Jagung merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki nilai yang strategis, terutama sebagai pakan ter nak. Untuk meningkatkan ketersediaan jagung dan menurunkan ketergantungannya terhadap impor, diperlukan upaya penanganan pascapanen yang baik sehingga susut bobot dapat diminimalisir. Tujuan penelitian ini yaitu mempelajari Perubahan sifat fisikokimia yang terjadi pada biji jagung dengan perlakuan kondisi atmosfir termodifikasi setelah dipanen sampai penyimpanan. Perlakuan penyimpanan menggunakan CO 0%, 40% dan 70% serta kontrol (terbuka, tanpa pemberian CO2). Perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali ulangan. Pengamatan dilakukan setiap dua minggu sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian CO pada tiga taraf konsentrasi (0%, 40%, dan 70%) dengan empat waktu penyimpanan (2, 4, 6, dan 8 minggu) mempengaruhi kadar air dan serat kasar biji jagung, tetapi tidak mempengaruhi kadar abu, lemak, protein, dan pati biji jagung. Namun, sebagai faktor tunggal, waktu penyimpanan mempengaruhi kadar abu, lemak, dan rusak fisik sedangkan konsentrasi CO mempengaruhi kadar pati biji jagung. Perubahan kandungan protein pada biji jagung tidak dipengaruhi oleh pemberian CO dan waktu penyimpanan, sebagaimana juga sebagai faktor tunggalnya. Pada penelitian ini, kadar air, abu, lemak, dan serat kasar biji jagung masih memenuhi persyaratan dalam SNI biji jagung untuk pakan ternak (SNI 01-4483-1998), tetapi kandungan proteinnya masih cukup rendah (dibawah 7,5%) dan belum memenuhi persyaratan standar. Kadar protein yang masih rendah ini diduga disebabkan oleh rendahnya kadar protein pada awal penyimpanan, yaitu 5,90%. Berdasarkan pada sifat fisik dan kimia biji jagung yang diperoleh pada penelitian ini, penyimpanan dengan CO dapat direkomendasikan untuk diaplikasikan pada biji jagung selama penyimpanan karena mampu mempertahankan komposisi nutrisi biji jagung, bila dibandingkan dengan biji jagung yang tidak mendapat perlakuan pemberian CO