Selama ini penggunaan dinding pada bidang kontruksi bangunan kebanyakan masih
menggunakan pasangan dinding batu bata, dinding yang terbuat dari batu bata yang
direkatkan satu sama lain dengan mortar ini ternyata memiliki dampak negatif bagi
lingkungan akibat proses produksi batu bata itu sendiri, pembakaran yang terhitung lama
menimbulkan emisi gas karbon yang merugikan bagi lingkungan, disamping itu juga
memiliki banyak kekurangan seperti berat jenis yang tinggi, sifat getas yang tinggi,
pengerjaan yang lama, sehingga penggunaannya tidak sesuai untuk bangunan gedung tinggi
dan bangunan didaerah rawan gempa. Maka dari itu diadakanlah penelitian dinding panel
sebagai alternatif pengganti pasangan dinding batu bata, pada penelitian dinding panel ini
bahan penyusunnya menggunakan tulangan anyaman bambu serta Styrofoam untuk
menggantikan agregat kasar. Penggunaan bahan-bahan tersebut diharapkan menghasilkan
berat jenis yang jauh lebih ringan serta dimensi yang lebih tipis, namun kekuatanya setara
dengan dinding pasangan batu bata. Bambu yang digunakan adalah bambu dari jenis Ori.
Bambu ini diperoleh dari daerah nusukan sedangkan bahan Styrofoam didapat dari limbahlimbah
Styrofoam yang sudah tidak terpakai. Dinding panel yang dibuat terbagi menjadi 3
variasi ketebalan yaitu dengan dimensi 120 x 50 x 8 cm, 120 x 50 x 10 dan 120 x 50 x 12
dengan masing-masing variasi berjumlah 3 benda uji, ketiga variasi dinding panel tersebut
akan dibandingkan dengan dinding pasangan batu bata berdimensi 120 x 50 x 14 cm
sebanyak 3 benda uji. Benda uji silinder beton dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm
dibuat sebanyak 4 benda uji, bambu ori dengan dimensi 0,5 x 2 x 50 cm dipergunakan
sebagai tulangan dinding panel. Perencanaan campuran beton dengan metode perbandingan
yang mengacu pada penelitian terdahulu dengan proporsi 15 % ; 65 % ; 20 % (suarnita,
2005) dengan faktor air semen sebesar 0,4. Pengujian dilaksanakan ketika beton berumur 48
hari. Hasil pengujian kuat lentur pada ketebalan 10 cm pada kondisi Mretak teoritis rata-rata
sebesar 3 kN.mm, pada kondisi Mretak eksperimen rata-rata sebesar 3,124 kN.mm sedangkan
pasangan dinding batu bata pada kondisi Mretak teoritis rata-rata sebesar 2,7 kN.mm dan
kondisi Mretak eksperimen sebesar 3,3 kN.mm dari hasil pengujian diatas selisih antara
dinding panel dan pasangan batu bata kondisi Mretak teoritis sebesar 11 % lebih kuat dari batu
bata sedangkan pada kondisi Mretak eksperimen 6 % lebih lemah dari batu bata