Minyak jahe diketahui memiliki berbagai fungsi dan mempunyai nilai jual
yang cukup tinggi. Permasalahan utama yang dihadapi industri minyak jahe
di Indonesia adalah bahwa minyak jahe dari Indonesia tidak dapat
memenuhi persyaratan karakteristik mutu yang ditentukan pada standar
Internasional yakni putar optik yang bernilai negatif akibat dari rendahnya
kadar zingiberene minyak jahe. Kecilnya komposisi zingiberene pada
minyak jahe Indonesia dikarenakan pada proses destilasi konvensional,
zingiberene mengalami degradasi thermal. Alternatif proses produksi minyak
jahe yang ditawarkan adalah proses produksi minyak jahe menggunakan
teknologi Microwave Assisted Extraction (MAE). Penelitian ini bertujuan
menentukan kondisi optimum proses ekstraksi minyak jahe menggunakan
teknologi MAE. Penelitian dilakukan melalui tahapan yang meliputi
perancangan dan pabrikasi ekstraktor berbasis gelombang mikro, studi
produktivitas, penentuan variabel berpengaruh dan optimasi parameter
proses. Variabel pada penelitian ini meliputi daya, rasio pelarut bahan baku
dan waktu ekstraksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelarut yang
sesuai bagi ekstraksi minyak jahe adalah etanol. Variabel berpengaruh pada
proses ekstraksi minyak jahe menggunakan proses MAE adalah daya dan
rasio pelarut-bahan baku. Hasil terbaik diperoleh pada ekstraksi
menggunakan etanol pada daya 100W dan rasio pelarut-bahan baku 8:1
selama 1 jam. Minyak jahe hasil ekstraksi menggunakan proses MAE
memiliki kadar zingiberene yang lebih besar dari kadar zingiberene yang
dihasilkan dari proses ekstraksi dengan pemanasan konvesional. Namun
demikian kadar zingiberene masih lebih rendah dari minyak jahe komersial.
Nilai putar optik minyak jahe hasil ekstraksi menggunakan proses MAE
masih bernilai positif.
Kata kunci : ekstraksi, MAE, minyak jahe, zingiberen