Produksi bioetanol meningkat dengan cepat karena merupakan energi terbarukan
untuk mengatasi krisis energi yang disebabkan oleh habisnya minyak fosil. Produksi bioetanol skala besar di industri umumnya
menggunakan bahan baku seperti tebu, jagung, dan ubi kayu yang juga diperlukan sebagai sumber makanan. Oleh karena itu, banyak
studi pada proses bioetanol terkait dengan penggunaan bahan baku yang tidak bersaing dengan pasokan makanan. Salah satu alternatif
bahan baku dapat dimanfaatkan untuk produksi bioetanol adalah bahan berpati yang tersedia secara lokal yaitu iles-iles
(Amorphophallus mueller Blum). Kandungan karbohidrat umbi iles-iles sekitar 71,12% yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan
umbi singkong (83,47%). Pengaruh berbagai bahan awal, konsentrasi pati, pH, waktu fermentasi dipelajari. Konversi dari bahan berpati
menjadi etanol memiliki tiga langkah, pencairan dan sakarifikasi dilakukan dengan α-amilase dan amyloglucosidase kemudian
difermentasi dengan ragi S.cerevisiaie. Bioetanol tertinggi diperoleh pada variabel berikut rasio pati: air = 1:4; likuifaksi dengan 0,40
mL α-amilase (4h); sakarifikasi dengan amyloglucosidase 0,40 mL (40h); fermentasi dengan 10 mL S.cerevisiae (72h) memproduksi
bioetanol 69,81 g/L dari singkong sementara 53,49 g/L dari umbi iles-iles. Pada kondisi optimum, gula total dihasilkan 33.431 g/L dari
ubi kayu sementara 16.175 g/L dari umbi iles-iles. Pengaruh pH menunjukkan bahwa etanol yang dihasilkan terbaik diperoleh pada pH
fermentasi 5,5 baik untuk ubi kayu maupun umbi iles-iles. Hasil studi menunjukkan bahwa umbi iles-iles menjanjikan sebagai bahan
baku bioetanol karena menghasilkan bioetanol hampir sama dengan ubi kayu.
Key words: singkong, iles-iles, etanol, energi alternatif