Dampak aksi-aksi terorisme bagi dunia, termasuk bagi Indonesia masih
terasa. Selain masalah keamanan, aksi teror telah berpengaruh signifikan di bidang
ekonomi terutama perdagangan, pariwisata, dan transportasi udara. Dalam hal ini
tidak dapat dilepaskan pengaruh bom Bali, 12 Oktober 2002 yang masih
menyisakan dampak bagi kehidupan masyarakat Bali khususnya dan Indonesia pada
umumnya. Peristiwa bom Hotel J.W. Marriott, Jakarta, 5 Agustus 2003, telah sekali
lagi menunjukkan adanya keperluan mendesak bagi Indonesia untuk terus
memperkuat kemampuan menghadapi ancaman dan bahaya terorisme yang memang
nyata, sudah melibatkan jaringan unsur dalam dan luar negeri.
Adapun tujuan penelitian yang hendak/ingin dicapai penulis adalah: Untuk
mengetahui bagaimana strategi pertahanan keamanan Indonesia dalam menangani
terorisme, Untuk mengetahui bagaimana kondisi dan stabilitas kawasan ASEAN,
Untuk mengetahui sejauhmana strategi pertahanan keamanan Indonesia dalam
menangani terorisme berpengaruh terhadap stabilitaskeamanan kawasan ASEAN.
Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah deskripsi
yang bertujuan untuk menggambarkan suatu fenomena strategi pertahanan
keamanan Indonesia yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara serta kaitannya
dengan stabilitas keamanan kawasan ASEAN. Berdasarkan teknik pengumpulan
data yaitu studi kepustakaan, yaitu teknik pengumpulan data dengan mencari datadata dari kepustakaan buku, informasi-informasi berdasarkan penelaahan literature
atau referensi baik yang bersumber artikel-artikel, majalah-majalah, surat kabar,
jurnal, bulletin-buletin, internet, maupun catatan-catatan penting mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang diteliti oleh penulis.
Kesimpulan: Politik strategi pertahanan RI adalah jabatan dari geopolitik
pada aspek militer, karena itu mengandung aspek-aspek konsepsi ruang, konsepsi
frontier, konsepsi kekuatan-kekuatan dan konsepsi penciptaan rasa aman dan
keamanan bagi rakyat. Atau dengan kata lain PolitikStrategi Pertahanan RI dapat
didefinisikan sebagai perlawanan rakyat semesta yang disesuaikan dengan
perkembangan situasi globalisasi. Dengan politik pertahanan rakyat semesta
dikaitkan dengan kondisi dan konfigurasi geografis ruang negara, maka strategi
pertahanan yang digelar untuk mewujudkan rasa aman bagi rakyat adalah "stability
in Depth" atau stabilitas berlapis. ASEAN sebagai regional grouping dalam bidang
keamanan (ARF) sudah menjadi pangkuan dari kawasan lain. Karena itu, ASEAN
sebagai pengganda bidang keamanan dapat dijadikan batu penjuru (Corner Stone)
dari politik pertahanan kita. Disamping itu, ASEAN adalah satu kawasan vital bagi
pembangunan dan perkembangan bangsa dan negara Indonesia. Jadi, politik
pertahanan perlawanan rakyat semesta perlu diaktualisasikan dalam teks regional
menjadi perlawanan rakyat semesta regional, sehingga strategi stability indeks
benar-benar dapat terwujud.
Kata kunci : Strategi pertahanan keamanan Indonesia, Terorisme, Stabilitas kawasan ASEA