Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Abstract
Sikap toleran terhadap eksistensi agama lain dan juga pemeluknya tampak menjadi keniscayaan etika-sosial
kontemporer dalam masyarakat yang plural. Sekalipun demikian, realitas tersebut tidak serta-merta dapat
diartikan menuntut pula keniscayaan adanya doktrin teologis yang membenarkan semua agama sebagai entitas
sejajar dan sama-sama valid untuk mencapai keselamatan eskatologis guna menopangnya. Secara garis besar,
terdapat dua model sikap teologis di kalangan muslim yang mungkin timbul berkenaan dengan pemikiran
tentang ada atau tidaknya keselamatan di luar Islām, yakni: (1) menolak atau tidak menerima adanya
keselamatan eskatologis bagi non-muslim; (2) menerima adanya keselamatan eskatologis bagi non-muslim.
Mayoritas umat Islām memang lebih cenderung berpihak kepada (menerima) pendapat yang melihat bahwa
agama Islām merupakan jalan eksklusif (satu-satunya) guna meraih keselamatan eskatologis. Tetapi mainstream
tersebut bukanlah realitas yang bisa dijadikan alasan untuk menutupi kenyataan bahwa dua kemungkinan
pandangan di atas ternyata sama-sama eksis dalam khazanah pemikiran Islām bahkan masih terus hidup
mewarnai pemahaman teologis umat Islām hingga dewasa ini