Latar Belakang: Kelemahan atau kelumpuhan parsial yang ringan dan tidak
lengkap atau suatu kondisi yang ditandai oleh hilangnya sebagian gerakan atau
gerakan terganggu disebut dengan paraparese. Kelemahan adalah hilangnya
sebagian fungsi otot untuk satu atau lebih kelompok otot yang dapat
menyebabkan gangguan mobilitas bagian yang terkena (Ohorella, 2011).
Rumusan masalah: Apakah ada manfaat penatalaksanaan fisioterapi pada
kondisi paraparese inferior ec post lamictomy dapat mengurangi nyeri,
meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan LGS,dan meningkatkan aktifitas
funngsional.
Tujuan: Untuk mengetahui manfaat penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi
paraparese inferior ec post lamictomy dapat mengurangi nyeri, meningkatkan
kekuatan otot, meningkatkan LGS, dan meningkatkan aktifitas fungsional, dengan
modalitas SWD, dan terapi latihan.
Hasil: Setelah dilakukan terapi sebanyak 6 kali didapatkan hasil penurunan nyeri
diam dari T1 1 cm menjadi 0 cm, nyeri tekan T1 2 cm menjadi 1 cm, dan nyeri
gerak T1 4 cm menjadi 3 cm. meningkatnya LGS pada hip kiri dan trunk,
meningkatnya kekuatan otot pada grup otot otot fleksor, ekstensor, adduktor, dan
abduktor hip sinistra, dan peningkatan aktifitas fungsional pada terapi ke 6.
Kesimpulan: Mekanisme paraparese inferior karena adanya kompresi
intervertebra yang secara progresif dan kemudian mengarah pada terjadinya
perubahan pada daerah perbatasan tulang-tulang vertebra dan ligament. Proses
degenerasi sendiri dimulai dari nucleus, yang menjadi keras dan berkurang
elastisitasnya. Anulus fibrosus menjadi mudah sobek dan menonjol keluar dari
sela vertebra. Sendi apofiseal menjadi sempit, kartilago menipis atau hilang sama
sekali, sehingga sendi menjadi kaku (Caillet, 1978). Problematika fisioterapi yang
dihadapi adalah penurunan kekuatan otot pada kedua tungakai. Dengan
menggunakann modalitas SWD, dan terapi latihan, bermanfaat terhadap
penurunan nyeri, dan peningkatan kekuatan otot, dan meningkatkan serta
mengoptimalkan aktifitas fungsional didapatkan hasil penurunan nyeri,
meningkatnya LGS, meningkatnya kekuatan otot, dan peningkatan aktifitas
fungsional