In Kindergarten up to Secondary Schools as the first formal institution, the role of
teacher in teaching Javanese language for young learner is very important. Mostly, the
teachers of Kindergarten in the big city focus on teaching English in language learning
process. The students should be able to imitate teachers in use of English as an
international language. Therefore, they might be not mastery and fluent even not
familiar to their mother tongue, Javanese language. This can be one of the mistakes of
language teaching at Kindergarten if the fact is still worse, as well as the mistake of the
parents’ habit at home. The aim of this paper is to find out how the teacher’s role of
Javanese language maintenence among Kindergarten students in RA Al-Muna
Semarang and to compare whether the students are able to speak fluently in Javanese
language or english in communication. This paper uses qualitative approach and
observation is one of the data collecting technique.
Di TK sebagai lembaga formal pertama hingga Sekolah Menengah, peran guru
dalam mengajar bahasa Jawa untuk pelajar usia muda sangatlah penting. Kebanyakan,
para guru TK di kota besar fokus pada pengajaran bahasa Inggris dalam proses
pembelajaran bahasa. Para siswa harus dapat meniru guru dalam penggunaan bahasa
Inggris sebagai bahasa internasional. Oleh karena itu, mereka mungkin tidak fasih
bahkan tidak akrab dengan bahasa ibu mereka yakni bahasa Jawa. Ini bisa menjadi
salah satu kesalahan pengajaran bahasa di TK jika kenyataannya masih buruk,
sebagaimana kesalahan kebiasaan orang tua di rumah. Tujuan dari tulisan ini adalah
untuk mengetahui bagaimana peran guru dalam memelihara bahasa Jawa di kalangan
siswa TK di RA Al-Muna Semarang dan membandingkan apakah siswa dapat berbicara
dengan lancar dalam bahasa Jawa atau bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Makalah
ini menggunakan pendekatan kualitatif dan observasi merupakan salah satu teknik
pengumpulan data