Pernikahan merupakan hubungan yang abadi serta menyatukan dua individu untuk menjalani hidup bersama sebagai pasangan suami istri dengan berbahagia. Dengan keadaan seperti itu seharusnya pernikahan tersebut tidak menjadi hambatan atau kendala bagi tiap orang untuk merasakan kebahagiaan
dalam menghadapi pernikahannya. Tetapi pernikahan tersebut dapat menjadi salah satu sumber kecemasan dan akan menjadi hal yang tidak normal apabila tingkatannya tidak sesuai dengan proporsi ancaman atau menjadi sangat ekstrem.
Namun kecemasan tidak perlu terjadi, apabila individu sudah mempunyai kematangan emosi. Kematangan emosi selalu dikaitkan dengan kedewasaan seseorang, karena orang yang telah memasuki masa dewasa akan mampu mengatasi masalah-masalah dengan cukup baik sehingga menjadi stabil dan
tenang secara emosional, sehingga dalam menghadapi pernikahanpun juga tidak mengalami kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan
emosi dengan kecemasan menghadapi pernikahan pada wanita dewasa awal, tingkat kematangan emosi pada wanita dewasa awal, tingkat kecemasan dalam menghadapi pernikahan pada wanita dewasa awal, seberapa besar sumbangan efektif kematangan emosi terhadap kecemasan dalam menghadapi pernikahan pada wanita dewasa awal. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan negatif antara kematangan emosi dengan kecemasan dalam menghadapi pernikahan pada wanita dewasa awal. Subjek dalam penelitian ini adalah wanita dewasa awal yang akan menikah di Desa Rejosari, dan Mayahan, Kabupaten Grobogan yang berjumlah 35 orang. Tehnik pengambilan sampel menggunakan quota non random sampling. Data dikumpulkan dengan skala kematangan emosi dan kecemasan menghadapi
pernikahan. Analisis data penelitian ini dengan menggunakan korelasi product moment. Dari hasil analisis diperoleh nilai koefisien korelasi (rxy) sebesar –0,397; p = 0,017 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan ada hubungan negatif yang signifikan antara kematangan emosi dengan kecemasan menghadapi pernikahan. Semakin tinggi kematangan emosi maka semakin rendah kecemasan menghadapi pernikahan, begitu sebaliknya semakin rendah kematangan emosi maka semakin
tinggi kecemasan menghadapi pernikahan. Kematangan emosi pada subjek penelitian tergolong sedang, Kecemasan menghadapi pernikahan pada subjek penelitian tergolong sedang