Resiliensi adalah kemampuan atau kapasitas yang dimiliki individu dalam
menghadapi masalah atau situasi yang menekan dalam hidup sehingga dapat
bangkit kembali serta memandang masalah dan penderitaan secara positif serta
merupakan hal yang wajar dalam kehidupan. Kematian pasangan bagi lansia
membuat lansia memerlukan penyesuaian diri guna menjalani masa depan setelah
kematian pasangan. Pada umumnya setelah kematian pasangan lansia akan merasa
kesepian, tidak lagi memiliki teman untuk bertukar pikiran, hilangnya sosok yang
dapat dipercaya dan sebagainya sehingga membuat lansia merasa terasing dari
kehidupan keluarga.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan resiliensi pada lansia yang
ditinggal mati pasangan hidupnya. Informan dalam penelitian ini adalah tiga orang
perempuan lanjut usia berusia enampuluh tahun ke atas, suami yang telah
meninggal maksimal selama 2 tahun, sudah tidak bekerja, dan tidak menikah lagi.
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui
wawancara mendalam dan observasi deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa aspek- aspek yang membangun perilaku resilien pada lansia adalah relatif
sama, meliputi: regulasi emosi, optimisme, empati, efikasi diri, kontrol terhadap
impuls, kemampuan menganalisa masalah, dan pencapaian. Akan tetapi terdapat
perbedaan aspek yang menonjol pada diri masing- masing lansia sehingga setiap
lansia memiliki aspek khas dari dirinya yang akhirnya dapat membentuk perilaku
resilien pada lansia. Selain itu, dapat pula diketahui bahwa faktor pembentuk
perilaku resilien pada lansia antara lain bersumber dari dalam diri sendiri dan
berasal dari dukungan orang terdekat seperti anak dan teman sebaya