Pengaruh penggunaan kulit ari biji mete (anacardium occidentale) dalam ransum Terhadap kecernaan bahan kering Dan bahan organik pada domba Lokal jantan
Kebutuhan daging di Indonesia semakin meningkat seiring dengan
meningkatnya jumlah penduduk. Usaha pengembangan komoditas peternakan
untuk mencukupi kebutuhan daging tersebut salah satunya dapat dicapai dengan
beternak domba lokal. Selain dagingnya banyak digemari oleh masyarakat, domba
lokal juga sangat cocok dipelihara di Indonesia karena memiliki daya adaptasi
yang tinggi terhadap kondisi alam tropis.
Salah satu faktor yang dominan dalam usaha peternakan adalah faktor
pakan karena biaya pakan merupakan biaya produksi yang paling besar diantara
biaya produksi lainnya yaitu sekitar 60 – 70%. Oleh karena itu pemilihan jenis
bahan pakan yang akan digunakan dalam usaha peternakan perlu
dipertimbangkan. Pemberian pakan konsentrat sangat baik untuk menunjang
kebutuhan ternak, akan tetapi harga konsentrat relatif mahal. Untuk itu diperlukan
pakan alternatif agar dapat mengurangi biaya konsentrat. Pakan alternatif yang
dapat digunakan salah satunya adalah kulit ari biji jambu mete yang merupakan
limbah dari industri pengolahan mete.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh serta level yang
optimal penggunaan kulit ari biji mete dalam ransum terhadap kecernaan bahan
kering dan bahan organik domba lokal jantan. Penelitian ini dilaksanakan pada
tanggal 25 September sampai 3 Desember 2007 di kandang percobaan milik
Jurusan/Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Univiesitas Sebelas Maret Surakarta yang terletak di Desa Jatikuwung, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten
Karanganyar dan analisis pakan dilakukan di laboratorium Tekhnologi Pertanian
Universitas Gadjah Mada.
Materi penelitian ini menggunakan domba lokal jantan sebanyak 12 ekor
dengan bobot badan rata-rata 15 kg ± 1,26 kg. Ransum terdiri dari rumput raja,
konsentrat, dan kulit ari biji mete. Rancangan percobaan yang digunakan adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah dengan 4 macam perlakuan (P0, P1,
P2, dan P3), setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari
1 ekor domba lokal jantan. Perlakuan yang diberikan meliputi P0 (70% rumput
raja + 30% konsetrat), P1 (70% rumput raja + 25% konsentrat + 5% kulit ari biji
mete), P2 (70% rumput raja + 20% konsentrat + 10% kulit ari biji mete), dan P3
(70% rumput raja + 15% konsentrat + 15% kulit ari biji mete). Parameter yang
diamati meliputi konsumsi bahan kering, konsumsi bahan organik, kecernaan
bahan kering, dan kecernaan bahan organik.
Dari hasil penelitian didapatkan data masing- masing perlakuan P0, P1, P2,
dan P3 berturut-turut untuk konsumsi bahan kering adalah 664,17; 750,66;
718,17; dan 761,69g/ekor/hari, konsumsi bahan organik adalah 577,66; 640,71;
618,32; dan 655,74 g/ekor/hari, kecernaan bahan kering adalah 70,99%; 72,19%;
71,77%; dan 72,42%, dan kecernaan bahan organik adalah 73,70%; 74,18%;
73,97 dan 74,52%. Hasil Analisis variansi menunjukkan hasil yang berbeda tidak
nyata pada semua perlakuan dan parameter yang diamati. Kesimpulan dari
penelitian adalah penggunaan kulit ari biji mete sampai level 15% dari total
ransum tidak meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik pada
domba lokal jantan.
Kata kunci: domba lokal jantan, konsumsi bahan kering, konsumsi bahan organik,
kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, dan kulit ari biji
mete