa meninggalkan adat kebiasaan seperti itu sangat
berat karena adanya paham kepercayaan tentang kekuatan supranatural yang sulit untuk
dijelaskan (http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/81-005/IESTYLE.pdf diakses pada
29/09/2010). Berkaitan dengan hal tersebut, maka dalam penelitian kebudayaan Indis ini lebih
Penulis tekankan pada bangunan Indis.
Bangunan Indis sebagai suatu fenomena historis merupakan hasil karya budaya yang
ditentukan oleh berbagai faktor antara lain faktor politik, sosial, ekonomi, seni budaya dengan
semua interelasinya. Disamping itu dapat pula dianggap sebagai suatu kreativitas karya
kelompok atau segolongan masyarakat pada masa kekuasaan Hindia Belanda dalam menghadapi tantangan alam sekeliling dan kondisi hidup di alam tropis dengan segala jawabannya. Indis
merupakan suatu gaya seni yang memiliki ciri khusus yang tidak ada duanya, yang lahir dalam
penderitaan penjajahan kolonial. Kata indis dapat dijadikan tonggak peringatan yang menandai
suatu babakan zaman pengaruh budaya Eropa (Barat) di Indonesia yang hingga sekarang dengan
deras melanda kebudayaan Indonesia (Djoko Soekiman, 2000: 11-20).
Namun sejak runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda di tangan balatentara Jepang pada
tahun 1942 bangunan gaya Indis terus mengalami penyusutan akibat rusak dimakan zaman,
digusur, atau dirombak. Demikian halnya pendukung kebudayaan gaya Indis yang juga semakin
menipis karena masyarakat tidak menghendaki dan menganggap tidak sesuai lagi dengan
perkembangan zaman. Bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda ke tangan
kekuasaan balatentara Jepang selama tiga setengah tahun telah menghentikan perkembangan
kebudayaan Indis dalam segala bidang. Gaya hidup Indis yang mewah terusik oleh PD II yang
berkecamuk dan melumpuhkan gairah hidup dan membangun rumah. Rumah-rumah gaya Indis
yang semula sebagai tempat tinggal warga dan pejabat penguasa Hindia Belanda dipergunakan
oleh balatentara Jepang untuk markas tentara atau untuk keperluan kemiliteran yang lain
sehingga tidak terpelihara. Awal kemerdekaan, rumah-rumah gaya Indis masih terus berlanjut
tidak terpelihara dengan selayaknya bahkan banyak mengalami penggusuran dan perombakan.
Dengan demikian sangat disayangkan bahwa banyak bangunan rumah bergaya Indis yang
bersejarah dan yang memiliki keindahan dan keagungan tersendiri justru tergusur (Djoko
Soekiman, 2000: 15).
Surakarta, sebagai kota budaya yang tidak lepas pula dari pengaruh kebudayaan Eropa
sudah sepantasnya untuk menjaga dan melestarikan bangunan Indis sebagai salah satu
peninggalan budaya bangsa. Bukan untuk membanggakan arsitektur peninggalan Belanda,
namun seperti kata pujangga Ronggowarsito, “Yen wis kliwat separo abad, jwa kongsi binabad”.
Berdasarkan latar belakang itulah maka penulis merasa tertarik untuk mengkaji bangunanbangunan
bergaya Indis di Surakarta dewasa ini ke dalam sebuah penelitian kualitatif dengan
judul ”Kebudayaan Indis di Surakarta”