Bahasa ibu di daerah tertinggal memperlihatkan tingkat kebertahanan yang berbeda.
Misalnya, bahasa ibu di daerah pedalaman Papua (bahasa Athokhin di Kabupaten Asmat)
berbeda tingkat kebertahanannya dengan bahasa ibu di Pulau Dai (bahasa Dai di
Kabupaten Maluku Barat Daya) dan bahasa Enggano di Pulau Enggano, Bengkulu. Tingkat
kebertahanan ketiga bahasa itu dipengaruhi oleh, antara lain, latar belakang sejarah,
letak daerahnya, dan keberagaman bahasa Bahasa Athokhin adalah bahasa yang dituturkan
oleh salah satu suku di Distrik Pantai Kaswari dan termasuk bahasa yang tidak akan
bertahan lama karena masyarakatnya, khususnya generasi mudanya sudah tidak dapat lagi
berbahasa itu. Di samping itu, menurut penuturan masyarakat setempat, penutur bahasa itu
selalu diburu suku lain sehingga mereka takut menggunakan bahasanya. Sebaliknya,
penutur bahasa Dai adalah penutur yang setia kepada bahasanya. Mereka sehari-hari
menggunakan bahasa tersebut, termasuk generasi mudanya. Selain itu, daerah mereka sulit
dijangkau penutur bahasa lain sehinga tidak terjadi kontak bahasa. Bahasa Enggano juga
mengalami penurunan pemertahanan (sama dengan bahasa Athokhin) karena generasi
mudanya banyak yang tidak berbahasa Enggano sehari-hari karena pengaruh mobilisasi
penduduk dan pendatang