Dalam pelaksanaan proyek konstruksi sering muncul kendala, apabila tujuan proyek tidak tercapai sebagaimana mestinya. Permasalahan ini apabila tidak dikelola dengan baik maka akan menjadi konflik atau perselisihan antara unsur-unsur yang terlibat dalam pelaksanaan proyek. Banyak faktor yang dapat menimbulkan konflik, diantaranya adalah faktor owner, faktor konsultan, faktor kontraktor, faktor kontrak dan spesifikasi, faktor sumber daya manusia, dan faktor kondisi proyek. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya konflik pada proyek konstruksi di Kabupaten Pidie Jaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor serta faktor dominan yang dapat menyebabkan terjadinya konflik pada proyek konstruksi di Kabupaten Pidie Jaya. Proyek yang diamati adalah proyek konstruksi yang telah selesai dilaksanakan mulai dari tahun 2011-2016. Ruang lingkup penelitian ini meliputi pengumpulan data dengan cara penyebaran kuesioner kepada 47 perusahaan K1 (34 perusahaan), K2 (9 perusahaan), K3 (1 perusahaan) dan M1 (3 perusahaan). Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner sebagai instrument dalam penelitian. Dalam pengolahan data, penelitian ini menggunakan analisis validitas, analisis reliabilitas, dan analisis frekuensi index (FI). Berdasarkan hasil penelitian terhadap 53 (lima puluh tiga) faktor yang menyebabkan terjadinya konflik, maka ditemukanlah 11 faktor yang paling dominan atau sangat sering diantaranya: kegagalan menanggapi permasalahan dengan tepat waktu (FI = 0,89); tidak jelas dan tidak lengkap diskripsi kegiatan dalam Bill of Quantity (BQ) (FI = 0,89); kontraktor tidak membaca dan memahami dokumen-dokumen dengan baik (FI = 0,85); perubahan kondisi pasar (FI = 0,85); kegagalan untuk menunjuk seorang manajer proyek (FI = 0,83); ruang lingkup yang kurang jelas (FI = 0,83); kurang memahami kesepakatan yang ada dalam proyek (FI = 0,82); produktivitas yang rendah (FI = 0,82); adanya konflik kepentingan (FI = 0,82); kurang komunikasi antar anggota tim (FI = 0,81); memulai pekerjaan pelaksanaan proyek sebelum dokumen pelaksanaan (kontrak) selesai diproses (FI = 0,81) Dari keseluruhan kategori, faktor yang sangat sering menyebabkan terjadinya konflik ialah faktor kondisi proyek.Kata kunci: faktor, konflik, manajemen konflik, proyek konstruks