Desa Wonosari, Kecamatan Patebon, Kendal merupakan salah satu desa yang warganya
kebanyakan berprofesi sebagai nelayan dan juga pembudidaya kepiting bakau. Selama ini,
untuk membudidayakan kepiting bakau biasanya para petambak menggunakan benih hasil
tangkapan liar. Diduga, kepiting bakau hasil tangkapan tersebut sebelumnya sudah
terinfestasi penyakit dan parasit yang mengakibatkan para pembudidaya setempat sering
mengalami kegagalan panen. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui gejala klinis
kepiting bakau yang terserang ektoparasit (2) jenis ektoparasit yang menyerang kepiting
bakau dan (3) tingkat intensitas, prevalensi dan dominasi ektoparasit. Metode yang
digunakan adalah metode survei dengan menggunakan data primer dan data sekunder.Data
primer didapatkan dari pengamatan di Laboratorium dan data sekunder didapatkan dari
hasil wawancara. Materi yang digunakan yaitu 100 ekor kepiting bakau yang di ambil
secara acak dari perairan desa Wonosari, Kendal. Pengamatan ektoparasit dilakukan
dengan mengambil smear pada organ target (karapaks, kaki renang, kaki jalan, capit dan
insang) untuk selanjutnya diamati dibawah mikroskop. Ektoparasit yang ditemukan
kemudian diidentifikasi berdasarkan buku Kabata (1985), Willam dan Jones (1994) dan
Mcdermott et al. (2010). Hasil penelitian diperoleh bahwa 68 % sampeltelah terinfestasi
ektoparasit. Jenis ektoparasit yang telah ditemukan adalah Octolasmisangulata, Octolasmis
cor, larva cyprid Octolasmis, Vorticella sp., Carchesium sp., Epistylis sp., Zoothamnium
sp., Acineta sp., Aspidisca sp., Nematoda., Vaginicolidae dan Platyhelminthes.Gejala klinis
yang ditimbulkan pada S. serrata yang terinfestasi oleh ektoparasit adalah adanya struktur
seperti kecambah (Octolasmis sp.) pada bagian insang, bagian insang berwarna hitam,
terjadi kerusakan pada bagian karapaks dan munculnya serabut tipis seperti lumut yang
berwarna coklat keabuan pada karapaks. Berdasarkan analisis data diketahui bahwa
ektoparasit Carchesium sp. mempunyai nilai Intensitas (159), prevalensi (60%) dan
dominasi (71,1%) tertinggi. Sedangkan, nilai Intensitas (1), prevalensi (2%) dan dominasi
(0,01%) terendah dimiliki Platyhelminthes