research

Koefisien Tanaman Padi Sawah pada Sistem Irigasi Hemat Air

Abstract

Irigasi padi sawah dengan sistem tradisional merupakan sistem irigasi yang boros air, hampir 80 % sumber air yang ada untuk irigasi. Hal ini tidak terlepas dari perhitungan kebutuhan air tanaman dengan nilai koefisien tanaman (k) menurut Standar Perencanaan Irigasi (Prosida) selalu lebih besar dari satu mulai dari tanam hingga menjelang panen.Dalam penelitian ini beberapa metoda budidaya padi hemat air seperti alternate wetting and drying (AWD), shallow water depth with wetting and drying (SWD), semi-dry cultivation (SDC), AWD dengan mulsa (AWD-Mul) dan system of rice intensification (SRI) diterapkan di lahan percobaan (pot). Jumlah dan kapan air irigasi harus diberikan tergantung pada besarnya laju penguapan, kelembaban tanah dan sistem irigasi hemat air yang digunakan. Untuk itu penimbangan pot dilakukan setiap hari sebelum dan sesudah pemberian air irigasi. Selanjutnya k dihitung berdasarkan ratio antara evapotranspirasi tanaman (aktual) dengan evapotranspirasi acuan yang dihitung dengan metoda Penman-Montheit berdasarkan data klimat yang tersedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal tanam hingga fase pertumbuhan vegetatif (hingga 45 hari setelah tanam) koefisien tanaman k sistem irigasi hemat air hampir setengahnya cdari nilai k (Prosida). Sebaliknya pada fase produktif nilai k metoda sistem irigasi hemat air hampir sama (AWD dan SDC) atau lebih besar (SRI, SWD) dari nilai k (Prosida). Berdasarkan nilai k , maka sistem pemberian air AWD dan SDC dapat menghemat air jauh lebih besar dibandingkan dengan metoda SRI dan SWD, penghematan air dapatditingkatkan apabila sistem AWD dikombinasikan dengan mulsa

    Similar works

    Full text

    thumbnail-image

    Available Versions

    Last time updated on 18/10/2017