Terjadinya krisis ekonomi dihampir seluruh belahan dunia pada
umumnya dan krisis moneter di Indonesia khususnya, adalah merupakan faktor
yang sangat merugikan bahkan sangat sulit bagi dunia industri dalam menentukan
biaya tetap dan biaya variabel perusahaannya. Hal ini disebabkan adanya
perubahan harga yang tidak menentu, bahkan sering terjadinya penyesuaian–
penyesuaian harga yang cenderung lebih mahal dari harga sebelumnya. Kondisi
seperti ini sangat mempengaruhi perubahan biaya energi (listrik, bahan bakar dan
air) dari anggaran energi yang telah ditetapkan di awal tahun anggaran. Perum
Peruri tidak terlepas dari kondisi tersebut. Hal ini disebabkan hampir seluruh
kegiatan produksi dan penunjangnya sangat tergantung ada tidaknya energi listrik
yang menggeraknya dan energi air sebagai penunjangnya.
Penelitian ini dilakukan di Unit Instalasi Pengolahan Air Bersih Perum
Peruri Karawang, di desa Parung Mulya, Karawang yang merupakan Unit yang
bertugas melakukan pengolahan air bersih yang mana Peruri memiliki sarana dan
prasarananya. Didalam melakukan proses bersinambungan dengan semua unsur
biaya yang dikeluarkan, baik biaya tetap maupun biaya variabel (produksi dan non
produksi), untuk menganalisa penentuan Harga Pokok Produk metode yang
digunakan yaitu metode Full Costing. Biaya-biaya yang digunakan yaitu sebagai
berikut : Biaya Pengambilan Air Baku, Biaya Beban Listrik, Biaya Penyusutan
Bangunan & Manara, Biaya Pemeliharaan (Pipa), Biaya Administrasi & Umum,
Biaya Pengujian Kualitas Air, dan Biaya Kendaraan merupakan biaya-biaya yang
mengandung unsur biaya tetap. Sedangkan biaya yang mengandung unsur biaya
variabel adalah Biaya Bahan Penunjang, Biaya Pemakaian Listrik, Biaya Pajak
Penerangan Jalan Umumdan Biaya Pajak Permukaan Air.
Dalam menganalisa penentuan Harga Pokok Produk Air Bersih langkah
yang dilakukan yaitu HPP Awal tahun 2005 (Rp 9.536,70) berdasarkan jumlah
Produksi Air Bersih (149.960m3), HPP dengan meminimalisasikan biaya
pemeliharaan / Depresiasi Pipa (Rp7.755,83) berdasarkan jumlah produksi air
bersih (149.960m3), dan HPP Akhir (Rp 2.426,13) dengan memaksimalkan
jumlah produksi air bersih (622.080m3) serta meminimalisasikan biaya
pemeliharaan. Untuk volume pengambilan air baku ditentukan dari dua kalinya
jumlah produksi air bersih. Setelah itu, melakukan perbandingan dengan PDAM
Jakarta Semester I 2005 (Rp 9.750,00) sebagai harga jual untuk menentukan
Profit yang didapatkan perusahaan.
Analisa Penentuan Harga Pokok Produk Air Bersih ini ditetapkan
kepada pengguna air bersih internal Perum Peruri dan eksternal diantaranya
PT.Sicpa Purindo dan para Kontraktor. Sebelumnya laporan tagihan pemakaian
air bersih yang dilakukan PT. Sicpa didalam perjanjian berdasarkan pada harga
PDAM Jakarta Semester I 2005 (Rp 9.750,00). Peruri tidak melakukan penjualan
air bersih diluar kawasan industri Perum Peruri, dikarenakan perusahan tersebut
merupakan Perusahaan Negara dibidang percetakan Uang & Non Uang