M. NURRAHMAT :
Industri seks komersial di Indonesia semakin berkembang dan variatif.
Prostitusi dilakukan diberbagai tempat-tempat hiburan, baik itu secara terselubung
maupun terbuka. Sebagai salah satu usaha untuk menekan angka pelacuran di
Kota Cirebon, Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat yang
melaksanakan Program Pelayanan Rehabilitasi Sosial Wanita Tuna Susila,
mendirikan Balai Rehabilitasi Sosial Karya Wanita Palimanan yang terletak di
Jalan KH. Agus Salim No. 107 Palimanan Kab. Cirebon. Idealnya, keberadaan
balai rehabilitasi tersebut mampu mengatasi masalah pelacuran yang ada di kota
Cirebon. Minimal dapat menekan angka pelaku profesi tersebut. Kenyataannya,
setiap tahun angka atau jumlah pelacur di Cirebon semakin bertambah dan
membengkak.
Penelitian ini bertujuan, pertama untuk mengetahui proses pelaksanaan
bimbingan di Balai Rehabilitasi Sosial Karya Wanita, Palimanan Cirebon. Kedua
untuk memahami pola komunikasi pembimbing dengan pasien dalam proses
pembinaan mental (rehabilitasi) di kalangan wanita tuna susila di Balai
Rehabilitasi Karya Wanita Palimanan Kabupaten Cirebon.
Penyusunan skripsi ini berdasarkan pada kerangka pemikiran bahwasanya
Salah satu solusi guna mengatasi dan mengurangi jumlah pelacuran adalah
pelaksanaan program rehabilitasi. Dalam pelaksanaan rehabilitasi pastinya terjadi
proses komunikasi, baik itu antara antara pembimbing dengan pasiennya, antar
sesama pembimbing juga antar sesama pasiennya. Semakin efektif komunikasi
yang dilakukan maka akan berdampak pula pada efektifitas pelaksanaan
rehabilitasi.
Skripsi ini menggunakan metode penelitian Analisis Deskriptif. Penulis
mengumpulkan data-data yang terkait dengan penelitian dari berbagai sumber
seperti, wawancara, melakukan observasi langsung di tempat penelitian dan
dokumentasi.
Hasil penelitian penulis menemukan bahwa rehabilitasi yang dilaksanakan
Balai Rehabilitasi Sosial Karya Wanita Palimanan bertempat di lingkungan balai
dengan jangka waktu selama 4 (empat) bulan. Setiap harinya Klien (sebutan untuk
pasien) memperoleh bimbingan berkaitan dengan bimbingan agama, bimbingan
sosial, latihan keterampilan, pendidikan kesehatan serta pendidikan dan
kesejahteraan pribadi. Adapun pola komunikasi pembimbing dengan pasien dalam
proses bimbingan konseling sosial dalam perspektif komunikasi termasuk dalam
pola komunikasi sirkular