Daun kemuning (Murraya paniculata L.) dan kulit manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan beberapa dari banyak tanaman yang mengandung zat pereduksi yang kuat di dalam tubuh. Rohman dan Riyanto, (2005) meneliti daya antioksidan ekstrak etanol daun kemuning dengan metode DPPH memberikan
nilai IC50 sebesar 126,17 μg/mL dan antioksidan ekstrak kulit manggis dengan pelarut metanol menggunakan metode DPPH memberikan nilai IC50 sebesar 11,117 μg/mL. Tujuan penelitian ini untuk menentukan aktivitas antioksidan dari
ekstrak etanol daun kemuning (M. paniculata, L.) dan kulit manggis (G. mangostana, L.) dengan pembanding vitamin E menggunakan metode Ferri (III) Thiocyanate (FTC) dan 1,1-diphenyl-2-picryl-hydrazyl (DPPH). Penentuan kandungan fenolat total pada ekstrak menggunakan reagen Folin- Ciocalteu dengan standar asam galat dan dihitung sebagai Gallic Acid Equivalent (GAE) sedangkan flavonoid menggunakan alumunium klorida dengan standar quersetin
dan dihitung sebagai Quercetin Equivalent (QE). Ekstrak yang diperoleh ditetapkan senyawa fenol dan flavonoid dengan
spektrofotometri visibel didapatkan masing-masing kadarnya pada daun kemuning sebesar 113,23±2,05 (GAE) dan 205,66±6,79 (QE) pada kulit manggis didapatkan kadarnya sebesar 274,52±15,11 (GAE) dan 396,85±23,26 (QE).
Ekstrak kulit manggis, daun kemuning, dan vitamin E berurutan memiliki aktivitas antioksidan, dengan nilai IC50 sebesar 21,24±1,68 μg/mL, 149,45±16 μg/mL, dan 12,990 μg/mL. Persen penghambatan peroksidasi lipid ekstrak kulit
manggis, daun kemuning dan vitamin E berurutan sebesar 44,505%±5,23, 39,246%±2,69 dan 82,72%. Daun kemuning memiliki kadar fenol dan flavonoid dua kali lebih kecil dari kulit manggis namun nilai IC50 daun kemuning tujuh kali
lebih besar dari kulit, sedangkan dengan metode FTC ekstrak daun kemuning dan kulit manggis tidak berkontribusi besar