Itik merupakan salah satu spesies unggas air yang telah banyak
dibudidayakan. Di Indonesia, ternak itik telah menyatu dengan kehidupan
sehari-hari masyarakat di pedesaan. Ternak itik sangat potensial untuk
memproduksi telur sehingga populasinya tersebar hampir merata di seluruh
wilayah tanah air. Selain itu, itik merupakan salah satu jenis unggas potensial
setelah ayam (Suharno dan Amri, 2000)
Dalam industri perunggasan, penghematan biaya ransum merupakan
tujuan yang harus dicapai agar mendapatkan keuntungan yang maksimal,
karena sebagian besar (60 – 80%) biaya produksi adalah biaya ransum.
Ransum merupakan salah satu kendala yang dirasakan sebagai beban oleh
para peternak dari sistem peternakan intensif (dikandangkan), terutama
penyediaan bahan ransum yang berkualitas dengan kontinuitas yang terjamin.
Ransum yang diberikan oleh peternak biasanya dibuat berdasar usaha
coba-coba sehingga kurang efisien karena ada kemungkinan kandungan
nutriennya kurang mencukupi atau bisa kelebihan. Untuk mendapatkan hasil
yang optimal maka ransum untuk itik harus sesuai dengan kebutuhannya, baik
secara kualitas maupun kuantitasnya.
Nutrien yang berperan besar dalam pertumbuhan organ dan produksi
adalah protein (Sudaryani dan Santoso, 1994). Pemberian ransum dengan kandungan protein yang terlalu rendah akan menurunkan produksi telur dan
kelebihan protein akan diubah sebagai energi sehingga tidak efisien. Menurut
Kamal (1995), pemberian protein yang berlebihan tidak ekonomis sebab
protein yang berlebihan tidak dapat disimpan dalam tubuh, tetapi akan dipecah
dan nitrogennya dikeluarkan lewat ginjal.
Protein yang terdapat pada ransum tidak dapat dicerna seluruhnya oleh
unggas. Kebanyakan bahan yang dipergunakan dalam ransum unggas
mempunyai daya cerna antara 75 – 90 % dan untuk ransum petelur rata-rata
85% (Wahyu, 1992). Untuk mencapai efisiensi ransum diperlukan cara agar
protein yang digunakan dalam ransum dapat dicerna secara optimal sehingga
dapat memberikan pengaruh yang optimal terhadap produktivitas, salah
satunya dengan penambahan probiotik.
Fungsi probiotik adalah membantu proses pencernaan unggas, agar lebih
memudahkan pencernaan dan meningkatkan kapasitas daya cerna sehingga
diperoleh nutrien yang lebih banyak untuk pertumbuhan maupun produksi
(Barraw, 1992 cit. Ramia, 2000)
Berdasarkan pertimbangan di atas maka perlu dilakukan penelitian
untuk mengetahui pengaruh perbedaan tingkat protein dalam ransum dengan
penambahan probiotik terhadap produktivitas itik Indian Runner