'Universitas Warmadewa - WMBJ - Warmadewa Management and Business Journal'
Abstract
Bambu merupakan sumber yang dapat diperbaharui dan banyak tersedia di
Indonesia. Dari sekitar 1.250 jenis bambu yang sudah dikenal di dunia, 11%-nya
merupakan jenis asli Indonesia. Ini merupakan dasar mengapa tanaman ini
merupakan salah satu nilai kelokalan dari negara kita. Masyarakat Indonesia pun
sudah terbiasa memanfaatkan bambu untuk keperluan hidup sehari-hari; seperti
untuk mebel, konstruksi rumah, peralatan pertanian, kerajinan, alat musik, serta
makanan. Dalam bidang konstruksi, dikarenakan memiliki karakter yang lentur
namun kuat serta mudah dibudidayakan, bambu dipandang sebagai material
alternatif yang tepat untuk pengganti kayu yang ketersediaannya sudah semakin
menipis dan teknologi bambu semen merupakan salah satu aplikasi terhadap potensi
ini.
Teknologi bambu semen sebenarnya sudah mulai dikenal sejak era pendudukan
Belanda di Indonesia, dimana pada komponen dinding penutup terdapat
penggabungan antara adukan sebagai bahan plesteran dengan anyaman bambu
sebagai tulangannya. Ketahan konstruksi bangunan yang menggunakan dinding
bambu semen masih dapat ditemui di Desa Penglipuran Kelurahan Kubu Kabupaten
Bangli sudah berumur 30 tahun dengan kondisi yang masih baik. Dengan adanya
perkembangan teknologi, sudah sewajarnya konstruksi bambu semen akan semakin
meningkat kualitasnya dari waktu ke waktu,sehingga nantinya bambu dapat
dipandang sebagai suatu nilai lokalitas yang berharga, bukan lagi sebagai citra kaum
miskin yang murahan