Penelitian untuk mengkaji pengaruh interaksi antara penambahan bentonit
dan lama penyimpanan terhadap perubahan karakteristik mutu fisik organoleptik
pellet limbah penetasan. Penelitian telah dilakukan di Laboratorium Teknologi
Pakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro dari bulan
Oktober – Desember 2016.
Materi penelitian adalah limbah penetasan yang terdiri atas 10% Day Old
Chick (DOC) afkir, 30% cangkang telur, 60% telur gagal menetas, 10% onggok
dan 0 dan 3% bentonit. Pembuatan pellet mengacu pada metode yang dilakukan
Sulistiyanto dkk. (2016a). Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan
acak lengkap pola faktorial dengan perlakuan level penambahan bentonit (0 dan
3%) sebagai faktor pertama dan perlakuan lama penyimpanan 4, 8 dan 12 minggu
sebagai faktor kedua. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Parameter yang
diamati adalah mutu fisik (durabilitas dan hardness pellet) dan mutu organoleptik
(tekstur, warna, bau dan jumlah pellet pecah). Data dianalisis menggunakan
Analisis Ragam (Analysis of Variance / ANOVA) untuk mengetahui pengaruh
perlakuan terhadap parameter. Apabila terdapat pengaruh perlakuan, maka
dilakukan uji lanjut yaitu Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui
perbedaan antar perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi antara
level penambahan bentonit dan lama penyimpanan terhadap mutu fisik
organoleptik pellet limbah penetasan. Penambahan bentonit berpengaruh nyata
(p<0,05) menurunkan nilai hardness pellet namun meningkatkan skor bau pellet
limbah penetasan. Lama penyimpanan berpengaruh nyata meningkatkan (p<0,05)
skor tekstur, warna, bau dan jumlah pellet pecah pada pellet limbah penetasan.
Nilai durabilitas (Pellet Durability Indeks / PDI) dan hardness pellet selama
penyimpanan tergolong tinggi (>90% dan >5 kg/cm).
Disimpulkan bahwa penambahan bentonit dan lama penyimpanan tidak
berperan dalam perubahan mutu fisik organoleptik pellet limbah penetasan selama
penyimpanan 12 minggu. Penambahan bentonit mampu mengurangi bau busuk
dari limbah penetasan dan menurunkan kekerasan (hardness) pellet. Kualitas pellet
yang dilihat dari skor tekstur, warna, bau dan jumlah pellet pecah meningkat
dengan lama waktu penyimpanan. Secara umum, mutu fisik organoleptik pellet
limbah penetasan dapat dipertahankan dan tidak mengalami penyimpangan selama
penyimpanan 12 minggu