Buah sukun mengandung pati yang cukup tinggi dengan keberadaan yang
melimpah di Indonesia serta dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku edible film
yang merupakan solusi untuk mengurangi permasalahan lingkungan. Namun edible
film berbahan pati saja memberikan sifat mekanik dan ketahanan air yang masih
rendah. Pada penelitian ini ditambahkan bahan penstabil yaitu CMC (Carboxy
Methyl Cellulose) dan gliserol sebagai plasticizer. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pati sukun dan tapioka terhadap pembuatan
edible film sebagai pengemas bumbu mie instan. Memanfaatkan dan meningkatkan
nilai ekonomis dari pati sukun, memberikan alternatif baru penggunaan kemasan
yang bersifat biodegradable, menguarangi pencemaran lingkungan oleh kemasan
makanan yang bersifat tidak teruraikan. Rancangan percobaan yang dilakukan
dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan faktorial 3x3
dengan 3 kali pengulangan. Hasil analisis menunjukan bahwa konsentrasi pati
sukun, konsentrasi tapioka dan interaksi keduanya berpengaruh terhadap
karakteristik edibel film. konsentrasi pati sukun berpengaruh nyata terhadap warna,
tekstur, rasa, aroma, dan daya larut air. Konsentrasi tapioka berpengaruh nyata
terhadap warna dan aroma. Interaksi konsentrasi pati sukun dan tapioka
berpengaruh nyata terhadap tekstur dan kadar air. Perlakuan terpilih dari penelitian
utama adalah edible film dengan konsentrasi pati sukun 2 % dan tapioka 3 %.
Dengan kadar air terbaik yaitu 9,65%, Kecepatan larut dengan memiliki waktu 6,10
menit. Serta dapat diketahui bahwa rata-rata kuat tarik dengan rata-rata 85,45841
MPa, dan % elongasi 39,17%.
Kata kunci : Pati sukun, Tapioka, dan Edible Fil