Keberadaan klaster usaha dapat memperkuat ketahanan ekonomi wilayah yang
umumnya mengandalkan potensi wilayah yang ada. Tahun 2006 sektor industri dan perdagangan
didominasi oleh UMKM sebesar 99% dan kurang lebih 30% populasi UMKM di Indonesia berada di
Jawa Tengah. Salah satunya Kabupaten Klaten yang dikenal dengan dominasi aktivitas industri
kecil. Produk unggulan di Kabupaten Klaten tahun 2013 salah satunya klaster industri batik
(Disperindag, 2013). Klaster batik merupakan salah satu industri kecil yang telah menjadi
komoditas ekonomi utama di Kecamatan Bayat Kabupaten Klaten. Batik telah menjadi sumber
lapangan pekerjaan bagi sebagian besar masyarakat Kecamatan Bayat. Batik sebagai
pengembangan ekonomi lokal mampu menciptakan adanya keterkaitan antar pelaku usaha seperti
pengrajin batik, supplier bahan baku, dan buyer. Keterkaitan ini tentunya akan berdampak pada
ketergantungan usaha. Ketergantungan pengrajin batik pada supplier bahan baku dan buyer dapat
sewaktu-waktu menjadi bom waktu bagi pengusaha/pengrajin batik. Selain itu dalam
perkembangannya terdapat kendala dalam pengembangan klaster tersebut seperti permasalahan
pemasaran dan promosi. Kurangnya promosi dan pemasaran yang luas mengakibatkan
banyaknya pengusaha/pengrajin batik yang hanya mengandalkan showroom dan koperasi.
Lemahnya saling percaya antar pengusaha/pengrajin batik dalam sharing infromasi yang juga
menjadi kendala dalam pengembangan klaster. Kurangnya peran pemerintah terkait aliran
produksi seperti permodalan, pemasaran, dan sharing informasi merupakan salah satu kendala
dalam pengembangan klaster industri batik. Kendala-kendala aktivitas tersebut menyebabkan
keterkaitan aktivitas ekonomi, sosial, horizontal dan vertikal terganggu. Hal ini tentunya akan
mengganggu keberlanjutan klaster industri batik di Kabupaten Klaten