Tujuan dari penelitian ini adalah memahami secara mendalam pengelolaan
konflik yang dilakukan orang tua dan remaja dalam menghadapi situasi konflik.
Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Informan
penelitian ini adalah Ayah, Ibu dan Anak yang berasal dari 3 keluarga. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa masalah yang sering memicu konflik orang tuaremaja
adalah masalah bermain, pulang terlambat, dan tidak segera melaksanakan
perintah orang tua. Perilaku anak yang melakukan kesalahan lebih dari satu kali
membuat orang tua merasa marah, jengkel, kecewa, dan frustasi. Perilaku orang
tua ketika marah adalah membentak anak dengan nada keras, mengomel, dan
memberikan hukuman fisik. Orang tua akan menenangkan diri setelah terjadi
konflik dengan anak dengan cara berdiam diri. Orang tua merasa menyesal karena
telah menghukum anak dan anak merasa menyesal karena telah berbuat salah.
Ada kemauan dari pihak orang tua dan pihak anak untuk menyelesaikan konflik
dan hubungan orang tua dan anak kembali membaik. Pengelolaan konflik yang
dilakukan dalam keluarga Jawa termasuk dalam jenis pengelolaan konflik yang
konstruktif. Terdapat 3 tipe pengelolaan konflik yang digunakan dalam
menyelesaikan masalah yaitu; (1) pemecahan masalah positif dengan melakukan
diskusi, (2) keterlibatan konflik yang melibatkan kata-kata kasar dan pemberian
hukuman, dan (3) penarikan diri yang digambarkan dengan menghindari
permasalahan, menghindari pembicaraan, dan menjauhkan diri