Di tengah maraknya isu tentang bahasa ibu yang terancam (sebagian telah) punah, kita
dituntut untuk sigap mengantisipasi ancaman tersebut. Berbagai upaya penyelamatan dan
pemertahanan bahasa Ibu ditawarkan dan dikemukakan oleh pakar-pakar bahasa dan
sastra dalam rangka menyikapi hal itu. Dalam kaitannya dengan upaya pemertahanan
bahasa ibu, tulisan ini bermaksud mengemukakan salah satu upaya pemertahanan bahasa
ibu melalui penafsiran lagu Wulele Sanggula dengan memanfaatkan kajian Hermeneutik
Ricoeur. Lagu Wulele Sanggula merupakan salah satu lagu daerah di Kendari yang
digemari oleh anak-anak muda. Lagu ini sering menjadi lagu pilihan bagi beberapa
kalangan ketika membawakan lagu daerah. Ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam lirik
lagu tersebut memberikan dasar pemahaman dalam bahasa daerah yang penting sebagai
penguat identitas diri. Lagu Wulele Sanggula dapat berfungsi sebagai penggugah rasa
kedaerahan seseorang yang menyanyikan atau pun mendengarkan lagu tersebut. Dalam hal
ini, lagu tersebut mengenalkan dan mengajarkan masyarakat penuturnya untuk
menggunakan dan memahami bahasa ibunya sebagai pilar jati diri yang harus
dipertahankan agar tetap kokoh