Latar belakang: Tuba Eustachius merupakan saluran yang menghubungkan
telinga tengah dengan nasofaring. Gangguan fungsi tuba eustachius didefinisikan
sebagai terganggunya ventilasi dari tuba eustachius yang ditandai dengan adanya
gejala-gejala dan tanda-tanda disregulasi tekanan di telinga tengah. Penyebab
gangguan fungsi tuba eustachius bermacam-macam, dan salah satunya adalah
merokok.
Tujuan: Mengetahui pengaruh derajat merokok terhadap fungsi tuba eustachius
pada perokok aktif. dan menganalisis perbedaan fungsi tuba eustachius pada
perokok aktif derajat ringan, dan perokok aktif derajat sedang-berat.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain cross-sectional.
Sampel merupakan laki-laki perokok aktif di lingkungan Undip, Tembalang, Kota
Semarang yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu perokok derajat ringan (indeks
brinkman <200) dan derajat sedang-berat (indeks brinkman ≥200). Pemeriksaan
fungsi tuba eustachius dilakukan dengan menggunakan alat timpanometri.
Dilakukan pengukuran puncak timpanogram (P1), puncak timpanogram dengan
induksi perasat toynbee (P2) dan perasat valsava (P3). Perokok aktif dikatakan
mengalami gangguan fungsi tuba eustachius apabila P1-P2<10daPa atau Pmax-
Pmin<15daPa pada satu atau kedua telinga. Analisis statistik uji fishers exact
digunakan untuk menilai perbedaan fungsi tuba eustachius pada perokok derajat
ringan dan perokok derajat sedang-berat.
Hasil: Didapatkan sampel 75 perokok aktif, 69(92%) perokok derajat ringan dan
6(8%) perokok derajat sedang-berat. Insidensi gangguan fungsi tuba eustachius
pada perokok aktif sebesar 74,7%. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada
hasil analisis fungsi tuba eustachius perokok derajat ringan dan perokok derajat
sedang-berat (p>0,05).
Simpulan: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perokok
aktif derajat ringan dengan perokok aktif derajat sedang-berat terhadap gangguan
fungsi tuba eustachius
Kata kunci: Derajat merokok, gangguan fungsi tuba eustachius