Kereta api merupakan transportasi yang menghasilkan tingkat kebisingan yang tinggi. Personel kabin sebagai orang yang pekerjaannya mengendarai kereta api akan selalu terpapar kebisingan serta memiliki peluang lebih besar mengalami stres kerja akibat kebisingan yang akan berpengaruh pada performa kerjanya sehingga dapat membahayakan penumpang maupun terjadinya kecelakaan kereta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak tingkat kebisingan dengan stres kerja personel kabin KA Kaligung Loko CC 201 DAOP IV Semarang. Tingkat kebisingan diukur menggunakan Noise Dosimeter dan stres kerja diukur menggunakan kuesioner DASS 21. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan program SPSS dengan metode chi square.
Responden yang diambil merupakan masinis KA Kaligung Loko CC 201 sebanyak 30 orang dan sebagai pembanding diambil 30 orang pekerja Stasiun Poncol sebagai variabel kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan antara kenaikan tingkat stres kerja dengan kebisingan (sig. ,000). Berdasarkan sampling kebisingan dengan metode case control selama 3 hari pada kabin masinis KA Kaligung Loko CC 201 menghasilkan nilai kebisingan diatas ambang batas selama 4 jam 47 menit sebesar 87 dBA yaitu masing masing 88 dBA, 93 dBA, dan 90 dBA. Tingkat kebisingan stasiun sebagai kontrol adalah 74,78 dBA dan hasil tersebut berada dibawah nilai ambang batas kebisingan selama 8 jam yaitu 85 dBA. Sementara rata rata kenaikan stres kerja pada personel kabin adalah 3,6 point. Sedangkan rata rata penurunan stres kerja pada pekerja stasiun adalah 3.3 point. Dari 30 orang personel kabin terdapat 26 responden mengalami kenaikan tingkat stres kerja, 3 orang responden mengalami penurunan tingkat stres kerja dan 1 orang responden memiliki tingkat stres yang tetap.
Kata kunci :Personel Kabin, Tingkat Kebisingan, Stres Kerj