Dalam era globalisasi saat ini, persaingan industri menjadi sangat ketat
ketika dibukanya pasar bebas dan terlebih lagi diberlakukannya standarisasistandarisasi
kualitas dengan tujuan melindungi konsumen. Hal ini memberikan
kesempatan kepada konsumen untuk memilih produsen yang bisa memenuhi
kriteria-kriteria kualitas yang diinginkan konsumen.
PT. Brodo Ganesha Indonesia merupakan perusahaan manufaktur yang
bergerak dalam bidang industri sepatu. Agar permintaan konsumen dapat
dipenuhi, maka produk yang dihasilkan harus memenuhi standar dan tidak ada
cacat atau kegagalan. Ketidaksesuaian produk yang dihasilkan, seperti adanya
cacat kulit, cacat jahitan, lem, sol tidak rata, dan mata itik (lubang pada sepatu),
sehingga menyebabkan produk tersebut harus di rework bahkan reject. Hal ini
menunjukan bahwa kualitas produk yang dihasilkan masih harus ditingkatkan,
yaitu dengan cara melakukan pengendalian kualitas pada proses produksi agar
produk yang dihasilkan sesuai dengan spsifikasi yang telah ditetapkan
perusahaan. Untuk mengurangi terjadinya ketidaksesuaian tersebut harus
dilakukannya pengendalian kualitas mulai dari bahan baku, proses produksi
sampai produk akhir sehingga dapat diketahui bila terjadinya penyimpangan
dengan cepat dan efektif.
Cacat dominan pada produksi sepatu kulit yaitu cacat lem, cacat jahitan
dan cacat kulit. Maka hal tersebut menunjukan bahwa Critical To Quality (CTQ)
pada PT. Brodo Ganesha Indonesia adalah 3 jenis cacat yang harus dilakukan
tindakan perbaikan agar cacat di perusahaan menurun. Dengan adanya cacat
lem, cacat jahitan dan cacat kulit didapatkan level sigma dengan nilai DPMO
jika dirata-ratakan yaitu 8950 yang berarti bahwa satu juta kesempatan yang ada
akan mendapatkan 8950 kemungkinan terjadinya cacat sehingga besarnya nilai
sigma di PT. Brodo Ganesha Indonesia adalah 3,87 dengan Target menuju 6
Sigma, sehingga perusahaan harus melakukan perbaikan secara kontinu dan
kepedulian manajemen perusahaan terhadap permasalahan kualitas yaitu dengan
cara membuat SOP penjahitan dan pemotongan kulit atau bahan baku,
perancangan SOP maintenance, menunjuk 1 operator untuk dijadikan kepala
regu (foreman) sebagai pengawas di tiap proses produksi, memasang display
SOP pencampuran lem di bagian proses pengeleman, menyediakan alat-alat
pemebersih ruangan dan pendingin ruangan, untuk dapat meningkatkan nilai
Sigma secara bertahap sehingga menjadi 3,4 kemungkinan terjadinya cacat atau
(zero defect).
Kata kunci : Pengendalian Kualitas, DMAIC, 5W+1