Amirudin Nurjaman, Kajian Metodologi al-Istiqra’ asy-Syatibi dan Relevansinya
dengan Perkembangan Hukum Islam di Indonesia
Potret dalam tesis ini diawali dari latarbelakang masalah bahwa paradigma hukum
Islam selama ini, mengalami kebingungan arah dan kekosongan metodologis. Berangkat dari
permasalahan itu, tesis ini menawarkan sebuah paradigma baru dan mengisi kekosongan
hukum Islam, khususnya hukum keluarga Islam yang pada saat ini mengalami irrelevansi.
Setelah melakukan pencarian, penelusuran, dan pengidentifikasian, paradigma ushul fiqh asy-
Syâtibî dimungkinkan dapat dan mampu mengatasi irrelevansi hukum tersebut yakni dengan
menggunakan metode al-Istiqra’ al-Ma’nawî. Asy-Syâtibî merupakan pemikir ushul fiqh
tradisional yang berpikiran maju, tidak hanya untuk zamannya, tetapi juga untuk era modern.
Kemajuan berpikir asy-Syâtibî bisa dilacak dalam karya magnum opusnya yakni kitab al-
Muwafaqat. Berdasarkan permasalahan tersebut, tesis merumuskan tiga permasalahan yang
harus diangkat yakni : perlu adanya penelusuran konsep metodologi al-Istiqra dalam
paradigma ushûl fiqh asy-Syâtibî, kemudian perlunya merelevansikan konsep metodologi al-
Istiqra dalam paradigma ushûl fiqh asy-Syâtibî dalam hukum keluarga Islam di Indonesia dan
perlu menghasilkan sebuah konsekuensi hukum atas implementasi dari konsep metodologi al-
Istiqra dalam paradigma ushûl fiqh asy-Syâtibî dalam hukum keluarga Islam di Indonesia
sebagai sebuah kepastian hukum.
Seiring dengan munculnya anomali dan krisis dalam hukum Islam, khususnya hukum
keluarga Islam di Indonesia, maka tesis ini sangat penting untuk dicermati. Dasar tujuan dari
tesis ini adalah untuk mengetahui konsep metodologi al-Istiqra’ dalam paradigma ushûl fiqh
asy-Syâtibî, untuk mengetahui sejauh mana relevansi konsep metodologi al-Istiqra’ dalam
paradigma ushûl fiqh asy-Syâtibî dalam memberikan tawaran baru atas perkembangan hukum
keluarga Islam di Indonesia, kemudian untuk meberikan kepastian dan konsekuensi hukum
atas konflik hukum keluarga Islam di Indonesia.
Untuk merealisasikan tujuan-tujuan tersebut tesis ini menggunakan kerangka teori
maslahah. Konsep maslahah dalam paradigma ushul fiqh Abu Ishaq asy-Syâtibî pada abad ke-
8H/14M dalam kitab monumentalnya yakni al-Muwafaqat, dianggap layak dikarenakan
paradigma ini lebih menekankan pentingnya kemampuan seorang mujtahid dalam menangkap
maqashid asy-Syariah sebagai syarat yang tidak boleh ditinggalkan, sebab inilah yang
menjadi tujuan pokok syariat. Sedangkan syarat-syarat lain yang mengacu pada kemampuan
dalam menyimpulkan hukum dari sumber-sumber syariat.
Tesis ini bermaksud mengimplementasikan paradigma baru ushul fiqh asy-Syâtibî
yang memerankan mashlahah dengan menggunakan metode al-Istiqrâ’ al-ma’nawî, yaitu
suatu metode penetapan hukum Islam yang dalam prosedurnya memanfaatkan kolektivitas
dalil dalam berbagai bentuknya, mempertimbangkan indikasi-indikasi keadaan tertentu
(qarâ’in ahwâl) baik berkaitan dengan nash tersebut secara langsung (manqulah) maupun
tidak berkaitan secara langsung (ghairu manqulah), termasuk mempertimbangkan kondisi
sosial dan memerankan akal dalam merespons perkembangan atau perubahan yang terjadi
dalam masyarakat.
Berdasarkan ilustrasi di atas tesis ini sampai pada kesimpulan bahwa tolak-tarik dan
pro-kontra antara otoritas pemerintah dan ulama, dalam persoalan hukum keluaraga Islam
terkait persoalan Rancangan Undang-undang nikah siri, yakni tentang nikah siri, nikah mut’ah
dan poligami, harus segera ditentukan solusi hukumnya. Dengan menggunakan paradigma
ushul fiqh asy-Syâtibî dan metode al-Istiqra’ al-Ma’nawî dapat menguatkan Rancangan
Undang-undang tersebut atas dasar maslahah dan maqashid syari’ah