PENENTUAN KEBIJAKAN PENGIRIMAN
MENGGUNAKAN MODEL PERSEDIAAN
TERINTEGRASI UNTUK PERISHABLE PRODUCT
DALAM RANTAI PASOK MULTI-ESELON
(Studi Kasus di TIKA Bakery)
ABSTRAKSI
Sepanjang persaingan dalam dunia industri semakin kuat, manajemen rantai pasok
menjadi hal yang sangat penting. TIKA Bakery yang secara terus menerus memproduksi roti
selalu berusaha untuk memenuhi permintaan konsumen dengan cepat, murah, dan kualitas
produk yang tetap terjamin. Untuk mencapai tujuan tersebut TIKA Bakery tidak dapat
melakukannya sendiri, melainkan harus bekerja sama dengan pedagang rotinya dan Trijaya
Niaga Distributor selaku supplier tepung terigu. Agar koordinasi dan kerjasama dalam satu
rantai pasok tersebut tidak terjadi perbedaan dan konflik yang merugikan satu sama lain,
diperlukan suatu kebijakan integrasi rantai pasok, dimana dalam penelitian ini adalah
kebijakan dalam hal aliran material. Produk yang dihasilkan TIKA Bakery termasuk
perishable product, oleh karena itu faktor yang berpengaruh terhadap habisnya persediaan
tidak hanya permintaan tetapi juga kerusakan.
Untuk itu diperlukan suatu kebijakan pengiriman untuk mendukung pengelolaan
persediaan roti TIKA Bakery. Hsin Rau, dkk pada tahun 2003 mengembangkan sebuah
model yang menggabungkan tiga konsep, yaitu model persediaan untuk perishable product,
sistem persediaan multi-eselon, dan integrasi rantai pasok.
Dengan menggunakan model tersebut dihasilkan suatu usulan kebijakan pengiriman,
yaitu frekuensi pengiriman bahan baku dari Trijaya Niaga Distributor ke TIKA Bakery
adalah 16 kali pengiriman, frekuensi pengiriman roti dari TIKA Bakery ke pedagang adalah
25 kali pengiriman selama satu bulan. Selain itu kebijakan pengiriman tersebut memberikan
keuntungan, diantaranya yaitu jumlah roti yang kembali ke TIKA Bakery karena rusak
berkurang dari 28% menjadi 3,47%.
ABSTRACT
As the industrial environment becomes more competitive, supply chain management
has become essential. TIKA Bakery which continuously produces bread always tries to fulfil
consumer demand in fast, cheap and well guaranteed products quality. To reach the target
TIKA Bakery cannot do it alone, they have to work on a cooperative basis with TIKA
Bakery’s bread retailers and Trijaya Niaga Distributor as wheat flour supplier. In order to
avoid conflict and difference between one another in cooperation and coordination of supply
chain which can harm one another, they need an integration supply chain policy, which in
this research is policy in the case of material stream. TIKA Bakery’s products included
perishable product, therefore factor that having an effect to the inventory not only the
demand but also the damage.
Because of that, need a delivery policy to support inventory management in TIKA
Bakery. Hsin Rau, et al in 2003 developing a model joining three concepts, there are
inventory model for perishable product, multi-echelon inventory system, and integration
supply chain.
By using the model that result a proposal in delivery policy, those are frequency
delivery of raw material from Trijaya Niaga Distributor to TIKA Bakery is 16 delivery times
and frequency delivery of bread from TIKA Bakery to the retailers is 25 delivery times during
one month. In addition, the delivery policy gives profit, which is the quantity of bread that
return to TIKA Bakery is decrease from 28% to 3,47%